KABARINDAH.COM, Bandung – Himpunan Mahasiswa Prodi Farmasi (Himprofar) bersama Pimpinan Komisariat IMM Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mengadakan kegiatan “Ngobrolin Perkara Iman” (NGOPI) pada Sabtu (18/04/2026).
Acara yang berlangsung di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, lantai tiga gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, itu mengangkat tema “Overthinking vs Tawakal: Kurang Iman atau Kurang Tenang?”.
Acara ini dihadiri berbagai pihak. Di antaranya Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Arief Yunan, perwakilan Kemahasiswaan dan Pengembangan Karier, serta para mahasiswa dari internal ataupun eksternal UM Bandung.
Ketua Pelaksana Muhammad Masdar Fauzy mengatakan, kegiatan ini menjadi kolaborasi positif antara Himprofar dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Saintek UM Bandung.
“Kegiatan ini tentu menjadi jembatan dalam mempererat tali silaturahmi dan memperkuat ukhuwah islamiyah di lingkungan kampus tercinta ini,” ucap Fauzy.
Oleh karena itu, dia berharap melalui kegiatan ini para peserta mendapatkan perspektif baru dalam menghadapi kegelisahan hati yang banyak dialami khususnya oleh anak-anak muda Indonesia.
“Semoga kegiatan ini memberikan solusi spiritual sehingga kita mampu bertawakal lebih sempurna,” jelasnya.
Menanggapi hal yang sama, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UM Bandung Arief Yunan sangat mengapresiasi kegiatan ini.
Menurutnya, kegiatan ini banyak memberi manfaat, khususnya bagi para mahasiswa dalam rangka menghadapi era ketidakpastian saat ini.
“Kondisi VUCA atau volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity, menjadi faktor kita untuk merasa tidak tenang pada era saat ini,” kata Arief.
Maka dari itu, menurut dekan, perlu adanya usaha konkret dan doa maksimal agar menjamin keberhasilan dalam kehidupan saat ini. “Selain itu, kita juga perlu memiliki kompetensi yang dapat menunjang usaha kita ke depannya,” tanggapnya.
Overthinking di era digital
Dalam kegiatan kali ini hadir Ustadz Naufal Fatyu sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Naufal menjelaskan bahwa overthinking menjadi persoalan yang semakin dekat dengan generasi muda.
“Persoalan terbesarnya berasal dari cara seseorang mengelola pikiran dan merespons ketidakpastian dalam hidup,” ungkap Naufal.
Dia menegaskan, Islam memandang kegelisahan sebagai persoalan yang perlu dikelola melalui ikhtiar dan tawakal yang maksimal. “Kita tidak perlu membebankan persoalan hati kepada akal secara berlebihan,” tanggapnya.
Oleh karena itu, dirinya menyarankan para mahasiswa agar mengubah pola pikir dari kata “seharusnya” menjadi “semampunya”, sebagai bentuk menerima keterbatasan tanpa kehilangan ikhtiar.
“Tidak hanya itu, kita juga perlu berdamai dengan masa lalu, memaafkan diri sendiri, dan memaknai bahwa setiap takdir itu memiliki nilai kebaikan,” tandasnya.***(FK)
