Ibrah  

Guru Besar UHAMKA Ingatkan Keilmuan Tanpa Integritas Akan Kehilangan Marwah

KABARINDAH.COM, Yogyakarta — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama.

Di tengah kemudahan akses informasi tersebut, kader ulama Muhammadiyah dan Aisyiyah dituntut memiliki otoritas keilmuan yang kuat serta integritas moral agar dapat menjadi rujukan tepercaya bagi umat.

Pesan tersebut disampaikan Guru Besar UHAMKA Ai Fatimah Nur Fuad dalam Studium Generale Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Gedoeng Muhammadijah, Jalan K.H.A. Dahlan Nomor 103, Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026).

Ai Fatimah menilai, melimpahnya informasi keagamaan melalui teknologi digital dan AI tidak selalu diiringi kedalaman pemahaman serta penguasaan metodologi keilmuan.

Oleh karena itu, calon ulama perlu menjalani proses belajar dengan tekun dan sabar agar mampu memahami persoalan agama secara mendalam dan kritis.

Menurutnya, otoritas keilmuan dan integritas merupakan dua pilar utama yang harus dimiliki kader ulama.

Penguasaan ilmu yang mendalam diperlukan agar ulama mampu menjawab tantangan zaman.

Sementara itu, integritas menjadi landasan moral dalam menyampaikan dan mengamalkan ajaran agama.

“Dua hal utama yang harus melekat pada diri kader ulama Muhammadiyah dan Aisyiyah adalah otoritas keilmuan dan integritas. Tanpa keilmuan yang mumpuni, ulama kehilangan daya kritis; dan tanpa integritas, keilmuan kehilangan marwah,” tegasnya.

Ia menambahkan, kader ulama tidak cukup hanya menguasai khazanah keislaman.

Namun, juga harus mampu merespons perkembangan zaman tanpa kehilangan landasan keilmuan dan nilai-nilai moral.

Dengan demikian, mereka dapat menjalankan dakwah secara bertanggung jawab sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Studium Generale tersebut diikuti para santri dan mahakader PUTM sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas keilmuan, karakter, dan kesiapan calon ulama dalam menghadapi tantangan dakwah di era digital.***