KABARINDAH.COM, Sukabumi–Perpaduan suasana Tahun Baru Imlek yang berdekatan dengan datangnya bulan suci Ramadan menghadirkan cerita hangat di meja-meja keluarga. Tradisi yang biasanya berjalan dalam ruang berbeda, kini terasa saling menyapa—bahkan hingga ke urusan kuliner.
Salah satu yang menarik perhatian adalah olahan Nian Gao, kue keranjang khas Imlek, yang kini hadir sebagai menu takjil buka puasa yang unik dan menginspirasi.
Upaya ini misalnya dilakukan Dila Novianti warga Kelurahan Tipar, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi yang menyiapkan bahan dasar kue keranjang menjadi menu takjil berbuka puasa yang menarik untuk dicoba. Kue bertekstur kenyal itu mulai diolah ulang menjadi sajian praktis untuk berbuka.
Ada yang menggorengnya dengan balutan tepung renyah, mengukusnya dengan topping kelapa parut, hingga mengombinasikannya dengan bahan lokal seperti pisang atau santan. Transformasi ini bukan sekadar soal rasa, tetapi juga mencerminkan perjumpaan budaya yang harmonis.
Momen Imlek yang berdekatan dengan Ramadan seakan memberi ruang bagi masyarakat untuk saling mengenal tradisi satu sama lain melalui hal yang paling sederhana: makanan.

Bagi sebagian keluarga, menghadirkan Nian Gao sebagai takjil menjadi simbol kebersamaan. Rasanya yang manis dianggap selaras dengan makna Ramadan sebagai bulan penuh keberkahan dan harapan.
Teksturnya yang lembut dan mengenyangkan pun cocok untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Fenomena ini juga membuka peluang ekonomi kreatif. Banyak pelaku UMKM memanfaatkan momentum tersebut dengan memasarkan olahan nian gao versi kekinian. Kemasan menarik dan inovasi rasa membuat kue tradisional ini terasa lebih dekat dengan generasi muda.
Lebih dari sekadar tren kuliner, kehadiran nian gao di meja takjil menjadi gambaran kecil tentang toleransi yang hidup dalam keseharian. Tradisi yang berbeda tidak saling meniadakan, melainkan justru saling memperkaya.
Di tengah suasana dua perayaan besar yang datang hampir bersamaan, sepotong nian gao yang disajikan saat berbuka bukan hanya menghadirkan rasa manis di lidah, tetapi juga menghadirkan pesan sederhana: bahwa kebersamaan bisa tumbuh dari hal-hal kecil, bahkan dari sepiring takjil.











