Oleh : Mia Sari Novianti
Guru SMK IT Aljunaediyah Kabupaten Sukabumi
Di sebuah sudut kampung kecil, hiduplah seorang wanita bernama Aisyah.
Usianya belum terlalu tua, tetapi lelah di wajahnya membuat ia tampak jauh lebih dewasa. Sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, ia menjalani hidup sebagai ibu sekaligus ayah bagi lima anaknya.
Pagi hari, ia berangkat mengajar sebagai pegawai honorer di sebuah sekolah yayasan Islam. Gajinya tidak besar. Bahkan sering kali habis sebelum akhir bulan tiba.
Untuk membeli beras, membayar uang sekolah anak, dan ongkos harian saja, ia harus menghitung lembar demi lembar uang di dompetnya.
Rumahnya sederhana. Atap dapurnya kadang bocor saat hujan turun. Lemari pakaiannya hanya berisi beberapa gamis lusuh yang masih ia jahit sendiri jika sobek.
Namun ada satu hal yang selalu hidup di dalam dadanya: keinginan untuk berkurban.
Setiap Idul Adha tiba, ia selalu memandang hewan-hewan kurban dengan mata berkaca-kaca.
Bukan iri.
Ia hanya ingin sekali menjadi bagian dari orang-orang yang bisa memberi.
Sering kali setelah anak-anaknya tidur, Aisyah duduk sendiri di sajadahnya yang mulai tipis. Dalam sunyi malam, ia berdoa pelan sambil menangis.
“Ya Allah… aku tahu aku tidak punya apa-apa. Bahkan tabungan pun tidak ada. Tapi Engkau Maha Kaya. Kalau tahun ini Engkau izinkan, aku ingin menjadi bagian dari orang yang berkurban…”
Tangannya terangkat gemetar.
Lalu ia membaca firman Allah:
“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Ayat itu menjadi pelukannya setiap malam.
Kadang ia merasa malu dengan mimpinya sendiri.
Bagaimana mungkin seorang janda honor dengan lima anak berharap bisa berkurban?
Tetapi hatinya selalu berkata,
“Bukankah Allah Maha Membolak-balik keadaan?”
Hari-harinya tetap berjalan berat.
Pagi mengajar. Siang menjemput anak.
Malam mencuci pakaian sambil menahan pegal.
Namun diam-diam, setiap kali melihat kambing atau sapi kurban lewat di jalan, ia selalu berbisik dalam hati:
“Ya Allah… suatu hari nanti…”
Sampai suatu pagi di bulan Dzulhijjah, kepala sekolah memanggil seluruh guru ke aula yayasan.
Aisyah datang dengan perasaan biasa saja. Ia pikir hanya rapat rutin.
Ketika nama-nama penerima amanah sohibul qurban dibacakan, tiba-tiba ia mendengar namanya disebut.
“Ibu Aisyah…”
Ia terdiam.
“Dipilih menjadi salah satu sohibul qurban tahun ini dari yayasan.”
Dunia seperti berhenti beberapa detik.
“Apa… saya?” tanyanya lirih.
“Iya, Bu. Yayasan memilih beberapa guru yang dinilai layak menerima amanah dan pahala kurban tahun ini.”
Aisyah langsung menunduk. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Bukan karena ia akhirnya memiliki nama di daftar itu.
Tetapi karena Allah benar-benar mendengar doa seorang hamba yang selama ini merasa kecil dan tidak punya apa-apa.
Di sudut aula, ia menangis sambil menutup wajahnya.
Dalam hati ia berkata:
“Ya Allah… ternyata Engkau tidak pernah menertawakan mimpi hamba-Mu yang miskin…”
Hari itu, saat pulang ke rumah, anak-anaknya menyambut di depan pintu.
“Ibu kenapa menangis?”
Aisyah memeluk mereka satu per satu.
“Karena Allah baik sekali sama kita…”
Langit sore terasa begitu hangat.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup penuh perjuangan, hati Aisyah merasa benar-benar dipeluk oleh langit.
Kadang doa tidak langsung dikabulkan karena Allah sedang menyiapkan cara terindah untuk menjawabnya.
