Ibrah  

Menakar Samudra dengan Cangkir

Oleh : Ustadzah Tina Haryati, S.Pd.I., M.Pd.
(Founder Teras Muslimah, Daiyah Sukabumi, Penulis, Pengajar Madrasah dan Hypnotherapist)

Ada sebuah keanehan yang menggelitik dalam dinamika sosial kita hari ini: seseorang yang belum pernah mencicipi asinnya garam kehidupan pesantren, dengan begitu berani mempertanyakan kedalaman ilmu mereka yang telah menghabiskan lebih dari sembilan tahun di dalam bilik-bilik sunyi pesantren.

Menilai seorang santri kawakan tanpa pernah menjadi santri. Ibarat seseorang yang berdiri di bibir pantai, menatap riak gelombang, lalu merasa berhak mendikte kedalaman samudra. Ia mengira air laut hanya sebatas lutut, hanya karena kakinya belum pernah merasakan dinginnya dasar palung.

Dialektika Rasa dan Logika

Mondok adalah sebuah proses kurasi jiwa yang utuh, melampaui transfer informasi dari kitab kuning ke kepala. Di sana, waktu melambat bukan karena tertinggal, melainkan karena setiap detik dieja dengan takzim. Santri tidak hanya menghafal nazhom, mereka menghafal kesabaran saat antre air bersih, mengunyah kesederhanaan di atas talam, dan merawat tawaduk di hadapan kiai.

Ketika seseorang yang asing dengan dunia ini datang membawa standardisasi modern yang dangkal, terjadilah apa yang dalam sosiologi disebut sebagai disonansi kognitif. Mereka mencoba mengukur sesuatu yang bersifat multidimensional (intelektual, spiritual, moral) dengan penggaris linier yang sempit.

Dunning-Kruger dan Validitas Epistemis

Keabsurdan ini bukanlah fenomena tanpa penjelasan. Secara psikologis dan epistemologis, ada dua landasan ilmiah yang menjelaskan mengapa skeptisisme mentah ini bisa terjadi:

đź’śEfek Dunning-Kruger (Psikologi Kognitif)

Definisi: Sebuah bias kognitif di mana seseorang yang memiliki pemahaman sedikit dalam suatu bidang justru merasa memiliki keahlian yang sangat tinggi, sementara mereka yang sangat ahli justru cenderung rendah hati karena tahu betapa luasnya ilmu tersebut.

Orang yang tidak pernah mondok sering kali tidak tahu apa yang tidak mereka ketahui tentang kurikulum pesantren. Mereka mengira membaca terjemahan satu-dua kitab sudah cukup untuk menyamai kedalaman santri yang mengkaji Ushul Fiqh, Balaghah, dan Mantiq selama hampir sedekade.

đź’śPhilosophy of Testimony

Dalam filsafat ilmu, otoritas pengetahuan diakui melalui metode dan durasi keterlibatan seseorang pada objek studinya. Sembilan tahun adalah durasi yang melampaui waktu yang dibutuhkan untuk meraih gelar doktoral di universitas formal. Secara ilmiah, mempertanyakan kapasitas seseorang dengan jam terbang ribuan jam pada bidang spesifiknya, tanpa memiliki metodologi tandingan yang setara, adalah sebuah cacat logika (logical fallacy) jenis argumentum ad ignorantiam.

Kepongahan yang Jenaka

Pada akhirnya, ilmu pesantren adalah ilmu yang hidup (living knowledge). Ia tidak selalu berisik di panggung seminar, namun ia berakar kuat di dalam karakter. Mengkritik kemampuan santri sembilan tahun tanpa memahami teks dan konteks yang mereka pelajari setiap subuh hanyalah sebuah keponggahan yang jenaka.

Biarkan samudra tetap menjadi samudra dengan segala rahasia kedalamannya, dan biarkan cangkir tetap menyadari batas volumenya.