KABARINDAH.COM, Bandung – Keimanan seseorang tidak hanya tercermin dari seberapa rajin ia menjalankan ibadah kepada Allah SWT.
Menurut Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Dikdik Dahlan Lukman MHum, keimanan juga harus terlihat dari kepedulian dan sikap seseorang terhadap sesama manusia, termasuk kepada tetangga.
Hal itu disampaikan Dikdik dalam program GSM Aisyiyah Jawa Barat bertema “Sisi Humanisme KH Ahmad Dahlan: Dari Tauhid, Al-Ma’un, hingga Kemanusiaan” pada Kamis (17/09/2026).
Ia menjelaskan bahwa kepedulian terhadap sesama tidak dapat dipisahkan dari tauhid karena tauhid merupakan benang merah yang menghubungkan risalah para nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW.
“Benang merah risalah para nabi adalah tauhid. Harus kita pahami bahwa semua nabi mengajarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT,” jelasnya.
Dikdik kemudian menjelaskan bahwa Islam dapat dipahami dalam pengertian umum dan khusus. Secara umum, Islam merupakan ajaran yang Allah SWT turunkan melalui para nabi.
Meskipun syariat yang dibawa masing-masing nabi memiliki ketentuan yang berbeda, pokok ajarannya tetap sama, yakni mengesakan Allah SWT.
Sementara itu, dalam pengertian khusus, lanjut Dikdik, Islam merujuk pada ajaran yang Allah SWT turunkan melalui Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW.
Oleh arena itu, syariat yang menjadi pedoman umat Islam saat ini adalah syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Ia mencontohkan bahwa terdapat ketentuan tertentu yang pernah berlaku pada masa Nabi Adam, tetapi tidak berlaku dalam syariat Nabi Muhammad SAW.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa umat Islam perlu memahami perbedaan antara kesamaan pokok ajaran para nabi dan ketentuan syariat yang berlaku pada masing-masing umat.
“Syariat yang berlaku hari ini adalah syariatnya Rasulullah SAW,” katanya.
Dari pemahaman tentang tauhid dan syariat tersebut, Dikdik mengingatkan bahwa keberagamaan tidak boleh hanya berhenti pada hubungan manusia dengan Allah SWT.
Menurutnya, keimanan juga membawa amanah kepada manusia untuk menjaga hubungan yang baik dengan lingkungan sosialnya.
Ia mengutip pandangan Imam Al-Maraghi yang membagi amanah manusia menjadi tiga.
Pertama, amanah ilahiah, yaitu menjaga dan menegakkan tauhid.
Kedua, amanah syariat, yakni menjalankan ketentuan agama seperti salat dan puasa.
Ketiga, amanah terhadap sesama manusia yang diwujudkan dengan saling menghormati dan memuliakan.
Amanah kepada sesama tersebut, kata Dikdik, tidak hanya berlaku kepada orang yang memiliki hubungan dekat, tetapi kepada tamu, saudara, dan tetangga.
Oleh karena itu, hubungan baik dengan tetangga menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana nilai keimanan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dikdik kemudian mengingatkan pesan Rasulullah SAW mengenai pentingnya menghormati dan menjaga tetangga.
Menurutnya, seorang muslim tidak cukup hanya memperhatikan kualitas ibadah pribadinya.
Namun, perlu memastikan kehadirannya tidak merugikan atau menyakiti orang-orang yang hidup di sekitarnya.
“Kalau kehadiran seseorang di lingkungan masyarakat malah menjadi duri atau pembuat masalah, baik melalui lisan, kata-kata, maupun perilakunya, maka perlu dipertanyakan penghayatan keimanannya,” tandasnya.
Dalam konteks itulah, Dikdik mengaitkan tauhid dengan pemikiran KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, tauhid yang benar semestinya melahirkan kepedulian terhadap manusia.
Keimanan tidak cukup hanya diyakini dan diucapkan. Namun, harus dihadirkan dalam kehidupan melalui amal yang memberikan manfaat.
Pemikiran tersebut, lanjut Dikdik, dapat dilihat dari cara Ahmad Dahlan menghayati QS Al-Ma’un.
Bagi Ahmad Dahlan, ajaran agama tidak berhenti pada membaca dan memahami teks.
Namun, harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata berupa kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.
Oleh karena itu, menurut Dikdik, kepedulian dalam pemikiran Ahmad Dahlan tidak berhenti pada rasa iba.
Kepedulian harus diwujudkan melalui gerakan yang terorganisasi sehingga mampu menghadirkan pelayanan sosial, kesehatan, dan pendidikan bagi masyarakat.
“Islam tidak hanya diyakini, tetapi harus dihadirkan dalam kehidupan,” demikian gagasan Ahmad Dahlan yang menjadi dasar arah humanisme tersebut.
Dengan cara pandang itu, Dikdik menegaskan bahwa tauhid, ibadah, dan hubungan kemanusiaan merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan seorang muslim.***











