UMMI Gelar Workshop Nasional Penulisan Buku, Roni Tabroni: Jadikan Menulis itu Ibadah!

KABARINDAH.COM — Roni Tabroni, dosen Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) mengaku bahwa skill menulis terbentuk karena ia menjadikan aktivitas menulis sebagai sarana ibadah.

“Itu salah satu yang memotivasi saya menulis buku. Namanya ibadah, sedang mood atau tidak, ya mesti dilakukan,” jelas dosen Ilmu Komunikasi dan penulis 24 buku itu saat menjadi pembicara dalam Workshop Nasional Penulisan Buku via Zoom, Kamis (2/6/2022).

Workshop penulisan buku tersebut diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) bekerjasama dengan Suara Muhammadiyah dan MPI PP Muhammadiyah. Kegiatan Wrokshop ini digelar dalam rangka milad UMMI ke-19. Adapun peserta workshop berasal dari sivitas kampus Muhammadiyah se-Indonesia.

Kang Roni, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa menulis yang dilandasi dengan niat untuk ibadah, akan menjadikan penolakan media sebagai motivasi untuk piawai menulis.

Baca Juga:  Inilah Cara Menyongsong Tantangan Masa Depan, UIN Bandung dan UIN Mataram Tingkatkan Publikasi

“Misalnya, kalo kita kirim tulisan ke media, lalu ditolak kita nggak bakal kecewa, asal prinsip nulis itu ibadah,” ucap suami Dewi Mulyani itu.

Lalu, apa lagi yang membuat pria berkacamata itu produktif dalam menulis buku? Anggota KPID Jawa Barat itu pun membocorkan rahasianya.

“Harus punya target! Jadi, mood akan dipaksakan kalau kita punya target yang jelas. Misal tahun ini mau nulis buku apa dan mau berapa buku,” papar penulis buku Islam dan Media: Mediasi Agama dalam Ruang Publik ini.

Roni pun menceritakan bahwa di antara buku-bukunya lahir dari beberapa makalah perkuliahan, baik ketika ia menempuh magister maupun doktoral.

“Kalo teman-teman lain bikin tugas kuliah pakai slaid (presentasi), saya justru bikin paper. Paper-paper itulah yang kemudian saya perbaiki dan jadi buku,” kata Kepala Pusat Media Digital dan Kebijakan Publik UM Bandung, sembari tersenyum.

Baca Juga:  Perkuat Kebersamaan dan Komitmen, 82 Tendik dan Karyawan UM Bandung Ikuti Baitul Arqam

Apa lagi? Yang tak kalah penting, lanjut Roni, seorang penulis adalah dia yang rakus membaca. “Makin banyak baca, ya makin banyak inspirasi untuk menulis,” imbuhnya.

Tak hanya itu, menulis juga salah satu bentuk eksistensi dan menjadi ciri keintelektualan seseorang.

“Lihat tulisan Buya Syafii Maarif di Republika, sudah berapa ratus artikel. Belum yang terbit di media lain,” pungkas Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah itu.

Pada kesempatan itu pula, Roni Tabroni menjabarkan beragam genre buku yang bisa menjadi pilihan untuk membuat buku sesuai minat sang calon penulis. Misalnya genre sastra, biografi, buku ajar, bacaan anak, dan buku penuntun.