Pojok  

Tahun Baru: Ruang Baru untuk Berbuat Kebajikan

Oleh: Dr. Ace Somantri, M.Ag, Ketua LP3K UMBandung

Tidak terasa, usia dunia kian hari semakin tua renta. Banyak fenomena alam memberi tanda pada manusia dengan berbagai peristiwa, seperti pemanasan global membuat cuaca menjadikan udara lebih panas dari standar yang seharusnya, bencana longsor di berbagai tempat yang diakibatkan ekosistem hutan rusak, dan banjir terus mendera setiap musim hujan tiba.

Wahai manusia dimanapun engkau berada, tundukan kepalamu! buka mata padanganmu ke depan! Langkahkan kamimu untuk berjalan menyusuri sesuai arah kiblatmu. Usia kita sejak lahir hingga saat ini seolah bertambah, melainkan semakin hari semakin berkurang.

Mengisi ruang untuk berbuat kebajikan terus tidak boleh berhenti sesuaikan dengan ruang dan posisi yang seharusnya, tanpa memaksa raga dan pikiran yang sudah usia senja menempati yang seharusnya kaum muda berada.

Baca Juga:  Karena Manusia Taat itu Keren Banget, Taatilah Perintah-Nya!

Tahun baru Masehi menjadi titik tolak semangat kaum muda, karena generasi tua tiba saatnya membuka ruang luas dan lebar bagi generasi berikutnya di iringi senyuman bahagia penuh sahaja.

Tahun 2022 harus beda dari tahun sebelumnya, mata kita terus membaca aneka ragam macam fenomena yang nampak maupun tersembunyi dari mata. Analisa tajam membedah fenomena menjadi aneka macam karya dan cipta, itu semua harga yang harus dibeli tanpa basa-basi sehingga sinergitas membawa harapan dan asa, bahkan harus mampu menawarkan harga sebuah peradaban yang nyaris hilang ditelan masa.

Jarak jauh tidak masalah, ditempuh dengan semangat dan motivasi akan dirasakan jarak itu sangat dekat, hal tersebut sebuah resiko dan konsekuensi institusi membangun unggulan yang menguji adrenaline setiap karya yang di unggulkan. Karya bukan hanya dalam kata-kata tekstual semata, melainkan aksi nyata yang memiliki utilities lebih bermakna dari sekedar yang ada.

Baca Juga:  Orang Kaya Jatuh Miskin Vs Orang Miskin Jadi Kaya

Sikap alam semesta sangat beda, kasih sayang pada manusia sangat terasa. Sebaliknya manusia tidak sadar diri dan tidak tahu diri, hawa nafsu angkara murka selalu menjelma menjadi kurawa yang penuh dusta pada agama.

Benar kata Malaikat jauh sebelum Adam – Hawa di cipta, sifat dan karakter sejenis manusia penumpah darah pada sesama. Namun Allah SWT pemilik alam semesta dan isinya sebagai Sang Penguasa membela dengan kemuliaan manusia yang dipunya. Allah subhanallah ta’ala maha Adil dan Perkasa, semua akan tiba pada waktunya bahwa yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan, sebaliknya yang berbuat durja akan menerima akibatnya penuh sengsara.

Manusia, engkau mahluk mulia, sangat baik bentukmu nan indah di pandang mata. Karya dan aksi nyatamu di tunggu alam semesta, berbagai biota alam meminta untuk tetap terjaga.

Baca Juga:  Pojok: Optimisme dan Harmoni Pikiran!

Tidak jauh beda dengan kita, berbagai spesies mahluk termasuk hewan melata sekalipun, mereka memiliki harapan untuk tetap hidup bahagia pada habitatnya masing-masing. Amalmu akan membawa pada kehidupan abadi setelah dunia tiada. Jaga jiwamu dan pikiranmu menjelma menjadi manusia setengah dewa.

Bandung, 1 Januari 2022