Pojok  

Pojok: Selebrasi Sederhana Kante

Oleh: Kelik NW, Penggemar Sepakbola.

N’Golo Kante, He is short, he is nice, he’s the one, who stopped Leo Messi, but we all know he’s a cheater, N’Golo Kante!”
– Kante Chant –

Di saat pemain Le Blues lainnya menari gembira di ruang ganti, Kante menyantap pizza yang tersaji. Sikap dinginnya ini menegaskan dia seorang pemain dengan kemuliaan hati. Kemenangan atas Yellow Submarine sederhana saja ia sikapi. Tanpa menari apalagi menyombongkan diri. Baginya, menang atau kalah itu takdir dari Yang Maha Suci.

Dalam setiap pertandingan, menang atau kalah itu pasti. Tak jarang berhasil seri. Sering menang jadi juara, keseringan kalah jadi juru kunci. Menang tak perlu jumawa, kalah tak perlu berkecil hati. Tugas pemain memaksimalkan ikhtiar hingga waktu berakhir. Detik-detik terakhir pun bisa membalikan situasi. Dalam kondisi tertinggal, dengan ikhtiar maksimal, bisa membalikan posisi.

Baca Juga:  Lima Tipe Guru Perspektif Ilmu Fikih

Dalam sepak bola tidak ada yang pasti. Klub dengan bertabur bintang, bukan suatu garansi. Klub semenjana punya kesempatan yang sama meraih tropi. Sebut saja Leicester City. Kerja keras dan kekompakan tim menjadi kunci. Berbalik dengan tim bertabur bintang yang mengedepankan ego diri. Merasa diri paling terbaik enggan tersaingi. Menonjolkan skill mempertontonkan ia seorang ahli. Ia bukanlah pemain, tetapi lebih seorang selebriti.

Respect, digemakan untuk saling menghargai. Walaupun saling berhadapan bukan untuk saling menyakiti. Semua sadar, ia hidup dari sepakbola ini. Tak salah bila pemain unjuk gigi, tanpa perlu mematahkan kaki. Mematahkan kaki berarti memutus rejeki. Gara-gara ini, Marco van Basten mesti pensiun dini.

Puyol lebih dulu memberikan contoh tentang menghargai. Mengingatkan pemain depan yang berlebihan selebrasi. Merayakan gol cukup dengan mengacungkan satu jari. Bersyukur kepada illahi rabbi. Tak perlu mengejek lawan sambil menari. Selain tak tahu diri, perbuatan itu merendahkan diri sendiri.

Baca Juga:  Zaman Susah, Nasib UKM, dan Solusi dari Kampus

Selain pemain, bobotoh pun perlu diajari. Jangan sampai, tim menang dipuji, tim kalah dicaci maki. Itu bukan fans sejati. Pendukung setia itu, tim kalah disemangati, tim menang disyukuri. Apalagi dalam gelaran kompetisi. Pertandingan panjang akan dijalani. Menang hari ini, esok belum pasti. Dukunglah tim layaknya memiliki. Kala menang atau kalah tak jemu bernyanyi. Percayalah, itu menaikan mental diri. Pemain akan percaya diri sebab bobotoh selalu menemani.

Bobotoh itu energi. Persib menjadi bukti. Juara di paruh masa kompetisi. Namun hingga pertandingan terakhir, gagal mengangkat tropi. Gara-gara bobotoh tak boleh menemani. Persib seperti kehilangan taji. Tim dan bobotoh bagai satu hati. Satu sama lain saling membutuhkan dan melengkapi. Akibat kekhilafan, merugikan diri sendiri. Ini menjadi pelajaran penting agar tidak terjadi lagi.

Baca Juga:  Pojok: Empat Prinsip Hidup Bernilai

Tidak ada kemenangan hakiki selain berhasil melawan nafsu diri. Semuanya semu, kemenangan di berbagai pertandingan di dunia ini. Pertandingan sesungguhnya di setiap detik di sepanjang hari. Sebab nafsu menggoda kapan saja bisa terjadi. Untuk menghadapinya, selalu persiapkan diri. Iman jadi perisai. Senantiasa mendekatkan diri pada Illahi.

Semua manusia tak lepas dari masa lalai. Itu wajar terjadi. Tapi bukan untuk diulangi. Sesali dan perbaiki diri. Masuki pintu taubat, Allah akan senantisa mengampuni. AmpunanNya lebih luas dari alam semesta ini. Allah telah mengetahui, manusia akan memohon pengampunan diri. Hanya, tinggal manusianya kini. Akankah kesalahan diulangi. Atau sebelum bertindak bercermin diri.

Lima ratus kata, challenge hari ini. Tak kan selesai tanpa Kante dan secangkir kopi.