Ibrah  

Ekosistem Gerakan Baru, Melahirkan Sistem Sosial Muhammadiyah Baru

Oleh: Ace Somantri*

Gerakan terbarukan merupakan gerakan Islam Muhammadiyah yang menjawab pertanyaan fenomena gerakan kekinian organisasi sosial kemasyarakatan Islam di Indonesia.

Dulu, saat berdiri gerakan Islam yang dilahirkan Kiai Ahmad Dahlan menjawab persoalan mendasar sebuah komunitas masyarakat besar, yaitu sebuah bangsa, ketika itu kebodohan dan kemiskinan ilmu.

Saat ini, persoalan besar yang dihadapi bukan kebodohan dan kemiskinan ilmu, puluhan ribu lembaga pendidikan tersebar dan berdiri tegak di tengah-tengah masyarakat, melainkan kemiskinan dan kebodohan moralitas manusia yang tak mengenal kelas sosial dan profesi individu masyarakat.

Elite-elite individu masyarakat sibuk menimbun harta dengan cara yang benar sesuai profesi dan keahlian yang dimiliki maupun melalui cara jalan salah untuk mempercepat jumlah angka dalam berankasnya.

Sudah sangat darurat, budaya korupsi di tingkat elite-elite sekelompok manusia yang memiliki ruang pragmatis sudah mentradisi. Saat ini sudah tidak lagi dibawah meja dengan sembunyi-sembunyi, melainkan di atas meja dengan terbuka terang-terangan tanpa rasa takut dan malu.

Justru saat menggunakan pakaian rompi orange kebesaran, terlihat senyum dan melambaikan tangan memperlihatkan auratnya yang sudah hilang marwahnya.

Mereka yang tertangkap dan ditangkap, rerata mengambil harta yang bersumber dari negara dalam anggaran pemerintah atau mereka yang menyalahgunakan wewenang atas jabatan yang diberikan negara.

Sementara itu, bagi mereka yang menyalahgunakan wewenang di luar jabatan yang tidak diberikan oleh negara dapat dijerat oleh pihak penegak keadilan pemerintah atau akan selamat? Faktanya, hampir dipastikan selamat, mereka yang melanggar hanya sanksi sosial semata.

Di persyarikatan Muhammadiyah, ruang gerakannya sangat mungkin dibuat eksistem gerakan yang terstruktur dan terintegrasi hingga saling memberi manfaat.

Boleh jadi saat ini sudah terjadi, namun masih bersifat farsial yang tidak terorganisasi secara komprehensif dan holistik. Hanya di beberapa daerah dan wilayah mungkin terjadi.

Namun, namun pada umumnya ekosistem gerakan institusi belum terbangun dengan baik, padahal jaringan struktur persyarikatan Muhammadiyah lebih dari memadai.

Lagi-lagi menjadi persoalan mendasar, kondisi sumber daya insani yang dimiliki tak jauh dan tak ada bedanya dengan individu birokrat dan pejabat negara. Fakta yang tampak di lingkungan Muhammadiyah nyaris sama dengan sistem sosial di negara.

Tanpa disadari, sudah mentradisi dan berlaku menjadi pranata Muhammadiyah, pimpinan memiliki ruang hak veto terhadap dinamika persyarikatan karena dengan jabatan yang melekat hingga langsung berdampak pada kegiatan seluruh amal usaha Muhammadiyah.

Ekosistem gerakan terletak pada rantai pasokan ide, gagasan, dan karya para kader penggerak persyarikatan. Selain mekanisme dan pola gerakan yang diatur untuk saling terikat satu jenis dan bentuk gerakan satu dengan gerakan lainnya.

Output dan outcome dari setiap gerakan yang saling berdampak pada peningkatan mutu atau kualitas gerakan yang dijalankan. Dari sistem yang terbangun dengan saling terkonenksi, menjadi sirkulasi gerakan yang muncul akan memberi denyut nadi dan vibrasi gerakan lebih terasa dan dapat dirasakan.

Secara otomatis, ketika ekosistem gerakan tersusun rapi dan memenuhi standar gerakan yang terukur dan terstruktur pencapaian tujuan dan target akan lebih cepat terpenuhi.

Dalam gerakan perubahan sosial, tidak mungkin hanya dengan strategi tunggal, melainkan membutuhkan multi-strategi yang terkoneksi.

Keseimbangan berbagai jenis dan bentuk kegiatan yang dijalankan Muhammadiyah yang saling melengkapi dan memunculkan gerakan dengan output dan outcome yang saling memberi manfaat tanpa ada yang dirugikan.

