Niat dan Self-Control

  • Bagikan

Oleh Dr Mulyawan Safwandy Nugraha|
Direktur Research and Literacy Institute

Sebelum merebaknya Instagram (IG), kehadiran Facebook (FB) sudah duluan merajai dunia Media sosial. Saya main FB sudah cukup lama. Kalau tidak salah sejak 2009. Banyak teman yang saya tambahkan. Bahkan ada juga yang yang tidak saya kenal, tapi di FB, malah jadi teman. Di awal-awal ada FB, seakan euforia untuk sebanyak-banyaknya kita punya teman.

Konten FB dari tiap teman di FB pun beragam. Dari yang bersifat privat sampai publik. Dari urusan: hari ini makan dengan apa, makan di mana, makan dengan siapa, makan dalam acara apa, alasan makan di sana. Bahkan ada kawan saya berseloroh: hari ini mau makan siapa?. He..he..he..

Itu baru tema makan. Belum yang lainnya. Kebayang kan, betapa banyak alasan mengapa orang harus buat status dan mempostingnya di FB. Dari yang ingin melaporkan atau menyampaikan apa yang sedang dipikirkan dan dilakukannya, sampai narsis agar orang tahu perkembangan apa yang sedang dia alami. Yang bisnis juga banyak. Mereka mencari peruntungan. Berbisnis di FB. Murah, efisien dan produktif. Ada semua di FB. Bahkan berdoa pun sudah di media sosial yang namanya FB itu.

Saya kadang riset kecil terkait perilaku ber-FB kawan-kawan yang menjadi sahabat saya di FB. Namun di antara yang saya lihat itu, ada yang menarik minat saya untuk menyampaikannya di tulisan ini. Yaitu tentang kebiasaan para sahabat FB yang rajin menulis opini dan menyusun narasi suatu kegiatan. Apa menariknya membahas hal ini? Jawabannya simpel. Tidak semua orang melakukan hal tersebut.

Ada beberapa kawan saya yang justru bisa mencetak buku yang isinya adalah tulisan berupa artikel atau opini yang dipostingnya di Media Sosial. Sangat produktif. Buat saya, ini amazing. Apalagi saat pandemi seperti ini. Saat orang senangnya rebahan, tapi ada juga yang bangkit mengangkat jarinya untuk menulis dan menghasilkan karya.

Buat yang masih jadi siswa atau mahasiswa, tentu hal ini bisa membantu melatih kepekaan berpikir dan menuliskan gagasannya. Sederhananya, semua hal kan harus terus dibiasakan dan dilatih. Termasuk menulis. Di saat ada siswa atau mahasiswa yang biasanya kebingungan saat menjawab soal ujian, baik lisan atau juga tulisan.

Buat saya, kekaguman sesungguhnya adalah karena orang tersebut memiliki sifat RAJIN atau tekun. Sifat ini diperlukan untuk menghilangkan stigma negatif bahwa manusia dikendalikan oleh lingkungan. Padahal, seharusnya, Kitalah yang mengendalikan diri kita. Bukan orang lain atau lingkungan di sekitar kita.

Diri kita seharusnya yang mengendalikan diri sendiri. Hingga akhirnya motivasi intrinsik kita harus lebih besar dari motivasi ekstrinsiknya. Penyakit rajin adalah pujian atau kadang Bully-an. Jika dipuji kita rajin melakukan sesuau. Tapi jika tidak ada yang memuji atau malah ada yang mem-bully, rajinnya hilang. Yang muncul malas dan enggan untuk berbuat sesuatu. Bahkan tidak sedikit yang tidak bisa move-on hanya gara-gara di FB atau akun medsosnya ada yang dislike atau berkomentar negatif, kasar, atau mengandung ujaran kebencian.

Kita membutuhkan semangat dari sekitar kita. Itu betul. Namun komitmen diri sendiri untuk tetap melakukan sesuatu yang baik dan menginspirasi harus dimulai dengan “memanggil” Allah SWT untuk membersamai aktivitas kita. Harapannya sederhana (walau prinsipnya justru tidak sederhana), yaitu aktivitas yang kita lakukan mendapat berkah dan menjadi amal soleh, hingga mudah-mudahan jadi investasi amal kebaikan kita di dunia untuk akhirat kita sendiri.

Maka, jangan pernah aktivitas kita terganggu oleh “ulah” orang lain yang memuji dan mem-bully kita. Niatlah dengan ikhlas, mulailah dengan bismillah dan pastikan tidak bangga dengan sebutan “duh, hebat ya, kamu RAJIN sekali !”, hanya gara-gara Anda mengerjakan sesuatu yang WAJIB.

Masih adakah yang menyebut Anda rajin shaum di bulan Ramadhan padahal amal tersebut adalah kewajiban yang harus dilakukan ?

Selamat menjalankan ibadah Shaum Ramadhan 1442 H. (*)

  • Bagikan