Kabar  

AI Makin Canggih, FAI UM Bandung Ingatkan Satu Hal yang Tak Boleh Hilang

KABARINDAH.COM, Bandung — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mendorong mahasiswa dan dosen memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam kegiatan akademik secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Dekan FAI UM Bandung Cecep Taufikurrohman MA PhD menegaskan, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tetap harus dibangun di atas adab dan etika sebagai bagian penting dari proses menuntut ilmu.

“Sejatinya sebelum ilmu itu intinya adab dulu. Kalau adabnya bagus, ilmunya juga pasti bagus. Kalau adabnya tidak bagus, ilmunya pun sama tidak bagus,” ujar Buya Cecep saat membuka Stadium Generale FAI UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Rabu (30/09/2026).

Menurutnya, stadium generale merupakan tradisi akademik yang digelar untuk mengawali tahun akademik sekaligus membangun semangat sivitas akademika.

Tahun ini, FAI UM Bandung mengangkat tema pemanfaatan teknologi informasi dan AI dalam mendukung pembelajaran, penulisan karya ilmiah, hingga penyelesaian tugas akhir.

Buya Cecep mengatakan, perkembangan AI merupakan bagian dari kemajuan peradaban yang telah memasuki berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan dan keagamaan.

Oleh karena itu, AI tidak semestinya dihindari, tetapi perlu dipahami dan dimanfaatkan secara tepat.

“AI jangan dibiarkan, dihindari, apalagi dimusuhi. Teknologi ini harus kita pahami dan manfaatkan secara bijak agar tidak justru membuat manusia bergantung, malas berpikir, dan kehilangan kemampuan untuk berkembang,” katanya.

Menurut Cecep, pemanfaatan AI di lingkungan perguruan tinggi juga harus memperhatikan integritas akademik.

Mahasiswa dan dosen perlu memiliki etika serta pedoman yang jelas agar teknologi tidak digunakan untuk memanipulasi tugas atau menghasilkan karya akademik tanpa proses berpikir yang memadai.

Oleh karena itu, FAI UM Bandung menghadirkan Dosen Kelompok Keahlian Fisika Teoretik ITB Dr Wahyu Hidayat SSi MSi sebagai narasumber utama untuk memberikan pemahaman mengenai penggunaan AI dalam konteks pendidikan tinggi.

Wahyu menjelaskan, transformasi digital di perguruan tinggi menuntut dosen dan mahasiswa tidak hanya mampu menggunakan teknologi.

Namun, bagaimana memahami cara memanfaatkan teknologi ini secara kritis dan bertanggung jawab.

Menurutnya, AI dapat membantu proses pembelajaran, penulisan karya ilmiah, hingga penelitian.

Namun, AI bukanlah mesin yang mengetahui seluruh informasi secara mutlak, melainkan sistem yang dilatih menggunakan data dalam jumlah besar untuk menghasilkan prediksi, rekomendasi, ataupun konten.

Oleh karena itu, penggunaan AI tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis.

Termasuk memeriksa kembali kebenaran informasi yang dihasilkan AI sebelum digunakan dalam kegiatan akademik.

Wahyu juga menekankan pentingnya etika, integritas akademik, dan prinsip responsible AI.

Pemanfaatan AI dalam pembelajaran, penelitian, ataupun asesmen, kata Wahyu, perlu mempertimbangkan manfaat sekaligus risiko yang ditimbulkannya.

“Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu dosen dan mahasiswa meningkatkan kualitas akademik. Sementara itu, tanggung jawab intelektual, proses berpikir, dan keputusan akhir tetap berada pada manusia,” jelasnya.

Pada akhir kegiatan, Cecep berharap stadium generale tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan baru tentang AI.

Namun, memperkuat kesadaran sivitas akademika FAI UM Bandung untuk tetap mengedepankan adab dalam setiap proses pembelajaran.

Ia juga berharap kegiatan tersebut menjadi majelis ilmu yang memberikan manfaat dan keberkahan bagi seluruh peserta.***(FA)