KABARINDAH.COM, Bandung – Momentum Tahun Baru Hijriah hendaknya tidak dimaknai sekadar sebagai pergantian tahun dalam kalender Islam.
Lebih dari itu, peristiwa hijrah menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, baik secara spiritual, intelektual, maupun sosial.
Pesan tersebut disampaikan Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Iim Ibrohim MAg saat menjadi narasumber dalam Program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Senin (15/06/2026).
Menurutnya, hijrah yang dicontohkan Rasulullah SAW bukan hanya perpindahan tempat dari Makkah ke Madinah, melainkan sebuah proses transformasi diri menuju kehidupan yang lebih diridai Allah SWT.
Oleh karena itu, semangat hijrah perlu diwujudkan dalam upaya membangun generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan zaman.
“Hijrah adalah proses perubahan menuju kualitas diri yang lebih baik. Di dalamnya ada perjuangan, pengorbanan, kesabaran, dan komitmen untuk terus berada di jalan Allah,” ujarnya.
Dalam kajian tersebut, Iim juga menekankan pentingnya ilmu sebagai fondasi utama peradaban Islam.
Dia mengingatkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk memohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima Allah SWT.
Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam.
Dia menjelaskan bahwa ilmu merupakan warisan para nabi yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Oleh sebab itu, perjuangan di jalan Allah tidak hanya diwujudkan melalui pengorbanan harta dan tenaga, tetapi melalui kesungguhan dalam menuntut ilmu serta membina generasi penerus yang berkualitas.
Namun, Iim mengingatkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks.
Salah satunya adalah menurunnya semangat belajar dan kecenderungan untuk lebih mengutamakan penampilan dibandingkan dengan pengembangan kualitas diri.
Menurutnya, generasi muda perlu diarahkan untuk memperkuat ilmu, karakter, dan spiritualitas agar tidak terjebak dalam budaya yang mengedepankan pencitraan semata.
“Generasi muda harus fokus membangun kualitas diri, memperkuat ilmu, akhlak, dan kedekatan kepada Allah. Jangan sampai energi dan waktu habis hanya untuk mengejar penampilan,” katanya.
Selain itu, dia juga menyoroti perkembangan teknologi yang harus disikapi secara bijak. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), dapat menjadi sarana yang sangat bermanfaat dalam pembelajaran apabila digunakan secara benar.
Sebaliknya, penyalahgunaan teknologi untuk melakukan kecurangan justru akan merusak integritas dan menghambat proses pembentukan karakter.
Sebagai jawaban atas berbagai tantangan tersebut, Iim menekankan pentingnya konsep generasi mahmudi.
Generasi ini digambarkan sebagai generasi yang memiliki karakter qurani, rendah hati, amanah, santun, sabar, dan hidup sederhana.
Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak semata-mata diukur dari prestasi akademik atau kemewahan yang dimiliki, tetapi dari kekuatan akhlak dan kedekatannya kepada Allah SWT.
Generasi mahmudi ialah generasi yang mampu menjaga integritas, menjadikan ibadah sebagai fondasi kehidupan, serta tetap rendah hati meski memiliki banyak kelebihan dan prestasi.
“Generasi yang kita harapkan bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi kuat secara spiritual dan kokoh secara moral,” tegasnya.
Iim pun mengajak seluruh umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan memperkuat pembinaan generasi.
Menurutnya, masa depan umat sangat ditentukan oleh hadirnya generasi yang berilmu, jujur, amanah, sederhana, dan istikamah dalam menjalankan nilai-nilai Islam.
“Hijrah harus melahirkan perubahan nyata. Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi berakhlak mulia dan siap melanjutkan perjuangan umat. Itulah generasi mahmudi yang menjadi harapan masa depan bangsa dan peradaban Islam,” pungkasnya.***











