Pesantren Kilat Ramadan Pertuni Sukabumi, Tumbuhkan Cinta Alquran di Kalangan Tunanetra

KABARINDAH.COM, Sukabumi– Sebuah ruang sederhana di Jalan Garuda, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, menjadi saksi semangat belajar yang tak biasa. Di tempat itu puluhan anggota Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Kota Sukabumi mengikuti Pesantren Kilat Ramadan 1447 Hijriah dengan penuh khidmat dan kehangatan.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari itu bukan sekadar pengajian Ramadan biasa. Bagi para peserta tunanetra, pesantren kilat ini menjadi ruang untuk memperdalam kecintaan terhadap Alquran sekaligus meningkatkan kemampuan membaca dan menulis huruf Arab Braille.

Ketua DPC Pertuni Kota Sukabumi, Sulaiman mengatakan, kegiatan tersebut berjalan lancar dan ditutup dengan rasa syukur setelah seluruh rangkaian acara berjalan dengan baik. “Alhamdulillah hari ini kami sudah menyelesaikan Pesantren Kilat Ramadan di Al-Huda Baros. Hari ini adalah penutupan. Kami sangat bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang kami dapatkan, baik dari ilmu maupun bantuan serta dukungan dari berbagai pihak kepada Pertuni Kota Sukabumi,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).

Sulaiman menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Di antaranya Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi, Filantra, donatur seperti Hasmi Peduli termasuk tuan rumah yang menyediakan tempat selama kegiatan berlangsung yakni Al Huda.

“Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara sanlat Ramadan selama empat hari ini di rumah Bu Haji Ika di Baros. Semoga kegiatan ini dapat terus kami lanjutkan untuk meningkatkan kemampuan teman-teman tunanetra dalam membaca Alquran dengan baik dan benar,” kata Sulaiman.

Selama tiga hari pertama, peserta mendapatkan pelatihan intensif membaca dan menulis huruf Arab Braille. Kegiatan dimulai sejak pagi hingga menjelang waktu Zuhur dengan fokus pada penulisan huruf Arab Braille, baik tingkat dasar maupun lanjutan.

Untuk peserta pemula, pelatihan diarahkan pada pengenalan huruf hijaiyah. Sementara peserta lanjutan mempelajari metode imla atau penulisan lanjutan huruf Arab Braille.

Memasuki waktu Zuhur hingga menjelang asar, kegiatan dilanjutkan dengan pembelajaran membaca Al-Quran. Suasana belajar berlangsung penuh kesabaran dan kebersamaan, di mana para peserta saling mendukung satu sama lain dalam memahami bacaan.

Pada hari terakhir, kegiatan diisi dengan pelatihan singkat keterampilan menjadi pembawa acara atau master of ceremony (MC). Pelatihan ini diberikan agar para tunanetra memiliki kepercayaan diri untuk memandu berbagai kegiatan di masyarakat.

“Kami ingin teman-teman tunanetra juga percaya diri tampil di depan umum. Walaupun memiliki keterbatasan penglihatan, mereka tetap mampu memandu acara dalam berbagai kegiatan,” kata Sulaiman.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan kajian keislaman selepas Asar yang mengangkat tema kecintaan terhadap Al-Quran. Khususnya tentang bagaimana kedudukan orang yang mempelajari dan mencintai Al-Quran di sisi Allah SWT.

Melalui pesantren kilat tersebut, Pertuni berharap semangat belajar Al-Quran di kalangan tunanetra terus tumbuh dan menjadi bekal spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Di ruang yang sederhana itu, semangat para peserta menjadi pengingat bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Al-Quran dan memperkuat keimanan di bulan suci Ramadan.