KABARINDAH.COM, Sukabumi--Hingga Mei 2026 lalu, laporan kinerja ketenagakerjaan Kota Sukabumi mengalami lonjakan signifikan di seluruh indikator utama. Mulai dari angka pencarian kerja, partisipasi pelatihan vokasi hingga tingkat keberangkatan Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI)
“Alhamdulillah masyarakat telah memberikan kepercayaan pada pilar ketenagakerjaan Kota Sukabumi yang sangat besar. Ini menjadi indikasi bahwa strategi dan kebijakan Pemerintah Kota sudah berada di jalan yang benar,” ujar Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).
Dari data ketenagakerjaan Kota Sukabumi periode Mei 2026 menunjukkan, akumulasi performa melampaui target bulanan maupun kumulatif tahunan. Dinamika ini mencakup tingginya minat masyarakat pada sektor penempatan internasional yang didukung oleh fasilitas pelatihan pra-keberangkatan secara masif.
Dinamika Supply-Demand Angkatan Kerja menunjukkan Pergeseran ke Pasar Global
Analisis terhadap data pencari kerja pada Mei 2026 memaparkan sebuah tren krusial angkatan kerja Kota Sukabumi berorientasi pada pasar kerja luar negeri. Dari total 1.256 pencari kerja aktif yang terdaftar pada Mei 2026, sebanyak 1.005 orang atau sekitar 80% memilih mendaftar sebagai CPMI. Sedangkan pencari kerja yang membidik sektor domestik dalam negeri hanya berjumlah 251 orang atau hanya sekitar 20%.
Dominasi minat pada sektor internasional ini merupakan implikasi langsung dari tingginya disparitas upah dan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap jalur penempatan resmi yang difasilitasi pemerintah daerah.
“Ini menjadi fenomena dan sekaligus menjadi katup penyelamat bagi keterbatasan daya tampung industri manufaktur lokal di Sukabumi. Kalau hanya mengandalkan manufaktur yang ada di Kota Sukabumi, selain kuotanya terbatas, gajinya juga tidak sebesar bekerka di luar negeri,” jelas Ayep.
Secara kumulatif hingga Mei 2026, jumlah pencari kerja di Kota Sukabumi telah menembus angka 2.933 orang. Ini mengindikasikan tingkat kepercayaan publik yang tinggi terhadap sistem pendataan ketenagakerjaan daerah yang transparan dan bebas dari praktik rekrutmen ilegal.
Standardisasi Kompetensi melalui Pelatihan Vokasi Massal
Pemkot Sukabumi menyadari bahwa kesiapan kompetensi merupakan instrumen utama dalam memenangi persaingan kerja global maupun domestik. Sepanjang Mei 2026, jumlah peserta pelatihan CPMI mencatatkan angka fantastis yaitu 1.097 orang, mencerminkan lonjakan luar biasa sebesar 661% dari target bulanan. Secara kumulatif hingga Mei 2026, sebanyak 1.562 orang calon tenaga kerja telah berhasil menyelesaikan sertifikasi dan pelatihan kompetensi.
“Program pelatihan ketenagakerjaan ini diakselerasi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Sukabumi dan fokusnya adalah pada penguasaan keterampilan praktis siap pakai. Jadi mereka yang ikut pelatihan memang disiapkan untuk bisa langsung bekerja,” terang Ayep.
Langkah ini, tambah Ayep, memang untuk melengkapi berbagai program pelatihan domestik yang berjalan secara paralel di dalam kota, seperti kelas kejuruan praktis pengelasan, barista, menjahit, hingga kemampuan komunikasi publik (public speaking).
“Makanya, kurikulum pelatihan memang dirancang secara khusus melalui metode yang menitikberatkan porsi praktik langsung agar angkatan kerja muda Kota Sukabumi agar memiliki kualifikasi tinggi yang diakui oleh standar industri internasional,” tukas Ayep.
Keberangkatan CPMI dan Efek Multiplier Remitansi
Hingga Mei 2026 lalu, tercatat kinerja penempatan kerja luar negeri menunjukkan performa optimal dengan keberangkatan 382 orang CPMI. Ini sesungguhnya juga merepresentasikan pencapaian sebesar 460% dari target bulanan yang ditetapkan. Secara kumulatif, total penempatan pekerja migran resmi asal Kota Sukabumi hingga Mei 2026 telah mencapai 503 orang. Sebagai contoh nyata dari akselerasi ini, pemerintah daerah sebelumnya telah sukses melepas 50 pekerja migran ke negara tujuan Kuwait dan Turki.
