KABARINDAH.COM, Jakarta — Perkembangan teknologi digital yang semakin cepat membawa tantangan sekaligus peluang besar bagi dunia pers.
Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya hoaks, Muhammadiyah didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi.
Namun, juga tampil sebagai produsen informasi yang berkualitas, akurat, dan mampu membangun kepercayaan publik.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad menegaskan, perkembangan teknologi yang sangat pesat menuntut Muhammadiyah untuk mengambil peran lebih besar dalam menghadirkan informasi yang benar dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Muhammadiyah tidak boleh menjadi konsumen informasi. Muhammadiyah harus menjadi produsen informasi yang berkualitas dan menjadi ruang bagi lahirnya gagasan-gagasan baru untuk kepentingan semua pihak,” ujar Dadang.
Menurutnya, kecepatan dalam menyampaikan informasi memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan kebenaran dan kualitas.
Terlebih, masyarakat saat ini menghadapi persoalan serius berupa maraknya hoaks, disinformasi, hingga informasi yang mengandung provokasi.
Karena itu, media Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi salah satu penjaga kualitas informasi di tengah masyarakat.
Popularitas dan keinginan membuat konten viral, kata Dadang, tidak boleh mengalahkan nilai dan manfaat sebuah informasi.
“Jurnalisme harus cepat, akurat, berkualitas, dan berimbang. Gagasan-gagasan yang baik harus dapat ditulis dan dibaca oleh masyarakat, termasuk mereka yang berada di pelosok,” katanya.
Dadang juga menekankan bahwa peran media Muhammadiyah tidak sebatas kemampuan teknis menggunakan kamera atau memproduksi konten.
Lebih dari itu, media Muhammadiyah harus mampu menjadi ruang bersama untuk berbagi pengetahuan, menyebarkan inspirasi, serta menghadirkan konten yang memiliki nilai edukatif.
Dengan demikian, orientasi media tidak berhenti pada viralitas, tetapi bergerak menuju kemanfaatan.
Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhammadiyah Roni Tabroni mengatakan, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat ekosistem pers dan literasi di lingkungan Muhammadiyah.
Menurut Roni, kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai daerah. Peserta terjauh berasal dari Padang, sementara peserta dari Lampung dan Makassar juga turut hadir. Adapun peserta yang relatif paling dekat berasal dari Tangerang Selatan.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut sengaja tidak diselenggarakan setiap tahun, tetapi dipilih berdasarkan momentum penting bagi perkembangan pers Muhammadiyah. Salah satunya menjelang dan setelah Muktamar Muhammadiyah.
Roni juga menyampaikan gagasan mengenai penetapan 13 Agustus sebagai Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah. Usulan tersebut telah diajukan sejak 2024.
Tanggal 13 Agustus dipilih karena memiliki nilai historis bagi perjalPada tanggal tersebut, tepatnya 13 Agustus 1915, untuk pertama kalinya majalah Suara Muhammadiyah diterbitkan.
“DNA Muhammadiyah adalah literasi. Karena itu, kami mengusulkan bukan hanya Hari Pers Muhammadiyah, tetapi Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah,” ujar Roni.
Momentum tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa perjalanan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari tradisi membaca, menulis, menyebarkan pengetahuan, serta membangun kesadaran masyarakat melalui media.
Haedar Nashir dan Tradisi Jurnalistik Muhammadiyah
Dalam kegiatan tersebut juga disiapkan momentum pemberian kartu wartawan utama secara khusus kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dari Dewan Pers.
Roni mengatakan, kartu wartawan utama merupakan sesuatu yang istimewa dan tidak banyak dimiliki oleh tokoh di Indonesia.
Proses pengajuan dan verifikasi telah dilakukan sejak beberapa tahun sebelumnya dengan dukungan data jurnalistik, baik dalam bentuk manual maupun digital.
Menurut Roni, Haedar Nashir memiliki hubungan panjang dengan dunia jurnalistik.
Jauh sebelum menjadi salah satu tokoh Islam dan tokoh bangsa yang dikenal luas, Haedar telah aktif menulis dan terlibat dalam dunia pers.
“Dari awal beliau sudah menulis dan namanya tercantum dalam boks redaksi. Sampai sekarang, meskipun menjadi tokoh Islam dan bangsa kelas dunia, beliau tetap seorang jurnalis,” kata Roni.
Keteladanan tersebut, lanjutnya, menjadi inspirasi bagi kader Muhammadiyah untuk terus mengembangkan tradisi literasi dan jurnalistik sebagai bagian dari gerakan dakwah Islam berkemajuan.
Roni berharap Muhammadiyah dapat menjadi salah satu organisasi masyarakat yang berada di garis depan dalam pengembangan pers dan literasi.
“Muhammadiyah lahir bersama persnya. Karena itu, pers Muhammadiyah harus terus kita manfaatkan untuk syiar Islam berkemajuan,” ujarnya.
MPI Muhammadiyah juga menargetkan diri menjadi “dapur” bagi pengembangan media Muhammadiyah.
Ekosistem pers Muhammadiyah diharapkan semakin terintegrasi sehingga berbagai media yang berada di lingkungan persyarikatan dapat saling belajar, bertukar pengalaman, dan meningkatkan kualitas pemberitaan.
Menjadi Rujukan yang Tepercaya
Sementara itu, Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menyampaikan apresiasi atas dipilihnya UMJ sebagai tempat pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia menilai kegiatan pers dan literasi memiliki nilai strategis bagi perkembangan Muhammadiyah di tengah perubahan lanskap media.
UMJ, kata dia, merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) dan memiliki komitmen untuk mendukung kegiatan yang memberikan dampak positif bagi persyarikatan.
Ia menilai media Muhammadiyah harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pemberitaan digital menjadi semakin penting karena masyarakat kini memperoleh sebagian besar informasi melalui platform digital.
“Pemberitaan tentang Muhammadiyah harus lebih masif dan membawa dampak positif bagi persyarikatan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat saat ini sangat mudah menerima informasi yang belum tentu benar.
Tidak sedikit pemberitaan yang salah kaprah kemudian diterima begitu saja oleh publik.
Oleh karena itu, media yang berafiliasi dengan Muhammadiyah tidak boleh mengikuti pola tersebut.
Media Muhammadiyah justru harus tampil sebagai sumber informasi yang memiliki validitas, kredibilitas, dan dapat dipercaya.
Media Muhammadiyah diharapkan mampu menjadi pegangan masyarakat luas, khususnya warga Muhammadiyah, dalam memperoleh informasi yang benar mengenai berbagai persoalan keumatan, kebangsaan, pendidikan, sosial, dan perkembangan persyarikatan.
Di tengah banjir informasi digital, tantangan terbesar media Muhammadiyah bukan sekadar bagaimana mendapatkan perhatian publik, tetapi bagaimana menjaga kepercayaan.
Kecepatan, kreativitas, dan kemampuan mengikuti tren digital harus berjalan beriringan dengan akurasi, keberimbangan, etika jurnalistik, serta kebermanfaatan.
Dengan semangat tersebut, pers Muhammadiyah diharapkan tidak hanya hadir untuk memberitakan.
Namun, juga mendidik, mencerahkan, menginspirasi, dan menjadi penjaga ruang informasi publik yang sehat.***(FA)





