Bersandar kepada Amal

  • Bagikan

Oleh Mia Sari Novianti MPd
Alumnus Magister STAI Sukabumi

Ibnu Athaillah RA berkata, “Di antara tanda bersandar kepada amal adalah berkurangnya rasa harap ketika terjadi kesalahan.”

Bersandar dalam KBBI memiliki lima makna, yaitu bersangga, bertumpu, bertopang, membuang sauh dan berlabuh. Bersandar adalah mengerahkan kekuatan kepada sesuatu, menyandarkan diri merupakan dorongan dari dalam diri yang muncul karena mengharapkan sesuatu dari yang disandarinya.

Dalam hal bersandar kepada amal, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama bersandar pada amal, golongan ini membatasi diri, mengabaikan karunia Allah dan yang menjadi tujuan hidupnya adalah mengumpulkan amal.

Kedua, golongan orang yang bersandar pada Karunia Allah. Golongan ini menyadari Karunia Allah dan tujuan hidupnya adalah melepaskan diri dari segala daya dan kekuatan. Golongan ini selalu kembali kepada Allah dengan memuji dan bersyukur ketika berada dalam kesenangan dan menampakkan keindahan serta kefakiran ketika ditimpa kesulitan.

Ketiga, golongan yang bersandar pada pembagian dan ketentuan Allah yang sudah ditetapkan. Kelompok ini menyadari adanya kendali Tuhan, sehingga yang menjadi perhatian dan tujuan hidupnya adalah fana dalam ketauhidan.

Seorang ahli hakikat mengatakan, orang yang telah sampai pada hakikat Islam tidak akan melemah dalam beramal. Dan orang yang telah sampai pada hakikat Iman tidak akan berpaling kepada amal dan orang yang telah sampai pada hakikat ihsan tidak akan menoleh kepada apapun dan siapa pun selain Allah.

Rasulullah bersabda, “Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya. Sahabat bertanya, “Sekali pun engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Saya pun tidak, kecuali berkat rahmat Allah kepadaku.” (HR Bukhari dan Muslim). Dengan kata lain, Rasulullah yang menjadi makhluk termulia tidak bisa menjaminkan amalnya untuk masuk surga, karenanya Nabi Muhammad SAW dijamin masuk surga dengan rahmat Allah SWT.

Jadi, ketika terlanjur berbuat dosa maksiat dan berputus asa hingga merasa terpuruk seakan-akan diri ini tidak akan diterima oleh Allah, hal ini akan berpengaruh pada kualitas amal soleh dan akhirnya membuat kita berhenti beramal. Oleh karena itu, teruslah berharap kepada Allah untuk mendapatkan ridho dan rahmat-Nya.

Buang jauh-jauh kecenderungan untuk menggantungkan harapan kepada amal-amal kita, baik dalam kadar yang besar ataupun kecil sekalipun. Teruslah berharap kepada Allah dengan giat melakukan amal-amal soleh tanpa menghitung-hitung seberapa yang sudah kita kumpulkan.

Syariat menyuruh kita untuk selalu berusaha dan beramal. Sedangkan hakikat melarang kita menyandarkan diri pada amal supaya tetap hati selalu bersandar pada rahmat dan bergantung kepada pertolongan Allah swt. Wallahu a’lam bishawab. (*)

  • Bagikan