Pelepasan ratusan pekerja migran terampil ini diproyeksikan akan memberikan dampak berantai (multiplier effect) bagi perekonomian Kota Sukabumi melalui arus remitansi finansial. Pendapatan yang dikirimkan kembali oleh para pekerja migran ke daerah asal akan langsung meningkatkan daya beli tingkat rumah tangga, menstimulasi pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal, serta memperkuat basis tabungan masyarakat.
“Dalam jangka panjang, pada saatnya nanti, dinamika ini akan membantu menggerakkan roda perekonomian dari tingkat kelurahan hingga tingkat kota,” tegas putra asli Sukabumi itu.
Dengan capaian tersebut, Ayep memberikan apresiasi mendalam atas pencapaian luar biasa pada indikator kinerja Pilar 1 Ketenagakerjaan per Mei 2026.
“Lonjakan angka pelatihan dan penempatan kerja global ini merupakan bukti nyata dari efektifnya reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas layanan ketenagakerjaan yang bersih, transparan, dan berorientasi pada hasil,” tutur Ayep.
Dengan capaian tersebut, Ayep menggarisbawahi bahwa fokus pemerintah daerah tidak sekadar melepaskan tenaga kerja ke luar negeri, melainkan memastikan bahwa setiap warga negara yang berangkat telah dibekali dengan keahlian teknis yang matang, perlindungan jaminan sosial yang kuat, serta dokumen resmi yang sah guna menghindari segala bentuk eksploitasi di negara penempatan.
“Keberhasilan menempatkan 503 tenaga kerja terampil hingga pertengahan tahun 2026 ini akan menjadi pilar pendukung yang kokoh bagi ketahanan ekonomi keluarga di Kota Sukabumi, sekaligus menjadi langkah strategis untuk menekan angka pengangguran terbuka di wilayah perkotaan secara signifikan,” ujar Ayep.
Lebih lanjut, Ayep juga menyerukan kepada seluruh perangkat daerah, khususnya Dinas Tenaga Kerja, untuk terus memperluas jaringan kerja sama dengan berbagai agen penempatan resmi berskala internasional dan lembaga pelatihan kerja kredibel. Upaya ini dipandang sangat krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan produktivitas masyarakat, dan menyokong pencapaian target kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Sukabumi yang ditargetkan mampu menembus angka Rp120 miliar.
Dampak Makroekonomi dan Outlook Ketenagakerjaan Daerah
Keberhasilan implementasi kebijakan ketenagakerjaan ini memberikan dampak positif ganda pada struktur sosial-ekonomi Kota Sukabumi. Pertama, program pelatihan vokasi dan pengiriman CPMI terbukti efektif mengurangi tekanan angka pengangguran usia produktif yang selama ini didominasi oleh lulusan baru. Kedua, integrasi sistem pelatihan kerja lokal menciptakan ekosistem yang kondusif bagi lahirnya para wirausaha mandiri baru di dalam kota.
Ke depan, kesinambungan antara program pelatihan kompetensi dan penempatan kerja ke luar negeri diproyeksikan mampu meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) Kota Sukabumi secara keseluruhan. Melalui pengawasan ketat, perlindungan jaminan ketenagakerjaan, serta penyediaan sarana informasi lowongan kerja yang kredibel, Pemerintah Kota Sukabumi optimistis mampu mewujudkan iklim ketenagakerjaan yang sehat, berdaya saing global, dan berkontribusi nyata terhadap stabilitas makroekonomi wilayah Jawa Barat.
Kota Sukabumi untuk Indonesia, Kota Sukabumi Mendunia
Dengan catatan prestasi tersebut, Pemkot Sukabumi akan memperluas komitmennya dengan tidak hanya bagi warga lokal Kota Sukabumi yang bisa diberikan penempatan kerja ke luar negeri, melainkan juga secara nasional dengan arah kebijakan baru.
“Kota Sukabumi kini membuka diri bagi CPMI dari berbagai daerah lain di Indonesia untuk menangkap kesempatan kerja ke luar negeri. Pemkot Sukabumi juga akan memberi dukungan penuh melalui upaya fasilitasi, bimbingan kerja, serta penyediaan pusat informasi kerja yang kredibel,” terang Ayep Zaki.
Dengan visi tersebut, Kota Sukabumi bertekad kuat untuk mentransformasikan diri menjadi pusat pemberangkatan tenaga kerja resmi sekaligus menjadi Kota Ramah Migran.
“Lewat visi besar tersebut, kini kami mempunyai slogan strategis, yaitu “Kota Sukabumi untuk Indonesia, Kota Sukabumi Mendunia,” pungkas Ayep Zaki.(*).
