Pojok  

Bos Monster, Nasib Pegawai, Baperan Vs Berperan

Oleh Dr. Budi Santoso
(Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta)

Atasan itu seperti bapak kita, tidak bisa kita pilih. Atasan seperti jatuh dari langit. Suka tidak suka bawahan yang harus “manut”, kalau ingin “selamat” dalam pekerjaan, kecuali Anda memilih pindah kerja.

Sering kita mengeluh ketika ketemu bos, dengan julukan monster, setan atau toxic, dan menjadi momok bagi bawahannya. Bahkan atasan yang dianggap “busuk” dan “beracun” sebagai biang depresi bawahannya. Katanya sebagian besar orang berhenti bekerja karena adanya ketidakcocokan dengan atasannya.

Bos diangkat oleh “penguasa” karena dianggap bisa memberikan kontribusi atau hasil positif bagi organisasi. Hasilnya dapat ditunjukkan dalam laporan keuangan perusahaan atau apabila dalam pengukuran lain dengan dimensi pengukuran kinerja menyeluruh.

Baca Juga:  Ibu, Sang Guru Kehidupan Penuh Kasih dan Sayang

Seperti balance score card dapat dilihat dalam empat aspek atau perspektif yaitu, Financial Perspective (Perspektif Keuangan), Customer Perspective (Perspektif Pelanggan), Internal Process Perspective (Perspektif Proses Bisnis Internal) dan Learning and Growth Perspective (Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan).

Di mana “kebahagiaan” anak buah atau pegawai, dilaporkan?

Dalam rapat umum pemegang saham, fokus yang dibicarakan hanya laporan keuangan tahun lalu, dan rencana yang akan datang, dan bagi dividen. Sedangkan semua persoalan “ketidakcocokan” atau disharmoni hubungan antara atasan-bawahan, frustrasi pekerja sepertinya “tidak perlu” dilaporkan kemana-mana, apalagi ke pegang saham.

Seperti orang menyapu, namun sampahnya disembunyikan di bawah karpet. Hanya orang HR atau SDM yang dapat merasakan dan berusaha membantu menyelesaikannya.

Baca Juga:  Kerangka Penulisan Hasil Penelitian

Ketika baperan, hanya kita yang merasakan. Terus kita harus bagaimana?

Hari ini Senen, mungkin awal pekan yang harusnya semangat, namun kalau Anda yang memiliki bos kampret atau beracun pasti bertambah malaslah ke tempat kerja, setelah anda weekend kehabisan tenaga berkeliling jalan-jalan bersama keluarga.

Sebaiknya, janganlah membayangkan tampang bos Anda. Bayangkan saja wajah bos Anda seperti gambar foto pahlawan di lembaran uang, suka tidak suka dengan gambar tokohnya Anda akan selalu menggunakan uang tersebut.

Dalam masa pandemi, dalam kesulitan perekonomian, sebaiknya kurangi baperan, dan perbanyak berperan. Karena kehilangan gambar tokoh di mata uang lebih runyam ketimbang sekedar omelan boss. Percayalah saya, bokek itu “menyakitkan”, karena kehilangan harga diri dan duit jajan. Kalau tidak percaya, coba saja. (*)

Baca Juga:  Anak Muda Vs Orang Tua, Era Digital, dan Prestasi