Rahmad Abdul Gani, Anak Pedagang & Wisudawan Prodi Ilmu Ekonomi UNISBA ber-IPK 3,8

  • Bagikan

KABARINDAH.COM, BANDUNG – Keterbatasan ekonomi bukan menjadi halangan bagi seseorang untuk menggapai mimpinya. Dengan tekad dan kemauan keras, segala yang dicita-citakan bisa terwujud. Kuncinya adalah mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Ungkapan itu sepertinya layak disematkan kepada Rahmad Abdul Gani, Wisudawan dari Program Studi Ilmu Ekonomi yang akan dilantik pada prosesi wisuda Unisba gelombang II tahun akademik 2020-2021, Sabtu, (21/8/2021).

Gani merupakan anak dari sepasang suami istri yang bekerja sebagai pedagang kecil. Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, orang tua Gani bahkan harus tinggal berjauhan. Sang ayah tinggal di Pesisir Selatan, sementara ibu di Sijunjung Sumatera Barat. Namun, himpitan ekonomi tak lantas menyurutkan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tahun 2017, Gani berhasil masuk ke Unisba dan menyelesaikan studinya selama empat tahun dengan IPK 3,80, yudisium Pujian. Anak bungsu dari sembilan bersaudara tersebut, kini menjadi satu-satunya orang yang berhasil meraih gelar sarjana di keluarganya.

“Perjalanan hidup saya sangat pahit, terutama melihat kondisi orang tua yang memiliki keterbatasan ekonomi. Itulah alasan saya ingin kuliah yaitu untuk mengangkat derajat keluarga. Apalagi saya seorang laki-laki, maka diusahakan harus memiliki pendidikan yang tinggi,” katanya.

Gani mengaku perjalanan kuliahnya tidak mudah. Selepas lulus SMA pada tahun 2016, dia sempat memutuskan untuk merantau ke Jakarta dari daerah asalnya Padang, Sumatera Barat. Keputusan itu diambil karena Gani tidak memiliki cukup bekal untuk kuliah sehingga dia memilih untuk bekerja selama setahun guna mengejar cita-citanya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

“Setelah lulus, sebenarnya saya sempat keterima di Politeknik Negeri, namun karena tidak ada biaya, saya memutuskan untuk berhenti dulu belajar dan bekerja selama setahun. Di Jakarta saya ikut abang, bekerja sebagai asisten fotografer. Kemudian, setelah memiliki cukup bekal baru saya memberanikan diri untuk daftar kuliah di tahun berikutnya”, ujarnya.

Setelah mengambil keputusan untuk berkuliah, Gani sadar bahwa tabungan yang dia miliki masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Selama satu tahun bekerja, dia mengaku hanya sanggup mengumpulkan uang 6 juta sehingga dia harus kembali memutar otak agar bisa mengejar mimpinya. Beruntung, setelah daftar ke Unisba melalui jalur PMDK atau raport, Gani berhasil meraih beasiswa Bidik Misi.

“Alhamdulillah, setelah dinyatakan diterima di Unisba melalui program bidik misi saya mendapatkan full beasiswa. Kesempatan ini mendorong saya untuk bisa lebih giat lagi belajar dan sebisa mungkin tidak membebankan orang tua, apalagi saya tinggal di Bandung dan harus ngekos,” jelasnya.

Selama kuliah, Gani aktif mengikuti berbagai penelitian dan menjadi asisten dosen dalam berbagai kegiatan. Tak heran, anak bungsu dari sembilan bersaudara ini sukses mengantongi berbagai prestasi semasa di bangku kuliah, antara lain mewakili prodi Ilmu Ekonomi sebagai Mahasiswa Beprestasi tingkat Universitas tahun 2019, lulus dalam uji kompetensi analis pembiayaan bersertifikasi BNSP, terpilih sebagai mahasiswa yang mendapatkan hak cipta jurnal dari Kemenkumham, dan pemenang artikel dan presentasi terbaik pada ajang Spesia 2021 Unisba dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Setelah lulus kuliah, pria kelahiran 22 November 1998 berkeinginan untuk bekerja di Bank Indonesia untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya. Kisah Gani memang menginspirasi. Ia pun berpesan, bagi mahasiswa yang sedang berjuang mencari ilmu, tetap berusaha dan berdoa karena Allah akan menolong hambanya yang mau bekerja keras.

“Jika kamu percaya Allah ada dan kamu berjuang melakukan apapun yang terbaik atas nama-Nya. Maka kamu akan petik hasil yang terbaik pula sebagai Anugerah dari Allah kepadamu,” ujarnya.

Semantara itu, Ibu Gani, Rahmawati mengatakan, selama masa sekolah Gani merupakan anak yang tekun dan tak kenal lelah belajar. Tak jarang, beliau mendapati Gani sedang asik belajar tengah malam di saat orang lain tertidur. Perempuan yang sudah berusia 64 tahun ini mengaku bangga melihat anaknya bisa lulus sarjana dengan usaha dan perjuangannya.

“Saya merasa sedih karena sebagai orang tua, saya tidak dapat membiayai kuliah anak saya. Selama ini saya hanya bisa memberikan uang saku yang tidak seberapa dan dibantu kakanya untuk membayar biaya kos. Saya merasa bangga karena dengan semangatnya Gani bisa menggapai citanya hingga gelar sarjana,” ujarnya. (Sumber: unisba.ac.id)

  • Bagikan