Problematika Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi Covid-19

  • Bagikan

 

Oleh Apud MPd
(Magister STAI Sukabumi)

Pada Tahun 2020, sebelum memasuki Ramadhan 1441 H yaitu tepatnya 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo menyampaikan pengumuman bahwa ada dua warga negara Indonesia yang positif terkena virus COVID-19. Pengumuman tersebut tentunya membuat masyarakat kaget, cemas dan khawatir karena penyakit tersebut adalah penyakit yang mudah menular antar sesama manusia.

Semenjak diumumkan, warga diminta untuk tetap tenang tetapi waspada dengan mengurangi aktivitas di luar rumah dan menerapkan protokol kesehatan dengan cara mencuci tangan sesuai dengan hand sanitizer, memakai masker serta menjaga stamina tubuh dengan cara makan dan minum yang bergizi.

Dalam perkembangan berikutnya, WNI yang positif terpapar corona semakin banyak. Sebagai upaya pencegahan meluasnya penyebaran virus ini, pada tanggal 15 Maret 2020 Presiden RI Joko Widodo mengumumkan social distancing atau jaga jarak antar satu dengan yang lain menjadi hal yang sangat penting dilakukan. Presiden juga menyampaikan bahwa kondisi ini, saatnya masyarakat kerja dari rumah, belajar dari rumah, serta beribadah di rumah. Kebijakan tersebut menyebabkan banyak sekolah-sekolah yang sementara waktu ditutup, kantor-kantor menerapkan work from home (WFH) bagi karyawannya, bahkan banyak tempat-tempat ibadah meniadakan kegiatan ibadah secara komunal di tempat ibadah dan warga diminta beribadah di rumah masing-masing dan beraktifitas di rumah saja.

Setelah munculnya wabah Covid-19 di belahan bumi, sistem pendidikan pun mulai mencari suatu inovasi untuk proses kegiatan belajar mengajar. Terlebih adanya Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 dari Menteri Pendidikan dan kebudayaan yang menganjurkan seluruh kegiatan di institusi pendidikan harus jaga jarak dan seluruh penyampaian materi akan disampaikan di rumah masing-masing.

Setiap institusi pun dituntut untuk memberikan inovasi terbaru untuk membentuk proses pembelajaran yang sangat efektif ini. Sayangnya, tak semua institusi pendidikan rupanya paham betul mengenai inovasi terbaru yang harus dipakai untuk melakukan pembelajaran selama pandemi. Kebanyakan dari mereka masih belum bisa menyesuaikannya karena terkendala sarana dan prasarana.

Dengan adanya perintah belajar dari rumah tersebut tidaklah serta merta dapat diterima dan dilakukan masyarakat Indonesia, terlebih karena masih terbatasnya kemampuan teknologi komunikasi masyarakat dan juga biaya yang banyak harus dikeluarkan untuk pembelian paket internet bahkan ada yang harus membeli handphone berbasis Android baru untuk menunjang pembelajaran Daring (dalam jaringan) yang dilakukan oleh masing-masing sekolah.

Penulis sendiri sebagai seorang Guru Honorer harus tunduk dan patuh kepada himbaun pemerintah untuk Mengajar dari Rumah atau Teaching From Home (TFH), beribadah di rumah dan yang sangat mengharukan serta menyedihkan bagi seluruh umat Islam se dunia bahwa ketika memasuki bulan suci Ramadahan 1441 H tepatnya pada tanggal 24 April 2020 penyebaran virus ini masih berlanjut, bahkan sampai memakan puluhan korban jiwa. Shalat tarawih yang biasanya dilaksanakan di masjid atau mushalla dialihkan ke rumah masing-masing.

Namun, kita selaku orang Islam yang bertakwa kepada Allah SWT tentu meyakini bahwa dalam hidup ini tidak selamanya aman, tenang dan kondusif. Kita hanya perlu meyakini dengan adanya takdir Allah yang baik dan yang buruk akan berlaku dan tugas kita hanya memelihara diri beserta anggota keluarga untuk tidak tertular Covid-19 dengan mengikuti fatwa ulama dan penerapan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan Pemerintah, selalu berdo’a setiap selesai shalat lima waktu sebagaimana dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Problematika pembelajaran Daring ini tidak hanya dialami oleh murid-murid, tetapi dengan masih mewabahnya COVID-19 sampai dengan akhir tahun ajaran yang mengharuskan guru-guru membuat soal ujian atau penilaian akhir Tahun Pelajaran 2019/2020 dalam bentuk google form, ini juga hal baru bagi guru-guru di Indonesia, dengan motivasi yang tinggi akhirnya guru berhasil tetap melakukan Penilaian Akhir Tahun (PAT) dengan baik dan tingkat keikutsertaan anak yang sesuai dengan yang diharapkan.

