Ibrah  

Ibu dan Al-Quran

Dr. Radea Juli A. Hambali, M.Hum., Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

KABARINDAH.COM- Ini ramadhan pertama tanpa kehadiran ibu. Berasa ada yang kurang dan tentu saja kehilangan. Lalu tiba-tiba kenangan membayang di kepala. Sejumlah ingatan di benak mendesak-desak untuk dihadirkan ulang. Tentang cara ibu menjalani puasa. Tentang cara ibu mengisi, menggenapkan dan memuliakan bulan ini.

Kenangan dan ingatan itu adalah tentang bagaimana ibu memanfaatkan ramadhan untuk tadarus al-Qur’an setiap hari. Duduk di kasur atau di kursi roda, ibu tak lepas dari al-Qur’an. Suaranya yang terbata-bata, badannya yang agak membungkuk dan jari telunjuknya yang keriput memandu adalah orkestra indah yang tak mungkin saya lupa.

Baca Juga:  Ibu, Sang Guru Kehidupan Penuh Kasih dan Sayang

Sosok yang Lekat

Di mata saya, Ibu dan al-Quran adalah dua “sosok” yang lekat. Jika saya senang berlama-lama pegang handphone, ibu lebih kerasan memanfaatkan waktu untuk membaca al-Quran. Jika saya lebih banyak “beraktivitas” di atas kasur untuk tidur selama ramadhan, ibu lebih suka menyibukkan diri untuk bergerilya membuka al-Qur’an lembar demi lembar untuk dibaca.

Khatam al-Quran? Ibu sudah berkali-kali melakukannya. Sementara saya? Duh…!

Tak hanya di bulan ramadhan, di bulan-bulan biasa pun, ibu selalu mempertontonkan kebiasaan bajik ini. Setiap pagi juga menjelang adzan maghrib Ibu rutin melakukannya. Bahkan jauh sebelum ia sakit, setelah pungkas menunaikan sholat magrib bersama bapak (allahumagfirlahu warhamhu) tak pernah terlewatkan untuk membaca al-Qur’an.

Baca Juga:  Anjuran Mengucapkan Assalamualaikum dan Menjawabnya Menurut Islam

Terutama di bulan ramadhan, bersama ibu-ibu jamaah pengajian, ibu bisa jadi panglima yang mengkomandoi tadarusan al-Quran di mesjid kecil dekat rumah. Waktunya selalu tetap, seusai sholat dzuhur hingga waktu sholat Ashar tiba.

Teladan yang Menginspirasi

Ketika masih kuat dan sehat suara ibu jika sedang membaca al-Qur’an bisa lantang kedengaran. Tapi setelah tubuhnya mulai renta dan jarang berkata-kata hanya bibirnya saja yang bergerak komat-kamit dan telunjuknya yang ringkih “memapah” bacaannya.

Jangankan mencontoh Muhammad Saw, meniru kebiasaan ibu membaca al-Qur’an pun saya sempoyongan. Jangankan meneladani Rasulullah, beruswah pada laku baik ibu pun saya selalu gagal melakukannya.

Semoga Allah memberikan keberkahan buat ibu dari setiap hurup al-Quran yang dibacanya. Semoga setiap hurup al-Qur”an yang disentuh ibu menjadi cahaya yang menerangi kuburnya. Semoga setiap bacaan al-Qur’an yang keluar dari mulutnya menjadi saksi yang memberikan perlindungan di hari perhitungan kelak.

Baca Juga:  Apa Setelah Ramadhan?

Semoga al-Qur’an menjadi penjamin yang mendatangkan kemahamurahan Tuhan untuk menghadiahi ibu tempat terbaik. Tempat berkumpulnya orang-orang saleh yang menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman dan tuntunan dalam kehidupan. Selamat menjalankan ibadah puasa Bu…[]