Pojok  

Jonan, Game Changer, dan Gagasan Perubahan Besar

Oleh Dr Budi Santoso (Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta)

Ignasius Jonan, mantan bos KAI, eksekutif perusahaan kelas dunia, serta mantan menteri pernah berkata dalam suatu orasinya di sebuah kampus, doktor (S3) hasilnya berupa disertasi atau apapun namanya, ya itu itu saja, tidak memberikan impact atau kemanfaatannya.

Dan hadirinpun dari kalangan mahasiswa bertepuk tangan. Para dosen akademisi hanya tersenyum-senyum saja. Saya tidak membantah apa yang dikatakan Jonan dan tidak juga membenarkannya.

Saya mengagumi Jonan ini, sebagai game changer, orang yang mampu mengimplementasikan, membumikan gagasan, orang yang mampu “melandingkan” suatu impian dan gagasan. Ya, seperti pilot melanding-kan pesawat, mampu mengelola saat kritis ketika roda pesawat menyentuh landasan.

Baca Juga:  Bos Monster, Nasib Pegawai, Baperan Vs Berperan

Mengimplementasikan sebuah strategi bukan pekerjaan mudah. Karena inilah masa when the tyre hits the road. Pemimpin akan berurusan dengan orang yang bermacam-macam karakter. Orang yang sudah nyaman di tempatnya, harus berubah.

Membuat kegaduhan, shaking the boat, akan menggoncang perahu, yang kuat berdiri akan kokoh, yang letoy dan ragu-ragu serta tidak memiliki pegangan akan rebah terjungkal atau terlempar keluar perahu.

Gagasan perubahan yang besar, begitu mudah dicerna oleh para pegawai sekelas pembersih kereta atau pegawai level bawah yang berpendidikan di bawah SMA. Inilah istimewanya, mampu membuat pegawai paham. Bukan sekadar membual dengan slogan atau jargon kosong. Alias pemimpin pemimpi atau omdo.

Baca Juga:  Welfare State dan Dua Sayap Kesejahteraan

Kata orang, big ideas is simply explained, artinya semua jangan dibikin ruwet. Katanya, orang yang pandai adalah membuat sesuatu yang ruwet menjadi gampang.

Kenapa banyak orang sering mempersulit diri dengan keruwetan? Mungkin agar terlihat pintar dan intelek. Padahal sebenarnya, katanya sedang “memamerkan” kebodohan.

Jonan seorang terpelajar. Memiliki berbagai gelar akademis yang “seabreg” dan lulusnya dengan kualifikasi yang bukan “kaleng-kaleng”, nyaris perfecto. Namun, ketika berpidato dan menjalankan visi-misi dan strategi mampu menjelaskan sesuatu dengan sederhana. Tidak menggunakan berbagai istilah manajemen yang hanya dikenal oleh dirinya, kalangan akademisi dan Tuhan.

Mungkin pembaca sekarang sedang mumet membaca berbagai istilah dalam tulisan saya? Mungkin saya sedang membuat ruwet pembaca, terlihat sok-sokan. Mungkin agar saya terlihat terpelajar, dan mungkin saya sedang “mbulet”.

Baca Juga:  Puisi Perasaan yang Berujung Sirna

Atau sekadar biar keren dan terlihat secara implisit kelihatan orang sekolahan. Namun, tujuan saya hanya ingin membuat Anda santai saja. Sekedar membuat kegembiraan di pagi hari yang mendung.

Memang kali ini, saya sering membuat banyak istilah kata atau idiom bahasa Inggris. Kata orang biar jangan malu-maluin. Meski banyak yang tidak paham. Inilah saya, kalau hidup selalu ingin mengikuti kata orang. Masalah mudah dibikin ribet.

Wiissss… wuiissss… angel.. nemen tuturanmu.