KABARINDAH.COM, Bandung – Di tengah melimpahnya konten digital, kemampuan memilih tontonan secara bijak menjadi bagian penting dari literasi masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut, Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia menggandeng perguruan tinggi untuk memperkuat budaya sensor mandiri melalui program LSF Goes to Campus, termasuk di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.
Kegiatan bertajuk “Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia” itu digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kamis (9/7/2026).
Program ini merupakan bagian dari implementasi kerja sama LSF dengan sekitar 60 perguruan tinggi di Indonesia dalam memperluas literasi perfilman di lingkungan akademik.
Ketua Komisi III LSF RI Kuat Prihatin mengatakan, kampus memiliki posisi strategis untuk membangun budaya menonton yang sehat.
Menurutnya, mahasiswa diharapkan menjadi agen literasi yang mampu mengedukasi keluarga, teman, dan masyarakat agar lebih bijak memilih tontonan sesuai usia.
“Kampus kami harapkan menjadi pusat edukasi literasi perfilman. Mahasiswa bisa menjadi penyambung pesan kepada keluarga, teman, dan lingkungan tentang pentingnya memilih tontonan yang tepat,” ujarnya.
Kuat menambahkan, tantangan literasi saat ini tidak hanya berasal dari film, tetapi juga dari derasnya arus konten di media sosial.
Meski media sosial berada di luar kewenangan LSF, masyarakat tetap perlu memiliki kesadaran untuk menyaring informasi dan konten secara lebih kritis serta bertanggung jawab.
Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan bahwa film memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara pandang masyarakat sekaligus merefleksikan kualitas budaya suatu bangsa.
Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menikmati film, tetapi juga mampu menangkap nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya.
Ia juga mendorong mahasiswa agar tidak berhenti menjadi penonton, melainkan berani menjadi kreator yang menghasilkan karya-karya berkualitas dengan mengangkat nilai-nilai luhur Indonesia, seperti moderasi, kebinekaan, dan persatuan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung Rahmat Alamsyah menilai kolaborasi dengan LSF selaras dengan penguatan kompetensi mahasiswa di bidang sinematografi dan film dakwah.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pemahaman mengenai regulasi, etika, dan budaya sensor sebagai bekal memasuki industri kreatif.
Rahmat menjelaskan bahwa film merupakan perpaduan seni, teknologi, komunikasi, dan sastra yang mampu menjadi media pendidikan sekaligus pembentukan karakter.
Oleh karena itu, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat.
“Film tidak hanya menjadi hiburan. Selama mampu mengajak kepada nilai-nilai kebaikan, kepedulian, dan kemanusiaan, film juga dapat menjadi media dakwah,” katanya.
Selain itu, Rahmat mengingatkan mahasiswa untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara bijak.
Menurutnya, AI dapat menjadi alat pendukung proses kreatif. Namun, kreativitas, orisinalitas, etika, dan tanggung jawab manusia tetap menjadi faktor utama dalam menghasilkan karya yang berkualitas dan berdampak.***(FA)