Saat ini, ekosistem gerakan persyarikatan Muhammadiyah masih bersifat parsial. Masalah-masalah yang dihadapi, ada beberapa kekurangan dan kesalahan yang bersifat struktural ataupun kultural.

Kejujuran fungsional struktural organisasi dipertaruhkan karena segala hal yang berkaitan dengan kebijakan dan keputusan institusi mempengaruhi dinamika organisasi.

Sejauh ini, fakta yang dapat dilihat dan dirasakan keterpengaruhannya terhadap laju gerak organisasi, termasuk maju dan mundurnya produktivitas gerakan, sangat bergantung pada kebijakan dan keputusan yang diambil.

Hasil karya gerakan, wujud nyata yang bernilai manfaat bagi umat, semata bukan karena asal “ada”, hewan pun dapat melakukan jika demikian.

Namun, harus dapat meningkatkan tarap hidup dirinya dan semua makhluk, khususnya manusia, jadi lebih sehat dan berpengetahuan dan wawasan luas.

Muhammadiyah bukan tidak memiliki ekosistem gerakan, tetapi harus memperbaiki dan mengubah ekosistem lama yang dianggap dan terindikasi gerakkannya melambat.

Sehingga tuntutan perubahan beradaptasi dengan sistem sosial baru, konsekuensinya harus membuat ekosistem gerakan baru dengan strategi atas dasar empiris, historis, dan visi kehidupan alam ke depan.

Ada beberapa langkah pembentukan ekosistem gerakan di persyarikatan Muhammadiyah.

Pertama, transformasi personal (personal transformation), yakni gerakan yang menekankan perubahan diri hingga sadar terhadap perubahan zaman yang harus ada regenerasi personal kepemimpinan maupun lainnya.

Sehingga percepatan perubahan lebih terasa dan berdampak pada sikap diri saling mempercayai dan menghormati untuk sebuah dinamika organisasi.

Kedua, mendesain alternatif pilihan gerakan baru dan keterbaruan. Namun, tetap jangan mengubah konsep dan rumusan dasar-dasar yang bersumber pada ajaran utama Islam.

Hal itu didasarkan pada perubahan sikap dan perilaku manusia yang kian hari semakin rakus dan serakah sehingga mengakibatkan kondisi isi alam semesta semakin tak terkendali kerusaknnya.

Ketiga, melakuan “inside game” yang terbuka masuk menjadi bagian pada seluruh sistem kebijakan formal dalam ruang persyarikatan.

Sehingga pengkondisian hukum, politik, dan ekonomi di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah dapat diakselerasi untuk mendorong pada gerakan baru dengan komposisi personal pemimpin baru dan formulasi gerakan terbarukan.

Keempat, basis gerakan terstruktur pada kekuatan organisasi yang solid (bunyan al marsus). Bagai benteng bergerak, bukan benteng yang diam hanya bertahan. Namun, menahan dan mendorong lajunya gerakan lebih fokus dan terarah tetapi tetap cepat pergerakannya.

Kelima, membuat opini secara massal dan menekan (mass opinion). Yakni membuat sebuah narasi bersama untuk memberikan informasi dengan diksi-diksi menekan agar pihak tertentu melakukan perubahan sesuai tuntutan yang logis dan objektif.

Dilakukan secara masif dan agresif. Namun, harus tetap mengedepankan sikap santun dan beradab. Kerangka dan pola berpikirnya harus rasional dan diperkuat data yang objektif.

Sedikit dari pendapat di atas, dapat dibuktikan dalam rentang sejarah ribuan tahun lalu.

Sebut saja masa Nabi Muhammad SAW, hanya butuh waktu kurang lebih 23 tahun, langsung ada perubahan sistem sosial yang dipengaruhi oleh gerakan sosial yang komposisi personal kepemimpinan yang hebat, kuat, kreatif dan inovatif.

Dalam konteks kekinian, besarnya entitas sosial Muhammadiyah justru membuka peluang untuk mempercepat perubahan dan membangun ekosistem gerakan baru yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.

Sebagai organisasi yang dikenal sebagai gerakan pembaru (tajdid), Muhammadiyah semestinya tidak alergi terhadap pembaruan. Namun, terus berani mengembangkan model gerakan dan sistem sosial organisasi yang lebih adaptif serta terbarukan.

*Wakil Ketua PWM Jawa Barat