Ibrah  

Bila Kamu Mencintai Allah, Cintailah Juga Nabi Muhammad

KABARINDAH.COM – Ibn Athaillah Al-Syakandari berujar di dalam kitab Al-Hikam, “The True lover is not he who hopes for compensation or seeks his own aim from his beloved. Rather, the lover spends himself on his beloved. The lover is not the who expects his beloved to spend him.”

Cinta adalah dasar dan prinsip perjalanan menuju Allah, mesin penggerak jasad dan jiwa, dan penghidupan yang hakiki selama di dunia. Setiap keadaan dan peringkat yang dialami oleh pejalan (salik), adalah tingkat-tingkat cinta kepada-Nya, dan semua peringkat (maqm) dapat mengalami kehancuran, kecuali cinta. Ia (cinta) tidak bisa hancur dalam keadaan apapun selama jalan menuju Allah tetap kita tempuh.

Jadi, berbahagialah bila di kedalaman hati kita tersimpa rasa cinta. Berbahagialah karena Allah akan selalu berjalan di dalam hati setiap hamba-Nya yang terkandung cinta. Berbahagialah karena dengan begitu, hidup kita akan selalu mengejawantahkan optimisme, kegembiraan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Baca Juga:  Apakah 5 Cara Nyatakan Cinta Ala Generasi 90-an ini Ketinggalan Zaman? Coba Cek!

Cinta, tergantung kepada orang yang sedang mengalaminya dalam kehidupan. Cinta adalah salah satu dorongan dalam hidup manusia. Tanpa memiliki perasaan cinta, kita akan berada pada hidup yang penuh ketidakpastian, keruwetan pikir, dan kegundahan jiwa. Semangat hidup kita tidak akan nampak; meredup serupa siput yang bersembunyi di bawah baju jirahnya.

Cinta, objeknya berbeda-beda; bisa harta benda, suami, istri, anak, atau kekasih. Cinta seperti ini berkaitan dengan kesenangan duniawi. Dan, setiap manusia pasti memiliki cinta terhadap kesenangan duniawi tersebut.

Hal itu diinformasikan Al-Quran sebagai berikut, Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita (dan pria-pria), anak-anak lelaki (dan anak-anak perempuan), harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup duiniawi; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga dan kenikmatan hidup ukhrawi) (QS Ali ‘Imran [3]: 14).

Baca Juga:  Jalaluddin Rumi, Cinta Transedental dan Kerinduan Mistikal

Nah, cinta juga bisa terhadap segala hal yang telah berjasa besar dalam mengarahkan hidup. Misalnya, mencintai Nabi Muhammad Saw., meskipun beliau sudah tidak ada dihadapan lagi. Cinta seperti ini muncul dari kekaguman, pengabdian dan penghormatan.

Kemudian, Allah Swt. memberikan evaluasi terhadap kekuatan cinta dengan cara membandingkan. Di sini, cinta kita diuji.

Apakah kita lebih mencintai harta, jabatan, suami, istri, anak, atau pasangan ketimbang Allah dan Muhammad Saw.?

Kalau saja lebih mencintai objek selain Allah dan Muhammad Saw., kita termasuk orang fasiq. Mereka mengetahui mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah keniscayaan tetapi dalam praktik keseharian tidak menghiraukan ajaran-Nya.

Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, pasangan-pasangan, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq (QS Attaubah [9]: 24).

Baca Juga:  Yuk Teladani! Cinta Abadi Rabiah Al-Adawiyah pada Tuhan

Nah, begitulah cinta menurut Al-Quran.

Kita semestinya mencintai hidup untuk mengabdikan secara penuh kepada sang pencipta, Allah Swt.

Caranya dengan meneladani kepribadian Muhammad Saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah kenapa mencintai Nabi Muhammad Saw. disamakan dengan telah mencintai Allah Swt.

Dengan sejumlah kebaikan Allah yang telah kita rasakan dalam hidup, sebagai wujud keberbaktian pada-Nya, kita harus membalas cinta Allah dengan pengabdian.

• Kita harus selalu menjaga rutinitas ibadah harian kita,
• mengingat Allah dalam setiap kesempatan,
• mendawamkan kebaikan kepada sesama manusia,
• dan meneladani sunah Rasulullah.

Karena hanya dengan inilah kita akan selalu mendapatkan cinta dari Allah sehingga hidup menjadi berkah di dunia maupun di akhirat. Allah SWT berfirman, “Kalau kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu.” (QS Ali ‘Imran [3]: 31).