KABARINDAH.COM, Sukabumi – Matahari pagi baru saja menyinari perbukitan Desa Citamiang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi. Dengan topi caping di kepala dan cangkul di pundak, Cecep Dadun Kohar melangkah menuju kebun yang setiap hari menjadi sumber penghidupan keluarganya. Di lahan itulah ia menanam berbagai hasil pertanian. Namun, di balik profesinya sebagai petani, Cecep memiliki panggilan lain yang dijalaninya dengan penuh keikhlasan: menjadi Relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di Desa Citamiang Kecamatan Purabaya.
Di desa yang berada di kawasan rawan pergerakan tanah, longsor, dan cuaca ekstrem itu, Cecep dikenal sebagai sosok yang selalu hadir ketika masyarakat membutuhkan. Saat hujan deras turun atau muncul informasi potensi bencana, cangkul yang biasa digunakannya segera disimpan. Ia berganti mengenakan atribut relawan untuk memantau kondisi wilayah, menyampaikan informasi kepada warga, hingga berkoordinasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi dan pemerintah desa.

Bagi Cecep, menjadi relawan bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bentuk tanggung jawab sebagai warga yang hidup di daerah rawan bencana.
“Kami tinggal di wilayah yang memiliki potensi bencana. Karena itu masyarakat harus mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi. Kalau masyarakat siap, dampak bencana bisa dikurangi,” ujarnya.
Bagi Cecep, pengabdian kepada masyarakat tidak hanya dilakukan melalui kegiatan kerelawanan. Selain aktif sebagai Relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), ia juga dipercaya masyarakat sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Citamiang.
Melalui perannya di BPD, Cecep turut terlibat dalam berbagai pembahasan dan perencanaan pembangunan desa. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa upaya membangun desa tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana.
“Sebagai anggota BPD, saya melihat bahwa pembangunan desa harus sejalan dengan upaya mitigasi bencana. Infrastruktur itu penting, tetapi masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan juga menjadi modal utama agar desa tetap tangguh ketika terjadi bencana,” ujar Cecep
Peran gandanya sebagai petani, anggota BPD, dan Relawan SIBAT membuat cecep semakin dekat dengan masyarakat. Hampir setiap hari ia berinteraksi dengan warga, baik saat bekerja di kebun, mengikuti kegiatan pemerintahan desa, maupun mendampingi berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk terus mengajak warga mengenali potensi ancaman bencana, memahami jalur evakuasi, hingga membangun budaya saling peduli ketika menghadapi keadaan darurat.
Baginya, edukasi kebencanaan tidak harus selalu dilakukan dalam pelatihan resmi. Obrolan di saung, kegiatan gotong royong, rapat warga, hingga musyawarah desa menjadi ruang yang efektif untuk menanamkan pentingnya kesiapsiagaan.
“Kalau masyarakat sudah memahami risiko di wilayahnya, tahu harus berbuat apa, dan saling membantu, maka dampak bencana bisa diminimalkan. Itulah yang terus kami bangun bersama melalui SIBAT dan juga dalam berbagai kegiatan di desa,” katanya.
Dedikasi cecep sebagai relawan diperkuat melalui berbagai pelatihan yang diselenggarakan PMI Kabupaten Sukabumi melalui kolaborasi dengan Atma Connect yang didukung Internet Society Foundation.
Sebelum mendampingi masyarakat, Encep bersama relawan SIBAT lainnya mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari Pertolongan Pertama,Tanggap Darurat Bencana, hingga bimbingan teknis pengoperasian internet berbasis satelit Starlink.
Berbagai pelatihan tersebut membekali relawan agar mampu melakukan respons awal ketika terjadi bencana sekaligus menjaga komunikasi tetap berjalan meskipun jaringan telekomunikasi konvensional mengalami gangguan.
“Pelatihan yang kami ikuti sangat bermanfaat. Kami belajar memberikan pertolongan pertama, mengelola posko, melakukan koordinasi saat tanggap darurat, hingga mengoperasikan internet satelit agar komunikasi tetap berjalan ketika bencana terjadi,” tutur Cecep
Selain keterampilan kebencanaan, para relawan SIBAT juga dibekali kemampuan memanfaatkan teknologi digital melalui aplikasi AtmaGo.
Melalui platform tersebut, relawan didorong menjadi jurnalis warga yang mampu melaporkan kondisi di wilayahnya secara cepat, akurat, dan bertanggung jawab. Informasi mengenai potensi ancaman, kejadian bencana, kerusakan, hingga kebutuhan masyarakat dapat segera diteruskan kepada PMI, pemerintah desa, maupun pihak terkait lainnya.
“Bagi kami, informasi yang cepat sama pentingnya dengan bantuan. Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat pula koordinasi dan penanganan bisa dilakukan,” katanya.
Peningkatan kapasitas relawan terus berlanjut melalui pemanfaatan WargaSiaga, aplikasi pendamping kesiapsiagaan bencana berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan untuk membantu relawan dan masyarakat memperoleh informasi kebencanaan secara lebih mudah.
Melalui aplikasi tersebut, relawan dapat mempelajari penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), mengenali karakteristik ancaman dan kerentanan wilayah, memetakan jalur evakuasi, mengidentifikasi sumber daya yang tersedia, hingga mengetahui potensi relawan dan dukungan lain yang dapat dimobilisasi ketika terjadi keadaan darurat.
Menurut Cecep, teknologi menjadi pelengkap yang memperkuat peran relawan dalam mendampingi masyarakat.
“Sekarang dengan adanya internet dan aplikasi berbasis AI, kami semakin mudah mendapatkan informasi dan pengetahuan. Ilmu yang kami dapatkan kemudian kami bagikan lagi kepada masyarakat agar semua warga memiliki kesiapsiagaan yang sama,” ujarnya.
Kehadiran program konektivitas internet berbasis satelit yang dikembangkan PMI Kabupaten Sukabumi bersama Atma Connect dengan dukungan Internet Society Foundation semakin memperkuat peran para relawan di lapangan. Informasi kini dapat diterima secara real time, koordinasi berlangsung lebih cepat, dan masyarakat semakin mudah memperoleh edukasi mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Bagi Cecep, menjadi petani, anggota BPD, dan relawan SIBAT bukanlah tiga peran yang berbeda. Ketiganya adalah bentuk pengabdian untuk tujuan yang sama, yakni menjaga keselamatan masyarakat dan membangun desa yang lebih tangguh.
Di balik topi caping dan cangkul yang setiap hari menemaninya bekerja, Cecep Dadun Kohar membuktikan bahwa ketangguhan sebuah desa tidak hanya dibangun oleh infrastruktur maupun teknologi, tetapi juga oleh orang-orang yang dengan sukarela meluangkan waktu untuk belajar, berbagi pengetahuan, dan menjaga sesamanya.
Di Desa Citamiang, benih yang ditanam Cecep bukan hanya tumbuh menjadi hasil panen. Ia juga menanam kesadaran, gotong royong, dan budaya siaga bencana yang kelak menjadi kekuatan masyarakat dalam menghadapi setiap ancaman yang datang.











