Ibrah  

Lingkungan dan Pakaian Berpengaruh Terhadap Kepribadian Seseorang

Dekan Fakultas Agama Islam UM Bandung Prof Dr H Afif Muhammad MA saat memberikan sambutan pembuka pada Baitul Arqam mahasiswa seri terakhir di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Sabtu 29 Oktober 2022 (Dok Promosi dan PMB UM Bandung).

KABARINDAH.COM, Bandung – Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) Prof Dr H Afif Muhammad MA mengatakan bahwa lingkungan berpengaruh untuk membentuk kepribadian seseorang.

Seseorang itu bisa menjadi tetap baik dan memberikan manfaat atau berubah menjadi jahat, faktor lingkungan sangat berpengaruh untuk menentukannya. Lingkungan itu bukan saja orang tua, keluarga, teman, kampus, melainkan juga bisa benda mati.

Kalau mengamati lingkungan sekitar, tutur Prof Afif, maka kita akan menemukan orang baik dan orang jahat. Padahal mereka dilahirkan dalam keadaan yang sama, yakni suci.

“Mereka lahir tidak membawa dosa. Tidak ada niat jahat sedikit pun. Namun, kenapa begitu mereka besar kok ada yang baik dan juga yang jahat? Salah satu yang berpengaruh membentuk kepribadian itu ya lingkungan,” tutur Prof Afif di hadapan ratusan mahasiswa peserta Baitul Arqam seri terakhir dari Fakultas Agama Islam di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Sabtu 29 Oktober 2022.

Baca Juga:  Masya Allah, Tahun 2030 Umat Islam akan Rayakan 2 Kali Ramadhan

Soal pakaian

Prof Afif menjelaskan bahwa kalau seseorang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang baik dan kondusif, kecenderungannya seseorang itu akan baik pula. Lingkungan itu tidak harus berbentuk orang, benda mati juga termasuk di dalamnya.

“Benda bisa membentuk kepribadian seseorang, misalnya pakaian yang dikenakan. Pakaian membentuk kepribadian seseorang yang memakainya. Baju batik itu, misalnya, seakan-akan terasa santai, adem,” ungkap Prof Afif.

Berbeda lagi dengan pakaian koko yang bawaannya baik dan saleh rasanya. Termasuk juga pakaian muslimah yang membuat nyaman, terjaga, dan perasaannya selalu baik.

Pakaian itu bisa menjaga kita dari hal-hal yang kurang baik. Pakaian muslimah itu, kata Prof Afif, enak dibawa ke masjid, ke tempat-tempat baik, dan enak dibawa ke mana pun.

Baca Juga:  3 Keutamaan Hidup bagi Orang Sakit yang Bersabar!

Lebih jauh Prof Afif menjelaskan bahwa iman itu bisa naik dan turun bahkan hilang. Siapa yang berpengaruh? Ya lingkungan, termasuk juga pakaian yang dikenakan sehari-hari.

Lingkungan pendukung

Harus ada lingkungan tertentu dan baik untuk mengawal keimanan, termasuk lingkungan kampus islami yang selama ini digaungkan dan diterapkan oleh UM Bandung.

“Nanti di sana ada kebiasaan dan budaya yang memancarkan nilai-nilai islami. Saya berharap jika ada orang ingin melihat kampus islami, ya lihatnya ke UM Bandung. Oleh karena itu, jangan mengoyak nilai-nilai islami, tetapi mari kita bangun bersama untuk kemudian nilai-nilai islami itu kita amalkan di kampus,” ucap Prof Afif.

Terakhir, Prof Afif berpesan kepada para mahasiswa bahwa Baitul Arqam merupakan kegiatan yang sangat penting karena merupakan syarat mahasiswa bisa lulus dari UM Bandung.

Baca Juga:  Jalan Tobat itu Mudah Diucapkan, Sulit Dilakukan!

Namun, dirinya berharap mahasiswa tidak memikirkan hal tersebut. Hal yang lebih penting yakni bagaimana mahasiswa mampu mendalami materi-materi dalam Baitul Arqam.

“Karena itulah yang lebih penting untuk nanti kita amalkan bersama-sama,” tandas Prof Afif.

Baitul Arqam seri terakhir ini diikuti 222 mahasiswa Fakultas Agama Islam. Perinciannya yakni 36 mahasiswa Ekonomi Syariah, 28 mahasiswa Hukum Keluarga Islam, 39 mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, 73 mahasiswa PAI, 27 mahasiswa PIAUD, 2 mahasiswa dari FSH (susulan), 10 mahasiswa FEB (susulan), dan 7 mahasiswa FST (susulan).***(FA)