KABARINDAH.COM, Sukabumi–Penguatan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana kini semakin didukung oleh perkembangan teknologi digital. Melalui platform berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bernama WargaSiaga.com masyarakat diharapkan dapat mengakses pengetahuan dan pembelajaran kebencanaan secara mandiri kapan saja.
Inovasi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Kemah Ketangguhan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) RCC 2 yang melibatkan anggota SIBAT dari tujuh desa di Kabupaten Sukabumi. Dalam kegiatan ini, WargaSiaga.com diperkenalkan sekaligus diuji coba sebagai salah satu sarana pendukung edukasi dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. kegiatan ini digelar selama dua hari 4-5 November 2026 di Puncak Peuyeum Desa Ciengang Gegerbitung
Direktur Lapangan Yayasan Saka Warga Indonesia, Alfan Kasdar mengatakan, pengembangan platform tersebut berangkat dari kebutuhan untuk memperluas akses pembelajaran kebencanaan hingga ke tingkat masyarakat desa. Menurutnya, selama ini kegiatan simulasi dan edukasi kebencanaan sering kali membutuhkan kehadiran instruktur atau fasilitator dari luar desa.
Padahal, masyarakat membutuhkan akses pengetahuan yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. “Bagaimana kalau simulasi dan pengetahuan mengenai bencana bisa diakses langsung selama 24 jam melalui platform kita, namanya WargaSiaga.com,” ujarnya.
Alfian menjelaskan, pemanfaatan teknologi AI diharapkan dapat membantu anggota SIBAT maupun masyarakat dalam meningkatkan pemahaman mengenai ancaman bencana, mengenali risiko, meningkatkan kapasitas, serta mempersiapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika situasi darurat terjadi.

Berharap terang Alfian, inovasi tersebut tidak hanya menjadi pengembangan teknologi digital. Tetapi juga memberikan manfaat nyata dalam membangun masyarakat yang lebih mandiri dan tangguh menghadapi bencana.
Kemah Ketangguhan SIBAT RCC 2 menjadi wadah pembelajaran, penguatan kapasitas, sekaligus praktik bagi para relawan agar memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi potensi bencana di wilayah masing-masing. Peserta berasal dari tujuh desa, yakni Desa Ciengang, Sukamaju, Cimerang, Citamiang, Tegalega, Margaluyu, dan Bojongtugu. Ketujuh desa tersebut menjadi bagian dari wilayah sasaran penguatan kesiapsiagaan masyarakat berbasis komunitas.
Sebelum mengikuti rangkaian simulasi, peserta mendapatkan sejumlah materi pembekalan yang berkaitan dengan tugas dan peran relawan dalam penanggulangan bencana. Materi tersebut meliputi manajemen posko PMI bencana, pertolongan pertama, literasi digital masyarakat pedesaan, jurnalis warga, hingga pengenalan dan uji coba platform berbasis AI WargaSiaga.com.
Pembekalan ini dirancang agar anggota SIBAT tidak hanya memiliki kemampuan dalam aspek penanganan darurat. Tetapi juga mampu mengelola informasi, menyampaikan komunikasi kebencanaan, serta memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung kesiapsiagaan masyarakat.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai proses pembelajaran dan simulasi. Melalui kegiatan tersebut, anggota SIBAT didorong untuk memahami peran masing-masing, mulai dari upaya pengurangan risiko sebelum bencana, tindakan awal ketika bencana terjadi, hingga membantu masyarakat dalam situasi tanggap darurat.
Pengenalan dan uji coba WargaSiaga.com menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan kapasitas SIBAT. Platform ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran yang mudah diakses oleh masyarakat, khususnya dalam memahami berbagai aspek kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana.

Dengan dukungan teknologi AI, masyarakat diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang lebih interaktif dan dapat menyesuaikan kebutuhan informasi dengan kondisi di wilayah masing-masing. Uji coba dalam kegiatan Kemah SIBAT RCC 2 juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan pemanfaatan teknologi tersebut secara langsung kepada para relawan, sekaligus melihat bagaimana platform dapat mendukung proses edukasi kebencanaan berbasis masyarakat.
Melalui kolaborasi penguatan kapasitas relawan, praktik simulasi, dan pemanfaatan teknologi digital, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong terbentuknya masyarakat yang semakin tanggap, mandiri, dan memiliki kemampuan untuk mengurangi risiko bencana. Pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas maupun relawan kebencanaan.
Keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci penting dalam membangun ketangguhan desa dan melindungi keselamatan bersama. Atep Maulana











