Pojok  

Orang Kaya Jatuh Miskin Vs Orang Miskin Jadi Kaya

Oleh: Dr Budi Santoso | Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Biasanya orang kaya yang jatuh miskin lama “sadarnya”. Meskipun, terdapat pergumulan hebat dalam dirinya. Perilakunya masih seperti orang kaya, gaya hidup dan bicaranya.

Mereka lama menyadari (baca: mengakui) bahwa dirinya telah jatuh miskin. Selalu berusaha “ganjal sana, ganjal sini”, untuk tetap memelihara gaya hidupnya. Masih menginginkan sanjungan bahwa posisinya masih kaya.

Ketakutan terhadap merosotnya status sosial, merupakan pukulan yang paling telak menerpa batinnya.

Bagaimana sebaliknya, ketika orang miskin kemudian mendadak kaya? Akan terjadi perubahan yang sangat drastis, tidak perlu menunggu lama. Apabila ada suatu kurva kehidupan, orang yang kaya mendadak, akan cepat sadar untuk mengubah gaya hidupnya, tidak mengikuti kurva lama, namun membuat kurva baru. Seperti lupa ketika miskin.
Berbeda dengan orang kaya berubah miskin, dia akan mempertahankan kurva, sekuatnya sampai melorot dan habis-habisan, kemudian sampai tinggal tersisa kata-kata bahwa dirinya pernah kaya.

Baca Juga:  The Power of Template

Kita selalu ingin mengenang lebih lama cerita indah, kemewahan, keberhasilan dan kesenangan, dan cenderung ingin cepat melupakan cerita sedih. Pemain golf cenderung akan mengenang masa-masa indah ketika bermain baik, dan cenderung melupakan berbagai kekeliruan yang telah dibuatnya.

Pelajaran apa yang akan dipetik dalam kehidupan yang berubah? Kadang-kadang kita melakukan perbuatan yang sering kontra produktif. Seperti orang miskin berubah kaya, akan mendidik anak-anaknya cara hidup orang kaya, alasannya agar anak-anaknya tidak hidup susah seperti dirinya. Namun, ada orang yang sudah kaya ketika miskin tetap mengajari anaknya, gaya hidup orang kaya, meskipun keadaannya sudah bangkrut.

Pandemi Covid 19 ini, sudah mengobrak-abrik, kehidupan ekonomi seseorang, yang tadinya kaya mendadak miskin, yang tadinya pekerja mapan jadi pengangguran yang tadinya miskin tambah susah.

Baca Juga:  Hidupkan Empatisme Diri untuk Palestina

Anda dapat perhatikan siapa yang dapat menyesuaikan dirinya secara lentur, tanpa rasa canggung dan malu, Namun ada yang “keukeuh”, tidak mampu merubah stelan gaya hidup, gengsi sehingga membuat retak, patah dan hancur dalam kehidupannya.

Saya kadang menasehati diri saya, agar selalu ingat Tuhan, karena semua situasi kaya, miskin, susah dan senang sebagai perjalanan hidup. Berdoalah agar pikiran dan perasaan kita memahami apa yang terjadi pada diri kita.

Tidak usah minta neko-neko. Cukup agar kita paham saja terhadap apa yang terjadi dan kita hadapi. Karena, orang yang paham, biasanya akan mudah menjawab ujian, dan lulus dalam kehidupan. Dan Tuhan akan menuntun untuk bergerak ke kehidupan yang lebih membahagiakan, sesuai dengan ukuran yang pas.