Atasi “Mata Rantai Data Terputus”, Pemkot Sukabumi Gagas Inovasi Trisula LISDA

KABARINDAH.COM, Sukabumi–Pemkot Sukabumi menginisiasi langkah inovatif untuk mentransformasi budaya kerja birokrasi dari intuitif menjadi berbasis data (data-driven culture). Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Pemkot  memperkenalkan inovasi Literasi Statistik Daerah bertajuk “Trisula LISDA Sukabumi”.

Langkah ini diambil karena pemerintah bertekad menyelesaikan tantangan “Mata Rantai Data yang Terputus” (The Missing Link) yang selama ini menghambat optimalisasi kebijakan publik. Inovasi tersebut diperkenalkan dalam webinar Statistik bertajuk “Upah Minimum dan Strategi Jangka Panjang finansial Provinsi Jawa Barat yang diselenggarakan pada Kamis (26/2/2026).

Momen tersebut sekaligus menjadi rapat persiapan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Sekretariat Daerah, Badan Pusat Statistik (BPS), dan berbagai dinas terkait seperti Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah. Dalam era digital, data sering disamakan dengan minyak mentah (new oil) yang berharga.

Namun, Kepala Bidang Statistik, Persandian, dan Keamanan Informasi Diskominfo Kota Sukabumi, Cepi Suryadi mengatakan, data tersebut tidak akan bernilai maksimal tanpa pengolahan dan pemahaman yang tepat. “Kami menyadari adanya gap serius. Data yang melimpah di portal Open Data seringkali hanya berhenti sebagai pemenuhan administrasi di internal aparat, belum sepenuhnya menjadi dasar analisis mendalam untuk Evidence-Based Policy,” ujarnya.

Tujuan utama inovasi ini terang Cepi, adalah memastikan dokumen perencanaan seperti RKPD dan RPJMD disusun berdasarkan data yang akurat dan tajam, bukan sekadar asumsi belaka. Untuk memastikan kebijakan publik tepat sasaran, inovasi Trisula LISDA bergerak melalui tiga jalur utama.

Pertama, data squad OPD untuk aparat dengan peningkatan kapasitas melalui webinar, visualisasi data dan data storytelling untuk mempertajam laporan kinerja aparatur. Kedua, Edukasi Masyarakat dengan penguatan literasi melalui “ Pojok Literasi Digital” dan kampanye infografis statistik kreatif di ruang publik dan media sosial, fokus pada lokus “Kelurahan Cantik” (Cinta Statistik).
Dan sasaran ketiga mahasiswa melalui  “Sukabumi Data Challenge” berupa  tantangan pengolahan dataset asli Kota Sukabumi serta tantangan jalur magang khusus analisis data sektoral.

Statistisi Ahli Muda Kota Sukabumi, Ahmad Zulkarnain menambahkan, pelibatan mahasiswa dan masyarakat sangat krusial untuk menangkal disinformasi. “Masyarakat rentan terhadap hoaks berbasis angka yang dipelintir. Melalui pilar masyarakat, kami ingin meningkatkan literasi agar warga mampu membedah isu daerah dengan kacamata statistik yang benar,” jelasnya.

Program yang dirancang dalam siklus tahunan selama sembilan bulan ini menitikberatkan pada kolaborasi Pentahelix. Keberhasilannya bergantung pada sinergi antara BPS selaku pembina data, Diskominfo selaku walidata, Bappeda sebagai perencana, Sekretariat Daerah penunjang  serta mitra strategis dari perguruan tinggi lokal seperti UMMI dan IPB Sukabumi.

Inovasi itu diharapkan mampu mendongkrak nilai Indeks Pembangunan Statistik (IPS) Kota Sukabumi secara berkelanjutan, sekaligus mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel.