Teladan Siti Khadijah! Inilah 4 Poin Pelajaran Penting darinya

  • Bagikan

KABARINDAH.COM – Dalam sejarah Islam, siapa tak kenal dengan Siti Khadijah? Namanya begitu mendunia, karena ia menjadi pendamping hidup Rasulullah Saw., hingga akhir hayatnya. Tahukah engkau, bahwa Siti Khadijah merupakan salah satu muslimah pertama yang memiliki kekayaan luar biasa.

Satu hal yang patut kita teladani dari sosok wanita salehah ini, yakni kekayaan yang luar biasa besarnya, tidak serta merta membuatnya sombong, takabur, dan elitis. Ia selalu berusaha menolong orang yang membutuhkan dengan hartanya.

Tak heran apabila ia dikategorikan sebagai business woman sukses pertama di jazirah Arab; kekayaan dan hartanya melimpah ruah, dan cabang perniagaannya menjamur di mana-mana. Maka, ia pun saat itu dijulukni sebagai “Ratu Quraisy” dan juga “Ratu Mekkah”.

Beliau adalah seorang wanita karir yang sibuk, kreatif, dan inovatif, sehingga mampu menjalankan usahanya, lalu setelah masuk Islam, ia pun dijuluki sebagai “at-Thahirah”, yang berarti “bersih suci”. Gelar ini, menunjukkan bahwa meskipun kekayaan melimpah dimilikinya, tetapi ia tetap memiliki kemuliaan akhlak.

Baca Juga:  Inilah Penyebab Mundurnya Peradaban Islam Menurut Ibn Khaldun

Begitu juga dengan kita. Jangan mentang-mentang kekayaan yang kita miliki melebihi kekayaan suami, lantas berlaku sombong dan cerewet kepada suami. Selain itu, jangan mentang-mentang kita mendapatkan warisan kekayaan dari orang tua yang melimpah, menjadikan kita malas dan sering berpoya-poya.

Kita bisa belajar dari ketangguhan Siti Khadijah dalam mengembangkan harta kekayaan, sembari terus memperkaya diri dan hati.

Beberapa poin penting yang dapat kita pelajari dari sosok Khadijah, yakni:

1. Jangan Manja, malas, dan konsumtif.

Apabila kita berasal dari keluarga kaya raya, dengan orang tua tajir, tetapi kita tidak boleh manja, malas, dan konsumtif. Mental malas dapat menciptakan kesengsaraan di masa depan, manja juga kadang bisa menciptakan keluarga yang dipenuhi masalah, dan konsumtif sangat berbahaya bagi harta yang kau miliki.

Siti Khadijah, tidak seperti itu; setelah ayahnya Khuwalid meninggal dunia, sebagai pewaris utama, ia tidak serta merta berleha-leha dan berpoya-poya dengan harta warisannya. Tetapi dengan semangat membaja ia memanfaatkan harta tersebut untuk mewujudkan kemuliaan diri.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Sukamiskin Bandung, Pesantren Tua yang Mencetak Pahlawan Nasional

2. Manfaatkan kekayaanmu untuk tujuan kemanusiaan, agar selalu mendapatkan berkah dari Allah.

Kekayaan Siti Khadijah yang melimpah tidak serta merta membuatnya menjadi seorang wanita yang angkuh, sombong, dan takabur. Ia kerap menyedekahkan hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan, sehingga pada masa jahiliyah hingga awal penyebaran Islam, ia menjadi seorang wanita yang dihormati karena kedermawanannya.

3. Kekayaan yang kau miliki, jangan lantas melalaikan kewajiban sebagai seorang isteri.

Ketika Siti Khadijah menjadi isteri Rasulullah Saw., kekayaannya tidak membuat ia lupa terhadap tugas sebagai seorang ibu dan isteri. Ia dengan telaten mendidik dan mengurus anak-anaknya sehingga mereka tumbuh menjadi wanita salehah sepnajngan zaman. Tak heran dari rahimnya tumbuh wanita salehah luar biasa seperti Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum, dan Fatimah Az-Zahra.

Baca Juga:  Karena Manusia Taat itu Keren Banget, Taatilah Perintah-Nya!

4. Gunakan kekayaanmu untuk menyokong perkembangan Islam.

Siti Khadijah ialah wanita termulia di muka bumi, yang selalu mendukung gerakan dakwah yang dilakukan suaminya, Rasulullah Saw., dalam menyebarkan ajaran Islam. Seluruh harta miliknya tak bernilai apa pun bila dibandingkan dengan dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw. Ia tidak pernah sedikit pun mengeluh pada Rasulullah, tetapi dengan bersemangat selalu menyuntikkan energi kepada Rasulullah untuk tetap konsisten menyebarkan kebenaran Islam.

Belajarlah dari Siti Khadijah, wanita salehah kaya raya tetapi tetap merendah dan sederhana; tirulah sifat luhung yang dimilikinya, karena ia tidak jemawa meskipun berkubang harta; ia juga tidak sombong dan ambisius dengan kekayaan dan jabatan.

Beliau tetap sederhana, mulia, patuh pada suami, juga taat pada Allah; meskipun memiliki kekayaan luar biasa. Harta yang dimilikinya, tak sekali-kali digunakan untuk bermewah-mewahan, melainkan digunakan untuk menyokong dakwah Islam yang dilakukan suaminya.

  • Bagikan