KABARINDAH.COM, Sumedang – Pengajian rutin Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Mulyasari, Kecamatan Sumedang Utara, berlangsung khidmat di kediaman Ketua PRM Rancamulya Arwan Azis.
Sebanyak 72 jamaah hadir mengikuti kajian yang mengangkat tema “Pentingnya Maulid Nabi Perspektif Muhammadiyah: Korelasinya dengan Kemerdekaan dan Situasi Negara Hari Ini.”
Kajian tersebut menghadirkan dosen UM Bandung Supala sebagai penceramah. Sejumlah tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah turut hadir.
Mereka adalah Ketua PCM Sumedang Utara Dede Mulyarsa, Ketua PD Aisyiyah Sumedang Umi Susan Sundari, Ketua PCA Sumedang Utara Ina Karolina, dan Sekretaris PDM Sumedang MT Hartono Ikhsan.
Maulid dalam Perspektif Muhammadiyah
Dalam kajiannya, Supala menjelaskan posisi peringatan Maulid Nabi dalam perspektif Muhammadiyah.
Mengacu pada pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ia menyebut peringatan Maulid pada dasarnya mubah atau diperbolehkan.
Selama hal tersebut ditempatkan sebagai sarana dakwah, syiar Islam, dan momentum meneladani kehidupan Rasulullah SAW.
“Muhammadiyah tidak mengharamkan peringatan Maulid Nabi. Selama kegiatan tersebut bersih dari unsur syirik, TBC (tahayul, bid’ah, dan churafat), dan tidak diisi amalan yang bertentangan dengan ajaran Islam,” ujar Supala.
Menurutnya, hal yang lebih penting bukan kemeriahan acaranya, melainkan pesan dan perubahan yang dihasilkan.
Maulid seharusnya menjadi momentum untuk memahami kembali akhlak, perjuangan, dan misi Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan agar peringatan maulid tidak berhenti pada seremoni yang meriah, tetapi minim refleksi dan perubahan perilaku.
Risalah Nabi
Supala kemudian mengaitkan nilai-nilai kenabian dengan kehidupan kebangsaan.
Menurutnya, semangat maulid dapat menjadi momentum untuk merefleksikan kembali makna kemerdekaan sekaligus tanggung jawab warga negara dalam merawatnya.
Nilai perjuangan, pembebasan dari ketidakadilan, persaudaraan, dan kepedulian sosial yang dibawa Rasulullah SAW dinilai tetap relevan dengan persoalan bangsa saat ini.
Di tengah berbagai tantangan, mulai dari persoalan moral, ketimpangan ekonomi hingga dinamika sosial-politik yang berpotensi memecah persatuan, warga Muhammadiyah didorong menghadirkan kembali nilai-nilai risalah kenabian dalam kehidupan nyata.
Rasulullah SAW, kata Supala, hadir membawa misi rahmatan lil ’alamin, yakni menghadirkan kehidupan yang berlandaskan keadilan, kemanusiaan, akhlak, dan kemaslahatan.
Oleh karena itu, peringatan Maulid Nabi tidak semestinya hanya menjadi kegiatan tahunan. Namun, ruang untuk memperkuat komitmen memperbaiki diri, masyarakat, dan bangsa.
Semangat mencintai Rasulullah SAW perlu dibuktikan melalui keteladanan dan kontribusi nyata dalam kehidupan.***
