Cinta yang Direstui Allah, Tak Selamanya Bersatu dalam Pernikahan!

  • Bagikan

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para Nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang Shaleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa[4}:69).

KABARINDAH.COM – Betapa pentingnya kita menaati Allah dan Rasul-Nya, agar bahagia di dunia dan akhirat. Betapa pentingnya kita menjaga pandangan serta kasih sayang, agar hanya mempersembahkan diri kita bagi yang berhak suatu hari nanti.

Menjaga diri dari cinta yang tidak direstui Allah, akan membawa kita pada kemuliaan.

Ada seorang pemuda tampan, rajin beribadah dan taat kepada Allah berasal dari Kufah, pergi mengunjungi sebuah kampung. Disana, dia melihat seorang wanita cantik hingga jatuh hati kepadanya. Wanita tersebut ternyata juga mencintainya.

Karena pemuda itu sangat mencintai sang wanita, dia pun mengutus seseorang untuk melamarnya. Namun, ayahnya mengabarkan bahwa putrinya telah dijodohkan dengan saudara sepupunya. Meski begitu, cinta keduanya tetap membara.

Wanita itu kemudian mengutus seseorang untuk mengirimkan pesan kepada sang pemuda, isinya: “Aku tahu sungguh besar cintamu kepadaku, dan sungguh besar pula aku diuji dengan dirimu. Bila kamu setuju, aku mengunjungimu, atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.”

Pemuda itu membalas pesan yang dikirimkan oleh kekasihnya, melalui orang suruhannya. “Aku tidak setuju dengan apa yang engkau kemukakan. Sungguh, aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku kelak. Aku takut pada api yang nyalanya tak pernah mengecil, dan kobarannya tak pernah padam.”

Pesan itu telah sampai kepada wanita tersebut. Dia pun berkata, “Meski begitu, ternyata dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tiada seorang pun yang lebih bertakwa kepada Allah dari orang lain. semua hamba pun berhak untuk itu.”

Wanita itu pun meninggalkan semua urusan dunia serta perbuatan buruk lainnya. Ia mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Tubuhnya mulai kurus sebab menahan rasa cinta dan memendam kerinduannya, hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Kekasihnya, pemuda itu seringkali berziarah ke kuburnya. Dia menangis dan mendoakannya. Suatu hari, pemuda itu tertidur di atas kuburan kekasihnya. Dia bermimpi bertemu dengan sang kekasih dengan penampilan yang sangat baik.

Dalam mimpinya, dia bertanya kepada kekasihnya, “Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”

Kekasihnya menjawab, “Sebaik-baiknya cinta, wahai orang yang bertanya adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan.”

Pemuda itu kembali bertanya, “Jika begitu, kemanakah engkau menuju?”. Kekasihnya menjawab, “Aku kini menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir, di surga. Kekekalan yang dapat kumuliki dan tidak akan pernah rusak”

Pemuda itu berkata, “Aku berharap, engkau selalu ingat kepadaku disana. Karena aku disini juga tidaklah melupakanmu.”. Kekasihnya menjawab, “Demi Allah! Aku juga tidak melupakanmu. Aku meminta kepada Allah Swt agar kelak kita bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam beribadah.”

Sang pemuda bertanya, “Kapan aku bisa melihatmu?”.

Jawab kekasihnya, “Tak lama lagi engkau akan datang melihatku.”

Maka, tujuh hari setelah mimpi tersebut berlalu, sang pemuda dipanggil Allah. Ia meninggal dunia.

  • Bagikan