Kisah Imam Abu Hanifah, Berterima Kasih pada Tetangganya yang Pemabuk

  • Bagikan

KABARINDAH.com – Pada suatu masa, Abu Hanifah bertetangga dengan seorang lelaki tukang sepatu. Tukang sepatu itu bekerja sepanjang hari. Pada malam harinya, ia baru kembali ke rumah, setiap malam, ia minum minuman yang memabukkan sambil bernyanyi dan berteriak, padahal saat itu Abu Hanifah sedang sementara shalat tahajud.

Saat itu, Abu Hanifah berdoa agar Allah swt mengampuni segala dosa-dosanya dan memberikan petunjuk di jalan yang baik dan benar.

Ia melakukan hal itu setiap harinya, ia terus minum dan bernyanyi sepanjang malam dengan lirik tentang dirinya yang disia-siakan. Istrinya berusaha memperingatkan bahwa suara nyanyiannya dapat mengganggu para tetangga.

Lelaki itu menjawab, ”Siapa yang terbangun pada malam selarut ini ? Mereka pasti sedang mendengkur.”. Lelaki itu tidak memperdulikan nasehat istrinya, begitulah kejadian itu berlangsung setiap malamnya.

Suatu malam, Abu Hanifah tidak mendengar lelaki itu bernyanyi, ia pun keheranan dan bertanya kepada istrinya tentang tetangga itu. Dari istri Abu Hanifah, Abu Hanifah mengetahui bahwa istri lelaki itu sakit.

Sementara itu lelaki itu pergi dari rumahnya, dan istri lelaki itu tidak mengetahui keberadaan suaminya.

Pada pagi harinya, Abu Hanifah meminta muridnya, Abu Yusuf, untuk mencari informasi tentang lelaki itu. Setelah beberapa lama, Abu Hanifah memperoleh informasi bahwa lelaki itu ditangkap oleh petugas keamanan karena mabuk.

Setelah itu, Abu Hanifah mengajak Abu Yusuf pergi untuk menghadap gubernur Kufah, Isa bin Musa, ia hendak meminta pengampunan untuk lelaki itu.

Abu Yusuf keheranan dengan tindakan Abu Hanifah. Selama ini, gubernur Isa bin Musa telah beberapa kali mengundangnya, tetapi Abu Hanifah tidak pernah memenuhi undangannya itu.

Namun kali ini, hanya untuk seorang pemabuk, Abu Hanifah hendak menghadap kepada gubernur Isa bin Musa.

Abu Yusuf semakin heran ketika Abu Hanifah mengatakan bahwa lelaki pemabuk itu menolong dirinya. Imam Abu Hanifah menjelaskan bahwa tetangganya itu bernyanyi sepanjang malam tanpa mengaharapkan balasan dari Allah atau manusia yang lain.

Hal itu membuat Abu Hanifah berpikir bahwa sudah seharusnya ia tidak merasa berat untuk bangun tengah malam karena dirinya mengharap balasan dari Allah.

Abu Hanifah juga menceritakan bahwa kemungkinan tetangga itu bernyanyi demikain karena mendapat perlakuan kurang baik dari orang lain. Karenanya, dia merasa tidak perlu mengeluhkan perlakuan buruk oleh orang lain karena ia hanya bergantung kepada Allah swt semata.

Hal itu membuat Abu Hanifah bersyukur kepada Allah. Abu Hanifah juga takjub dengan kesabaran dan perlindungan Allah kepada lelaki itu, sekalipun ia seorang pemabuk.

Kemudian, Abu Hanifah dan Abu Yusuf pergi menghadap kepada gubernur Kufah. Abu Hanifah disambut oleh gubernur dengan penuh penghormatan. Abu Hanifah mengutarakan maksud kedatangannya.

Gubernur Isa bin Musa segera memerintahkan kepada petugas untuk melepaskan lelaki pemabuk itu.

Gubernur memenuhi permintaan Abu Hanifah begitu saja, tanpa bertanya tindakan kejahatan apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Setelah itu petugas melepas lelaki tetangga Abu Hanifah itu, lelaki itu menangis di hadapan Abu Hanifah.

Ia begitu terharu dengan tindakan Abu Hanifah lalu ia berkata, ”Wahai Imam Abu Hanifah, katakan yang harus aku lakukan?”

Abu Hanifah menjawab, ”Engkau harus berjihad di jalan Allah”. Lelaki itu berkata, ”Aku akan berjihad di jalan Allah dan akan mati sebagai syuhada.”.

Kemudian Abu Hanifah bertanya lagi. “Bagaimana dengan istri dan anak-anakmu?”

Lelaki itu berkata, “Aku memilih berjihad di jalan Allah.”

Abu Hanifah berkata, “Untukmu berjihad adalah mengurus istri dan anak-anakmu.”

Setelah peristiwa itu, lelaki itu menjadi insaf. Demikian juga Abu Hanifah tidak hanya rajin beribadah kepada Allah, akan tetapi juga menolong tetangganya.

“Orang yang suka memikirkan kegembiraan untuk orang lain, maka terlebih dahulu kegembiraan itu akan singgah kepadanya.” pungkas sang Imam.

  • Bagikan