Strategi pembelajaran jarak jauh yang penulis lakukan selama mengajar dari rumah (Teaching From Home) yang ditetapkan oleh Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama Republik Indonesia adalah dengan memanfaatkan grup Whatsapp (WA) perkelas, memberikan penugasan, latihan dikirim melalui WA kemudian ulangan harian memakai aplikasi Google Clasroom. Penulis mengirimkan video pembinaan karakter kepada masing-masing grup WA, video contoh pembacaan muratal surah as-sajadah beserta doa yang dibaca ketika sujud pada ayat ke-15 dan juga berbagai hal yang sangat di butuhkan oleh murid-murid, misal panduan niat menyerahkan dan menerima zakat fitrah, khutbah idul fitri singkat di rumah dan memberikan bonus juga bagi murid yang melakukannya dengan syarat mengirim foto dan video ke Penulis.

Kenapa pembelajaran daring ini memunculkan segudang problematika? Jawabannya adalah di tengah pandemi COVID-19 yang masih mewabah hingga memakan korban ratusan bahkan ribuan orang, di sana-sini terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran, kantin sekolah tidak jalan, transportasi lumpuh, home industry tutup, pedagang sepi konsumen, masyarakat disuruh menahan diri di rumah, menjaga imun tubuh dan ibadah serta kerja dari rumah. Sementara dengan adanya kebijakan tersebut menambah biaya pengeluaran rumah tangga.

Satu hal yang bisa disampaikan kepada anak-anak murid bahwa kalaulah pembelajaran normal tentunya anak-anak memakan biaya yang banyak seperti ongkos angkutan umum,ojol, bensin dan jajan setiap hari, guru dapat memberikan gambaran bahwa biaya itu semua bisa dialihkan ke pembelian paket untuk terus dapat mengikuti pembelajaran meskipun tidak maksimal, dan kebijakan Pemerintah selama pandemi COVID-19 ini menitikberatkan pembinaan karakter baik oleh guru maupun orang tua di rumah. Maka banyak guru yang memberi penilaian bagus ketika anak muridnya memberikan laporan shalatnya secara rutin, baca qur’annnya berkelanjutan dan juga tugas membantu orang tua selama di rumah dengan membuktikan foto-foto penunjang dan bukti fisik.

Usaha pemerintah dalam memaksimalkan kebijakan pembelajaran daring ini terus dilakukan antara lain pemberian paket internet kepada guru-guru, dan juga menjaring siswa yang sangat membutuhkan paket internet untuk dapat mengikuti pembelajaran daring tersebut. Di samping itu banyak cara lain yang dilakukan oleh guru-guru bagi anak yang tidak mempunyai HP android, seperti meminta anak-anak menjemput tugas di madrasah dengan tetap mengikuti standar protokol kesehatan.

Di samping itu pihak Kementerian Agama mengadakan monitoring pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Daring sesuai jadwal yang ditentukan. Di Madrasah kami PJJ ini dilakukan pukul 07.30-08.30 dengan menggunakan aplikasi Zoom cloud meeting dan sebelumnya dari jam 07.00-07.30 digunakan waktu untuk pembentukan karakter oleh wali kelas masing-masing dalam bentuk setoran dan menyimak tadarus Al-Qur’an 5 ayat persiswa sejumlah 5 siswa melalui video call dan juga memastikan apakah anak sudah siap mengikuti pembelajaran. Setelah itu siswa dapat mengakses e-lerning sesuai dengan jadwal pembelajaran yang sudah dibagikan.

Semoga semua usaha baik ini dalam mencerdaskan anak bangsa dan membangun karakter di musim pandemi COVID-19 ini berhasil guna dan menjadi sejarah bangsa dan dunia untuk mereka ceritakan nanti ke anak keturunan mereka apa yang mereka alami, bagaimana mereka merasakan shalat tarawih di rumah sebulan penuh, bahkan terkadang mereka mengimami ibu dan adik-adiknya, menjadi khatib saat shalat Idul Fitri di rumah serta hari raya hanya di rumah saja, semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir sehingga belajar, bekerja dan aktivitas lainnya dapat berjalan normal.

 

 

 

 

  • Bagikan