KABARINDAH.COM, Malaysia — Ketua Umum Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Raya Al-Jabbar Provinsi Jawa Barat Dr KH Tata Sukayat MAg mengisi Kuliah Maghrib Khas di Masjid Al-Ghazali, Jalan Depo, Petra Jaya, Kuching, Sarawak, Malaysia, pada Ahad, 19 Juli 2026.
Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian Safari Dakwah Malaysia, sekaligus kelanjutan Muktamar tentang Pengelolaan dan Pemakmuran Masjid Sarawak Zona Selatan, yang diadakan dua hari, 18–19 Juli 2026, di Raia Hotel & Convention Centre, Kuching, dengan salah satu sesinya mengangkat pengalaman pengelolaan masjid se-Malaysia.
Dalam ceramahnya di Masjid Al-Ghazali. sebagai salah satu masjid dengan pengelolaan terbaik se-Sarawak, Tata Sukayat mengangkat tema ma’rifatullah, yakni pengenalan diri kepada Allah SWT, sebagai orientasi utama pesan dakwahnya.
Ia mengutip kaidah masyhur dalam khazanah Islam, man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, yang artinya siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.
Di hadapan jemaah yang memadati masjid, Tata Sukayat memaparkan lima pertanyaan mendasar yang perlu dijawab setiap muslim.
Siapakah dirinya? Di mana ia sekarang berada? Apa tugas pokok hidupnya? Bagaimana cara melaksanakan tugas pokok itu? Apa konsekuensi dari pelaksanaan tugasnya?
Lebih lanjut, Tata Sukayat menjelaskan bahwa jati diri manusia tercermin dalam kebiasaan mengucap basmalah di awal dan hamdalah di akhir setiap perbuatan.
Itu merupakan sebuah edukasi ketuhanan bahwa manusia berasal dari Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
“Dengan demikian, hakikat manusia adalah makhluk ciptaan Sang Khalik, Allah SWT,” ujar dosen Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini.
Menjawab pertanyaan kedua, di mana dirinya sekarang berada? Tata Sukayat mengaitkannya dengan tiga nama dan sifat Allah yang termaktub di awal Surah Al-Fatihah, yakni Ar-Rahman, Ar-Rahim, dan Maliki Yaumiddin.
Menurutnya, manusia sesungguhnya senantiasa berada dalam genggaman kekuasaan Allah SWT.
“Seandainya bukan karena kasih sayang-Nya, manusia yang kerap berbuat maksiat dan durhaka niscaya telah lama diusir dari kehidupan dunia,” imbuhnya.
Namun, karena rahmat Allah, manusia tetap diberi kesempatan hidup, bukan karena kualitas dan kuantitas ibadahnya, melainkan karena kasih sayang Allah SWT.
Untuk menjawab pertanyaan ketiga mengenai tugas pokok manusia, Tata Sukayat merujuk pada ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.
Ia menjelaskan, tugas pokok manusia di dunia pada dasarnya hanya dua. Pertama, beribadah kepada Allah (na’budu). Kedua, memohon pertolongan kepada-Nya melalui doa (nasta’in).
Adapun jawaban atas pertanyaan keempat, bagaimana cara melaksanakan tugas pokok? Menurut Tata Sukayat, hal itu termaktub dalam ayat ihdinash shirothol mustaqim.
Ia mengajak jemaah untuk senantiasa mengikuti jalan yang telah dicontohkan Nabiyullah Muhammad SAW dan diteruskan oleh para sahabat sampai kepada para ulama sebagai pewaris risalah kenabian.
Terakhir, konsekuensi dari pelaksanaan tugas pokok, Tata Sukayat menjelaskan bahwa jawabannya termuat dalam ayat penutup Surah Al-Fatihah.
Ia menuturkan, siapa pun yang mengakui dirinya sebagai makhluk Allah, meyakini senantiasa berada dalam genggaman kasih sayang-Nya, serta menjalankan ibadah dan doa sesuai tuntunan Rasulullah SAW, insyaallah akan tergolong hamba yang mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat, sebagaimana disebut dalam ayat an’amta ‘alaihim.
Di akhir kajian, Tata Sukayat mengajak jemaah Masjid Al-Ghazali untuk menjadikan kelima pertanyaan tersebut sebagai bahan muhasabah, agar setiap langkah kehidupan senantiasa berorientasi pada pengenalan diri dan kedekatan kepada Allah SWT.
Ia berharap, rangkaian Safari Dakwah Malaysia ini dapat memperkuat tali silaturahmi antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam rangka memakmurkan rumah ibadah.***
