Ketika Nafsu Ubah Raja Jadi Budak, Sabar Ubah Budak Jadi Raja

  • Bagikan

Manusia sejatinya merupakan perpaduan antara aspek jasmani dan aspek rohani. Jasmani atau jasad digerakkan oleh nafsu yang memiliki kecenderungan hewanih.

Sedangkan, rohani senantiasa dibimbing oleh iman yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah. Manusia beriman dalam konteks ini memiliki sifat-sifat malaikat yang tidak pernah melakukan perbuatan maksiat dan durhaka kepada Allah.

Namun, malaikat didisain untuk tidak memiliki hawa nafsu, sehingga wajar saja malaikat selalu berada dalam puncak keimanan dan pengabdian secara total kepada-Nya. Manusia itu dianugerahi nafsu, tetapi masih bisa menyamai ketaatan malaikat.

Masalahnya adalah mengapa manusia kerap kali tidak berdaya menolak sentakan hawa nafsu, padahal ia menyadarinya. Misalnya, terlalu banyak orang yang mengerti bahwa mencuri harta negara itu perbuatan melanggar hukum dan bisa membuat sengsara rakyat, namun tangannya tidak kuasa menghindarinya.

Begitu pula, saat seseorang melakukan kebohongan, memutarbalikkan fakta, memakan yang haram, memandang yang dilarang, dan mendengar cerita bohong yang menghasut, panca indera tidak berkutik menolak semua bujuk rayu hawa nafsu tersebut. Itu terjadi lantaran hawa nafsu masih dominan bersarang di dalam kerajaan diri seseorang.

Dikatakan, ”nafsu itu bisa mengakibatkan raja-raja menjadi budak, sedangkan sabar menjadikan seorang budak menjadi raja. Bahagialah bagi mereka yang rohaninya menjadi raja, sedang nafsu menjadi tawanan.” (Ibn Hajar al-Asqalani dalam Nashaihul Ibad).

Maksud Hawa Nafsu

Menurut Ibn Athaillah dalam al-Hikam, hawa nafsu atau syahwat tidak dapat diusir dari dalam hati kecuali oleh rasa takut yang menggetarkan atau rindu yang menggelisahkan. Maksudnya, hawa nafsu yang sudah mendalam, mempunyai kekuatan yang luar biasa.

Karena itu, ia tidak dapat diusir, kecuali oleh kekuatan yang lebih besar. Takut yang menggetarkan adalah takut terhadap balasan Allah atau rindu terhadap apa yang dijanjikan Allah.

Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa sebagian orang yang ”mengerti” berkata, ”Perjalanan ‘orang-orang yang mencari’ itu berakhir dengan mengalahkan hawa nafsu. Barang siapa yang telah mengalahkan hawa nafsunya, ia telah menang dan berhasil. Sebaliknya, siapa yang dikalahkan oleh hawa nafsunya, ia termasuk orang-orang yang merugi dan menuai kehancuran”.

Allah menegaskan, ”Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Allah dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS Al-Nazi’at: 40-41). Mudah-mudahan penduduk negeri ini, baik pemimpin dan rakyatnya, mampu menundukkan nafsu angkara murka dan kehancuran. Mereka menjadi bernafsu untuk beriman dan bertakwa kepada Allah. Sehingga, Allah menjadikan negeri ini penuh keberkahan.

Sumber: KH M Arifin Ilham/Harian Republika

 

 

  • Bagikan