Pojok  

“Aku, Indonesia, dan Luka yang Perlahan Sembuh”

Cerpen Oleh : Mia Sari Novianti
Guru SMK IT Aljunaediyah Kabupaten Sukabumi

Tanggal 1 Juni.
Sekolah mengadakan upacara Hari Lahir Pancasila seperti biasa. Lapangan panas. Angin pelan. Anak-anak berdiri sambil sesekali mengeluh.

“Lama banget…”“Pusing.”
“Pengen duduk.”
Naura hanya diam.
Matanya kosong menatap bendera merah putih yang perlahan naik ke atas tiang.

Sudah lama ia merasa lelah. Bukan lelah karena sekolah. Tapi lelah karena hidup.
Di rumah, ayah dan ibunya sering bertengkar.

Kadang tentang uang. Kadang tentang hal kecil yang akhirnya jadi besar. Naura mulai sering merasa sendirian.

Ia jadi mudah marah. Mudah menangis.
Mudah merasa tidak berharga. Dan yang paling capek…Ia selalu pura-pura kuat.

Saat pembina upacara mulai berbicara tentang Pancasila, Naura nyaris tidak mendengarkan. Sampai satu kalimat membuatnya terdiam.

“Indonesia tidak dibangun oleh manusia yang sempurna. Tapi oleh manusia yang tetap memilih saling menguatkan walau sama-sama terluka.”

Entah kenapa dada Naura terasa sesak.
Setelah upacara selesai, ia duduk sendirian di belakang taman sekolah. Air matanya jatuh pelan.

“Ternyata aku capek juga…”
Suara itu lirih sekali. Seperti pengakuan yang selama ini ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.

Tiba-tiba Bu Hana, guru PAI di sekolahnya, datang menghampiri. “Kamu nggak ikut masuk kelas?”

Naura buru-buru menghapus air mata.
“Nggak apa-apa, Bu.” Bu Hana tersenyum kecil.

“Orang yang bilang ‘nggak apa-apa’ biasanya justru sedang menyimpan banyak hal.”
Naura terdiam.

Angin sore bergerak pelan. Suara daun terdengar lembut.
Bu Hana duduk di sampingnya.
“Tarik napas pelan…” katanya lembut.
Naura mengikuti.

“Sekarang pejamkan mata sebentar…”
Awalnya Naura ragu. Tapi suara Bu Hana terasa menenangkan.

“Bayangkan dirimu yang kecil…
yang dulu suka tertawa…
yang dulu percaya bahwa hidup akan baik-baik saja…”

Air mata Naura mulai jatuh lagi.
“Sekarang peluk dirinya dalam hatimu…
katakan pelan…”

Bu Hana berhenti sejenak.
Naura mendengar suaranya seperti masuk jauh ke dalam hati.
“Aku tahu kamu lelah…tapi terima kasih sudah bertahan sejauh ini.”
Tangis Naura pecah.

Sudah lama sekali tidak ada yang berkata seperti itu padanya. Bu Hana melanjutkan dengan suara hangat, seperti terapi yang menenangkan luka.

“Kamu tidak harus jadi sempurna untuk berharga. Kamu tidak harus selalu kuat untuk dicintai.
Dan luka dalam hidupmu… bukan akhir dari hidupmu.”

Naura menangis tanpa suara.
Di tengah tangis itu, entah kenapa ia merasa sedikit lebih ringan.
Sedikit lebih tenang.
Seperti ada bagian dalam dirinya yang perlahan dipeluk.

Bu Hana menatap bendera merah putih yang masih berkibar dari kejauhan.
“Tau nggak kenapa Pancasila itu penting?”
Naura menggeleng.

“Karena Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus saling menghancurkan. Termasuk perbedaan dalam diri kita.”
“Maksudnya?”
“Kadang hati kita juga berisik. Ada sedih, kecewa, marah, takut. Tapi semuanya harus diajak berdamai… bukan dibenci.”

Naura menunduk.
Untuk pertama kalinya, ia sadar…selama ini ia terlalu keras pada dirinya sendiri.

Hari itu, di tanggal 1 Juni, Nara belajar sesuatu. Bahwa mencintai Indonesia bukan cuma soal upacara. Tapi juga tentang belajar menjadi manusia yang lebih lembut.
Lebih peduli.

Lebih mampu menyembuhkan, bukan melukai. Sebelum masuk kelas, Bu Hana berkata pelan:

“Indonesia butuh anak muda yang hatinya sehat. Karena bangsa yang kuat… lahir dari jiwa yang tidak menyerah.”

Naura tersenyum kecil. Mungkin lukanya belum hilang sepenuhnya. Tapi hari itu…
ia tidak lagi merasa sendirian.

Dan di bawah langit 1 Juni,
bersama merah putih yang berkibar pelan…
seorang remaja mulai belajar membersamai luka itu dengan ketenangan, dan memaafkan hidupnya sendiri.

Exit mobile version