Pojok  

Kekuasaan Itu Seperti Makan Kuaci

Oleh Dr. Budi Santoso | Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

KABARINDAH.COM – Jabatan, kekayaan atau kekuasaan itu seperti makan kuaci. “Nritil”, mengasyikkan, susah berhenti, tetapi tidak pernah kenyang.

Jangan berharap kenyang dengan makan kuaci. Demikian pula dengan kekuasaan, jabatan atau kekayaan.

Kekuasaan atau kekayaan selalu menjadi target buruan hidup kita. Belajar ilmu manajemen, politik, ekonomi, dan lainnya akhirnya kalau tidak kekayaan, berujung mencari kekuasaan.

Kenapa orang terobsesi atau menggemari kekuasaan dan kekayaan. Masyarakat kita, sepertinya melihat tolok ukur keberhasilan yang mudah mengukurnya. Ketimbang mengukur kebahagiaan seseorang.

Berkuasa itu keren, membanggakan. Kekayaan itu membuat nyaman, dan aman. Itulah pendapat orang secara umum.

Baca Juga:  Ushuluddin, Munaqasyah dan Produk Teknologi

Saya tidak tahu pendapat Anda. Mungkin ada juga yang berbeda.

Sekolah-sekolah jarang berbangga dengan alumni yang baik hati, jujur, bahagia, jelata dan kere. Alumni yang selalu dibanggakan adalah alumni yang bergelimang kekuasaan dan kekayaan. Sepertinya ukuran keberhasilannya adalah keberhasilan meraih duniawi.

Banyak nasihat bahwa kekayaan, kekuasan dan jabatan adalah semu, menyesatkan dan kawannya setan. Namun seringkali yang memberi nasihat adalah orang yang belum pernah merasakan nikmatnya kekuasaan, kekayaan atau jabatan.

Sehingga seringkali diabaikan orang. Dianggap sebagai nasihat orang gagal. Nasihat dari orang yang belum pernah tahu nikmatnya makan kuaci, ketika begadang dan ngobrol.

Apakah menasihati tentang sesuatu harus orang yang pernah mengalami? Kadang kita tidak usah menguji tangan tersulut api itu panas, untuk membuktikan bahwa api itu panas, karena sudah terbukti. Biarlah orang lain saja yang terbakar, kita tidak usah ikut terbakar.

Baca Juga:  Tahun Baru: Ruang Baru untuk Berbuat Kebajikan

Biarlah keasyikan makan kuaci kita lanjutkan, asal tahu kapan kita harus berhenti. Karena kuaci itu asin, dapat memicu tensi darah “mbludak”, seperti air di bendungan Katulampa Bogor di musim hujan.

Tetap semangat. (*)