Ibrah  

Bolehkah Memberikan Hadiah Kepada Pembaca Al-Quran? Begini Penjelasan Ustad Fadlan

Dosen program studi Pendidikan Agama Islam UM Bandung Moch Fadlan Salam SPdI MPd (Dokumentasi Promosi dan PMB UM Bandung)

KABARINDAH.COM, Bandung – Belum lama ini jagat maya heboh dengan adanya seorang qariah disawer uang ketika dia sedang membaca Al-Quran di atas panggung.

Di samping ada yang menganggap hal itu biasa, tetapi banyak netizen yang mengecam tindakan nyawer tersebut karena dianggap tidak sopan kepada pembaca Al-Quran dan kepada Al-Quran itu sendiri sebagai kalamullah yang suci.

Terkait hal tersebut, dosen program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) Moch Fadlan Salam SPdI MPd pun angkat bicara.

Ustad Fadlan menilai bahwa nyawer qari yang sedang membaca kitab suci Al-Quran itu merupakan tindakan yang kurang baik. Ustad Fadlan menilai bahwa acara yang baik tidak akan berkah dan mendapat rahmat jika dalam rangkaian acaranya terdapat hal yang tidak baik.

“Acara yang baik ketika diisi yang tidak baik bisa menyebabkan acaranya malah menjadi tidak baik, tidak berkah, tidak mendapatkan rahmat, pahala,” ucapnya.

Ustad Fadlan mengungkapkan jangan sampai muncul pelanggaran terhadap adab yang lebih dominan. Berbicara adab yang berkaitan dengan akhlak dalam syariat Islam, Ustad Fadlan mengatakan ada tiga, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Ketiganya terintegrasi, tidak dapat dipisahkan.

Baca Juga:  Inilah Profil Singkat 9 Ahwa di Muktamar ke-34 NU

“Adab lebih berkaitan dengan akhlak. Kalau kita membahas syariat Islam, maka ada iman, Islam, dan ihsan. Iman itu kita tahu akidah, rukun iman. Kalau Islam kita tahu juga adalah syariat. Sementara ihsan adalah bagaimana kita beramal dengan sikap untuk mengamalkan iman dan Islam,” jelas Ustad Fadlan.

Adab bermajelis

Ustad Fadlan menyampaikan tiga aspek yang terlihat dari kejadian viral ini. Di antaranya adab membaca Al-Quran, menghadiri atau melaksanakan majelis sampai selesai, dan memberikan hadiah.

Saweran yang dilakukan saat mengaji boleh jadi maksudnya untuk mengapresiasi. Namun, tentu dalam Islam, kata Ustad Fadlan, ada adab memberikan hadiah di suatu majelis, misalnya, yang harus diperhatikan dan dipahami dengan baik.

Mengutip kitab karya Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada (Ensiklopedi Adab Islam), terdapat hampir 20 poin yang menjelaskan mengenai adab bermajelis.

Baca Juga:  Amalan Dzikir untuk Keluar dari Kesusahan Hidup

Ustad Fadlan menjelaskan bahwa jangankan berdiri untuk memberikan saweran, ketika hadir dalam majelis, kita harus mengucap salam, berlapang-lapang, dan tidak berbisik-bisik. Lalu ketika berdiri, kita juga dianjurkan memohon izin. Ketika selesai, maka memohon ampunan dengan berdoa kafaratul majelis.

Ustad Fadhlan menyitir hadis dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah bersabda: idzan taha ahadukum ilal majlis fal yusallim, artinya apabila salah seorang di antara kamu datang ke majelis, hendaklah mengucapkan salam.

Banyak hadis yang menjelaskan adab dalam sebuah majelis. Ustad Fadlan menegaskan kalau hadis itu tidak dipahami dan dikaji oleh umat Islam dengan baik, maka akan banyak terlupakan dan tidak diamalkan.

Memberikan hadiah

Pada konteks memberikan hadiah terdapat tuntunan dari Nabi SAW. Salah satu di antaranya tidak boleh asal memberi.

“Dalam memberikan hadiah, ada waktu ketika memberikannya, tepat tidak waktunya. Jangan ketika membaca Al-Quran, terus niatnya memberikan hadiah. Kan bisa dengan waktu yang lebih tepat. Misalnya setelah selesai membaca Al-Quran atau memang diumumkan oleh panitia. Itu ajaran Islam,” paparnya.

Baca Juga:  Siapkan Konten Islami Saat Ramadan, UZONE Gandeng Aplikasi KESAN

Membaca Al-Quran

Al-Quran adalah kalam Allah yang suci. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai adab bagaimana membaca, mendengar, dan menghafal Al-Quran. Selain pembaca Al-Quran, pendengar juga sudah diatur adabnya dalam Al-Quran.

Lafadz dalam QS Al-A’raf ayat 204, idza qurial quran, artinya apabila dibacakan Al-Quran, fastamiu lahu wa ansitu, maka dengarkanlah dan diamlah, laallakum turhamun, artinya agar kamu mendapat rahmat.

Ustad Fadlan juga menerangkan dalam keterangan hadis dijelaskan bahwa seseorang ketika mendengarkan lantunan Al-Quran harus mentadaburi dan merenungi maknanya.

Allah SWT dalam QS Muhammad ayat 24 menganjurkan kita untuk mentadaburi Al-Quran. Lafaz afala yatadabbarunal qurana am ala qulubin aqfaluha artinya maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci.

“Islam memang luar biasa bagaimana mengatur penganutnya untuk kemaslahatan, keteraturan, dan keadilan segalanya,” tandas Ustad Fadlan.***(MPAF)