Stop Berpikir Menulis Jurnal Seolah Ingin Ubah Dunia dalam Sekejap

  • Bagikan

KABARINDAH.COM- Membuat tulisan jurnal ilmiah selamanya akan terasa sulit, kalau kita selalu dihantui pikiran bahwa dengan tulisan kita, dunia bisa berubah dalam sekejap.

“Para dosen, termasuk dosen UIN Bandung, banyak yang berpikiran begitu,” ungkap Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kemenag RI Prof Dr HM Ali Ramdhani, S.TP, MT saat memberikan arahan dalam workshop “Penulisan Jurnal Ilmiah Bereputasi” yang digelar Fakultas Adab dan Humaniora (FSH) UIN Bandung di Sumedang, Jumat (30/04/2021).

Workshop bertajuk “Tips and Trick Publikasi Bereputasi Internasional pada Bidang Humaniora” dipandu oleh Ari Arifin Danuwijaya, M.Ed dan Prof Dr Ade Gafar Abdullah, M.Si. dari Universitas Pendidikan Indonesia. Dihadiri oleh Wakil Rektor I UIN SGD Prof Dr H Rosihon Anwar; Dekan dan segenap pimpinan serta dosen FAH.

Menurut Prof Dhani, perlu mengubah pola pikir kita bahwa menulis itu sederhana, yang penting masalah yang dibahas masuk dalam perspektif global. Dalam faktanya, banyak karya tulis yang temanya sederhana/ringan tetapi terindeks Scopus.

UIN Bandung dalam pandangan Prof Dhani memiliki potensi yang luar biasa. Memiliki banyak bahan tulisan, tetapi sayang dalam desainnya terlalu ngotot, sehingga hasilnya kurang bagus.
“Semoga Workshop ini melatih kita agar pandai mendesain tulisan, sehingga lahir karya-karya tulis yang bagus,” katanya.

Tingkatkan Rekognisi

Ternyata dalam workshop kali ini seluruh dosen berkesempatan menyampaikan artikel Jurnal dalam Rapat Komisi yang digelar oleh masing-masing jurusan: Sastra Inggris, Bahasa dan Sastra Arab, dan Sejaran Peradaban Islam.

Dekan FAH Dr H Setia Gumilar, M.Si terus memacu rekognisi dosen di level Internasional, dengan cara melakukan publikasi karya ilmiah, baik berupa laporan hasil penelitian, hasil pengabdian kepada masyarakat, maupun bentuk Literature review.

Ia mengingatkan, tugas pokok dosen adalah melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Maka, dosen menjadi ujung tombak akademis, yang mampu meningkatkan reputasi perguruan tinggi di level nasional, Asia Tenggara, atau International.

Rekognisi para dosen berkontribusi besar bagi kemajuan FAH dan UIN SGD Bandung. Tak pelak pada 2021 ini prestasi UIN SGD Bandung cukup membanggakan. Menurut lembaga perangking SCImago Institutions
Rankings (SIR), UIN Bandung berada pada peringkat ke-1 di lingkungan PTKI, posisi ke-2 di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia, ke-94 di Asia, dan ke 840 di dunia. Sedangkan menurut Webometrics, UIN Bandung berada di posisi ke-1 di lingkungan PTKI, posisi ke-36 di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia, dan ke 3.572 di dunia.

“Kita bersyukur juga, Jurusan SPI UIN Bandung meraih peringkat 1 se-Indonesia untuk publikasi karya Ilmiah dari Sinta Dikti,” ujar Dekan.

“Ini sangat membanggakan! Berarti rekognisi para dosen terus meningkat, dan Tri Dharma Perguruan Tinggi UIN Bandung berjalan dengan baik. Kewajiban kita, mempertahankan dan meningkatkan reputasi ini,” ujar Dr Setia yang dinilai cukup greget, bersemangat, dan peduli dalam meningkatkan rekognisi para dosen.

  • Bagikan