KABARINDAH.COM, PANDEGLANG – Laut menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Sukarame. Selain menjadi sumber penghidupan nelayan, kawasan pesisir ini juga menyimpan potensi wisata bahari. Namun, sejak 2016, kerusakan terumbu karang akibat penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan telah berdampak pada penurunan hasil tangkapan nelayan.
Kondisi tersebut semakin berat setelah tsunami pada 2018 dan pandemi COVID-19 pada 2021 yang turut memengaruhi aktivitas pariwisata dan perekonomian masyarakat. Melihat kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga Regional JBB melalui area operasi Fuel Terminal (FT) Tanjung Gerem Menginisiasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan dukungan dari Kelompok Konservasi Alam Bawah Laut (KABL) Sukarame, menjalankan program Serasi Banten (Selaras Ekosistem Pesisir Banten).
Program yang mengintegrasikan pelestarian ekosistem laut dengan pengembangan wisata bahari dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir di Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. <span;>Salah satu upaya yang dikembangkan adalah RESTACK (Restorasi Terumbu Karang dengan Transplantasi Sistem Tancap Cabang Tahan Ombak). Inovasi ini menggunakan struktur pipa cor bercabang sebagai media penempelan terumbu karang yang dirancang lebih stabil dalam menghadapi gelombang dan arus laut.
Struktur tersebut membantu menjaga terumbu karang agar tetap menempel dan tidak mudah terlepas akibat hempasan gelombang maupun arus laut. Kawasan pesisir Desa Sukarame memiliki luas sekitar 17,31 ha dan menyimpan kekayaan ekosistem bawah laut yang dihuni berbagai jenis terumbu karang, seperti Acropora branching, Acropora foliose, Acropora tabulate, Montipora, masroom, dan massive.
Untuk menjaga sekaligus memulihkan ekosistem tersebut, sebanyak 2.000 bibit terumbu karang telah ditanam di area seluas kurang lebih 500 m². Melalui upaya ini, Serasi Banten turut menjaga keberlangsungan habitat biota laut sekaligus memulihkan ekosistem bawah laut yang menjadi penopang kehidupan masyarakat pesisir.
Seiring dengan upaya pemulihan tersebut, potensi wisata bahari di Desa Sukarame juga terus berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sejak Maret 2026, kawasan Serasi Banten telah mencatat 14.478 pengunjung yang datang untuk menikmati wisata bahari sekaligus mengenal upaya konservasi bawah laut.
Sebanyak 28 anggota kelompok terlibat aktif dalam pengelolaan program dan merasakan peningkatan pendapatan. Aktivitas ini turut menggerakkan usaha kuliner, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), jasa wisata, serta berbagai layanan pendukung lainnya.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam perjalanan konservasi di Desa Sukarame. Arip, seorang guru sejarah sekaligus penggerak konservasi setempat, turut mendorong berbagai inisiatif pelestarian pesisir, mulai dari konservasi terumbu karang, pelestarian lamun, pengembangan atraktor cumi, hingga keramba. “Kalau lautnya kita jaga, bukan hanya terumbu karangnya yang kembali, tetapi kehidupan masyarakat juga ikut tumbuh. Konservasi ini harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat karena dari laut inilah banyak keluarga mendapatkan penghidupan,” ujarnya.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto, menyampaikan bahwa SERASI BANTEN merupakan upaya perusahaan dalam mendorong pelestarian lingkungan yang berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. “Kolaborasi bersama masyarakat menjadi kunci agar ekosistem laut tetap terjaga dan manfaat ekonomi dapat terus berkembang secara berkelanjutan,” ujar Reno.
Serasi Banten menjadi salah satu upaya Pertamina Patra Niaga Regional JBB dalam menjaga keanekaragaman hayati, khususnya ekosistem dan biota laut. Melalui kolaborasi bersama masyarakat, program ini tidak hanya mendukung kelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi pesisir yang berkelanjutan.
Sejalan dengan momentum Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang diperingati setiap 5 November, inisiatif ini menjadi wujud nyata pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan keberlangsungan habitat berbagai makhluk hidup. Upaya ini sekaligus sejalan dengan Asta Cita Presiden dalam mendorong kemandirian bangsa melalui pengembangan ekonomi biru. (*)











