Pojok  

Hilangnya Humanisme di Era Digital

Oleh: Dr. Encep Dulwahab, M.Ikom | Pakar Ilmu Komunikasi UIN Bandung

KABARINDAH.COM – Manusia semakin hari semakin dimudahkan bahkan dimanjakan dengan kehadiran berbagai fasilitas teknologi digital. Mau belanja pakaian, membeli makanan dan minuman, dan ingin mendapatkan barang-barang kebutuhan lainnya, hanya cukup pijit handphone kemudian datanglah pesanan.

Tanpa susah payah, tanpa energi yang dikeluarkan, tanpa kehujanan, tidak kedinginan atau kepanasan. Tinggal duduk manis, apa pun bisa bisa didapatkan.

Evgency Morozov (2013) melihat kenyataan ini sebagai fasilitas yang memudahkan manusia dalam beraktivitas berbasis teknologi. Perkembangan berbagai piranti teknologi ini, diharapkan bisa memecahkan kompleksitas masalah masyarakat. Di setiap zaman, selalu lahir berbagai hasil kreasi umat manusia yang diciptakan untuk memudahkan urusan atau aktivitas manusia.

Namun nyatanya sebagaimana dikatakan Astra Taylor (2014) bahwa kehadiran berbagai platform digital ini, tidak dengan mudah dan ajaib menyelesaikan masalah di masyarakat. Hadirnya teknologi digital dalam berbagai platform, hanya bisa membantu sisi kecepatan dan kepraktisan, namun telah menggerus nilai-nilai kemanusiaan, seperti semakin menurunnya empati karena kurang terasah untuk berinteraksi, kurangnya toleransi karena tidak teruji untuk berkomunikasi secara face to face, serba instan dalam mengerjakan dan melakukan sebuah pekerjaan.

Baca Juga:  Pojok: Fatwa MUI dan Uang Kripto

Kehadiran teknologi membuat manusia tidak lagi bisa merasakan bagaimana respon dan reaksi dari orang yang kita ajak bicara. Manusia seperti terasing dengan kehadiran teknologi. Posisi yang jauh bisa diakses dan diajak berbicara, namun orang di dalam rumah tidak lagi berkomunikasi dengan baik. Masing-masing bicara sendiri dan menjadi tidak terasa rasa kemanusiaannya, berbeda dengan komunikasi langsung akan terasah empati dan kecakapan dalam memahami lawan bicara.

Era digital bisa membantu manusia dalam membunuh kejenuhan, rasa bosan, bahkan manusia berjam-jam memelototin handphone sekedar melihat lihat berbagai sajian di media sosial, mulai dari youtube dan short, Instagram dan reels, dan ocehan-ocehan di grup whatsapp. Sampai lupa waktu dan melalaikan pekerjaan yang lebih penting lainnya.

Baca Juga:  Erick Thohir, Visi Futuristik dan Generasi Muda Indonesia

Ada masalah baru dari praktik perniagaan dengan menggunakan aplikasi digital, yaitu orang marah bahkan tidak sedikit yang bertikai gara-gara barang yang di pesan tidak sesuai dengan harapannya. Mereka juga seringkali bersitegang dengan kurir yang mengantarkan barangnya yang tidak sesuai dengan harapan, atau tidak seperti foto yang di display.

Berbeda dengan transaksi pasar konvensional yang bisa memegang langsung produk yang akan dibelinya. Mengamati kualitas produk untuk mengecek keaslian, kualitas, dan ada tidaknya cacat produk tersebut. Kalau segala sesuatunya sudah pasti bagus, dan harga sesuai kemampuan, barulah terjadi negosiasi yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

Teknologi komunikasi digital bisa mengancam keterampilan orang dalam berkomunikasi secara langsung. Cara merespon lawan bicara ketika berkomunikasi langsung. Kalau ini berlarut dan banyak orang mempraktikkan komunikasi digital, maka kecerdasan komunikasi akan menjadi kaku.

Baca Juga:  Pesan dan Bahasa Pejabat

Kodrat manusia ingin berkomunikasi secara langsung. Komunikasi sudah menjadi kebutuhan mendasar. Akan rusak psikologis seseorang kalau komunikasinya tidak terpenuhi. Materi berlimpah sehingga bisa memenuhi kebutuhan fisik dan biologis, namun akan terasa hampa kalau kebutuhan berkomunikasinya tidak terpenuhi.

Kita harus seimbang dalam menjalankan kehidupan. Mengikuti perkembangan zaman harus, namun jangan sampai melupakan komunikasi interpersonal secara face to face, karena fisik dan psikis pun membutuhkannya.***