KABARINDAH.COM, Bandung — Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) pada Rabu (14/10/2026).
Acara tersebut berlangsung di Halaman HSN, RW 07, Kelurahan Kujangsari, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung.
Kegiatan yang mengusung topik “Edukasi Holistik untuk Meningkatkan Self-Awareness Terhadap Diabetes Melitus” itu diisi dengan penyuluhan dan cek kesehatan gratis bagi masyarakat setempat.
Ketua PKM Alfi Fitriyani mengemukakan bahwa kegiatan edukasi tersebut menjadi bekal pencegahan penyakit gula sekaligus meningkatkan kualitas hidup penderita.

“Semoga apa yang kami sampaikan hari ini terkait edukasi untuk diabetes mellitus bisa menjadi bekal untuk kita semua,” ujar Alfi.
Alfi menjelaskan bahwa kegiatan penyuluhan ini ditujukan agar warga yang belum mengenal diabetes dapat melakukan pencegahan sejak dini.
Sementara itu, bagi yang sudah terkena dapat menjaga kualitas hidupnya agar tetap baik.
“Untuk yang mungkin belum mengenal dan siapa tahu jadi kenal diabetes itu apa dan bisa melakukan pencegahan. Untuk yang sudah kenal bisa kemudian meningkatkan agar nanti ke depannya yang meskipun diabetes tapi kualitas hidupnya masih bisa baik,” tambahnya.
Pada kesempatan ini, Ketua RT 01 RW 07 Kelurahan Kujangsari Afrina Kristiani menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran tim akademisi UM Bandung yang telah membagikan ilmu kesehatan berharga kepada warganya.

Melalui kegiatan penyuluhan ini, kata Afrina, masyarakat mendapatkan informasi kesehatan dan ilmu yang sangat berguna bagi mereka seputar diabetes.
“Semoga pengabdian masyarakat dari Fakultas Farmasi UM Bandung bisa memberikan manfaat bagi warga RW 07, sekaligus jadi penambah pengetahuan,” kata Afrina.
Ketua RW 07 Kelurahan Kujangsari Hendra Rustandi turut mengaku senang dan menyambut baik terselenggaranya program pengabdian masyarakat di wilayahnya.
Ia berharap seluruh warga dapat memanfaatkan bekal pengetahuan tersebut untuk menghindari risiko diabetes melitus dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga bermanfaat bagi masyarakat RW 007 Kelurahan Kujangsari,” tutur Hendra.
Dosen Farmasi UM Bandung sekaligus pemateri, Andinny Nur Permatasari, menjelaskan bahwa sebagian besar penderita diabetes melitus di Indonesia belum terdiagnosis sehingga komplikasi berbahaya sering kali muncul lebih dulu sebelum penanganan medis.

“Rendahnya kesadaran diri atau self-awareness membuat diabetes terlambat dikenali, sehingga komplikasi sering muncul lebih dulu daripada pengobatan,” ungkap Andinny.
Andinny juga menguraikan berbagai gejala klinis yang patut diwaspadai. Mulai dari sering haus, sering buang air kecil, cepat lapar, hingga luka yang sulit sembuh.
“Komplikasi dapat dicegah atau diperlambat dengan mengendalikan gula darah, tekanan darah, kolesterol, dan pemeriksaan rutin,” tegasnya.***(FK)











