Kabar  

Kasus Positif Covid-19 di Malaysia “Meledak”, Alasan Ini Pemicu Utamanya!

KABARINDAH.COM – Analis politik James Chai yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia, memberikan analisisnya kenapa kasus Covid-19 di Malaysia terus mencetak rekor kendati pemerintah Negeri Jiran sudah mengantisipasi guna menekan angka penularan.

Hal itu disampaikan dalam kolomnya di media asal Timur Tengah, Al-Jazeera, pada 3 Agustus lalu berjudul “Malaysia: From COVID role model to a mini-India”.

Dia mengatakan fasilitas kesehatan negeri jiran Malaysia kian ‘ambruk’ akibat kasus virus corona yang terus melonjak setiap harinya. Bahkan Malaysia kini disebut mengalami ‘tsunami Covid-19 mini’, seperti yang sebelumnya sempat terjadi di India.

“Ketakutan terbesar Malaysia terhadap Covid-19 ialah apakah akan menjadi seperti India mini dan sayangnya, itu menjadi kenyataan,” kata James Chai, Minggu ini (22/8/2021).

Data mencatat, Malaysia kembali mencatatkan ‘ledakan’ kasus Covid-19. Pada Sabtu kemarin (21/8/2021), Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat ada tambahan 22.262 kasus baru Covid-19.

Dengan begitu, total kasus Covid-19 yang tercatat di Malaysia mencapai 1.535.286 kasus. Kenaikan ini terjadi di tengah kabar baik adanya Perdana Menteri baru, yakni Ismail Sabri Yaakob, yang dilantik Sabtu kemarin.

Baca Juga:  Universitas Muhammadiyah Bandung Akan Gelar Sholat Idul Adha, Ini Imam dan Khatibnya

Menurut Chai ada beberapa alasan kenapa kasus Covid-19 Malaysia ‘meledak’.

1. Terbuai Pujian

Chai mengatakan pemerintah Malaysia terlampau terbuai pujian lantaran mampu mencatatkan transmisi lokal untuk Covid-19 di angka nol dalam beberapa hari.

“Setahun yang lalu, Malaysia merayakan diri sebagai negara dengan transmisi lokal Covid-19 mencapai nol selama beberapa hari, meraih banyak pujian dari para ahli asing, akademisi, dan organisasi seperti WHO,” katanya.

“Tindakan cepat pemerintah Malaysia untuk menerapkan penguncian skala penuh, berinvestasi dalam pengujian dan fasilitas medis, dan menyebarkan komunikasi proaktif dengan publik menghasilkan lebih sedikit kasus daripada di seluruh Asia Tenggara,” jelas Chai.

Namun Chai menganalisis Malaysia dinilai terlalu cepat untuk memberi selamat kepada diri sendiri karena telah berhasil menahan virus tersebut.

“Ini adalah pembalikan nasib yang dramatis bagi sebuah negara yang pernah dianggap sebagai panutan dalam menangani pandemi,” kata Chai.

Baca Juga:  Dua Instansi Pemkot Sukabumi Terima Penghargaan di Ajang Indonesia Marketers Festival 2021

2. Menggelar Pemilu

Menurut Chai, keberhasilan Malaysia yang awalnya berhasil menahan Covid019 itu menjadi ‘kutukan’ lantaran pemerintah Malaysia cepat berpuas diri.

Karena merasa aman, pemerintah di sana menjadi terlalu percaya diri dengan hasil yang baik dari tindakan anti-pandemi pada 2020 dan pada Agustus 2020 memutuskan untuk mengadakan pemilihan umum (Pemilu) di seluruh wilayah, termasuk di wilayah bagian termiskin Malaysia, Sabah.

Selama masa kampanye, maskapai penerbangan meningkatkan frekuensi penerbangan untuk mengangkut politisi dan pendukung masuk dan keluar wilayah.

Secara total, 257 aksi unjuk rasa disetujui dan banyak yang diadakan dengan sedikit jarak sosial, penggunaan masker, atau kepatuhan terhadap pedoman kesehatan. Pada hari pemilihan, 1,1 juta pemilih hadir di tempat pemungutan suara.

Peneliti dari National University of Singapore menemukan bahwa pemilu Sabah menyumbang 70% kasus di negara bagian itu sendiri dan setidaknya 64% di wilayah lain.

Pada bulan-bulan berikutnya, karena jumlah kasus terus meningkat, pemerintah berupaya melakukan aksi penolakan, menyatakan bahwa situasinya “masih dapat dikendalikan” dan “terkendali”.

Baca Juga:  Kemenkes RI Gelar Sosialisasi Haji Sehat dan Vaksinasi COVID-19 di Kabupaten Jember

3. Akses Antarnegara Bagian Dibuka

Dampak dengan adanya pemilu juga membuat pemerintah melonggarkan akses masyarakat. “Perjalanan antarnegara bagian diizinkan dan pembatasan dilonggarkan pada bulan Desember, meskipun negara itu mengalami peningkatan hampir sepuluh kali lipat dalam kasus kumulatif dari Oktober hingga Desember,” kata Chai.

Pada Januari 2021, para profesional medis menulis surat terbuka kepada Perdana Menteri (PM) Malaysia saat itu Muhyiddin Yassin (kini dia sudah mengundurkan diri) tentang bencana yang akan datang di rumah sakit jika penularannya tidak dikendalikan.

Tapi kepuasan pemerintah memberi makna minimnya aksi yang dilakukan untuk mencegah pandemi.

Pembatasan dilakukan setengah hati dan tidak ilmiah. Ketika penguncian total secara nasional akhirnya dilakukan pada Juni, sudah terlambat, dan tidak dapat menghentikan angka infeksi tertinggi, dengan kasus mendekati 1 juta, di negara berpenduduk hanya 32 juta.