Kabar  

Riset UIN Bandung: Masyarakat Adat Simpan Kunci Ketahanan Pangan dan Kelestarian Lingkungan

KABARINDAH.COM, Banten – Di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan, masyarakat adat justru menunjukkan ketangguhan yang patut dipelajari.

Mereka mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus kelestarian alam melalui kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Temuan tersebut menjadi hasil penting penelitian MORA LPDP The Air Funds yang dilakukan Tim Peneliti UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Hasil riset dipaparkan dalam Focus Group Discussion (FGD) Penelitian Ketahanan Pangan Desa Adat di Provinsi Banten.

FGD dipimpin Ketua Peneliti Lilis Sulastri bersama tim peneliti UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Kegiatan ini melibatkan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), akademisi, Bantenologi, serta para pendamping masyarakat adat Baduy, Cisungsang, Citorek, Gelar Alam, dan berbagai kasepuhan di Banten.

Lilis mengatakan penelitian tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya ancaman krisis pangan dunia.

Perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan berkurangnya lahan produktif menjadi tantangan yang harus segera diantisipasi.

Di sisi lain, masyarakat adat justru mampu mempertahankan sistem pangan yang berkelanjutan.

Mereka menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan sumber daya melalui norma adat, tata kelola sosial, serta pengetahuan lokal yang telah teruji selama ratusan tahun.

“Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa masyarakat adat bukan kelompok yang tertinggal. Mereka justru berhasil membangun sistem ketahanan pangan berbasis nilai, budaya, dan kelestarian lingkungan,” katanya.

“Negara sudah saatnya mengubah paradigma, dari sekadar membangun masyarakat adat menjadi belajar dari masyarakat adat dalam merumuskan kebijakan ketahanan pangan nasional,” ujar Lilis.

Selama FGD berlangsung, para peserta memvalidasi temuan awal penelitian. Mereka sepakat bahwa masyarakat adat merupakan aset strategis bangsa.

Perannya tidak hanya menjaga ketersediaan pangan, tetapi melindungi hutan, sumber mata air, dan keanekaragaman hayati.

Diskusi juga mengungkap berbagai praktik baik yang telah lama dijalankan masyarakat adat.

Di antaranya sistem leuit atau lumbung pangan tradisional, pola tanam berbasis musim, diversifikasi pangan lokal, perlindungan hutan adat, serta tata kelola sosial berbasis hukum adat.

Menurut tim peneliti, praktik tersebut merupakan contoh nyata pembangunan berkelanjutan.

Sistem itu mampu menjaga produktivitas pangan tanpa merusak lingkungan. Model tersebut dinilai sangat relevan untuk memperkuat kebijakan ketahanan pangan nasional.

Dari hasil FGD, tim peneliti merumuskan lima rekomendasi strategis.

Pertama, pemerintah perlu menempatkan masyarakat adat sebagai subjek pembangunan dan aset strategis bangsa.

Kedua, pembangunan di wilayah adat harus menggunakan pendekatan berbasis budaya.

Ketiga, model ketahanan pangan masyarakat adat perlu dijadikan best practice nasional.

Keempat, pemerintah perlu mempercepat penguatan regulasi dan pengakuan terhadap wilayah serta hutan adat.

Kelima, diperlukan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Lilis menegaskan bahwa penelitian ini tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Hasil riset akan dikembangkan menjadi model konseptual ketahanan pangan masyarakat adat.

Model tersebut diharapkan menjadi rekomendasi kebijakan bagi pemerintah pusat maupun daerah.

“Indonesia sesungguhnya memiliki laboratorium hidup yang luar biasa. Masyarakat adat telah membuktikan bahwa menjaga pangan tidak dapat dipisahkan dari menjaga hutan, menjaga air, menjaga tanah, serta menjaga nilai-nilai kehidupan,” imbuhnya.

“Ketika dunia mencari solusi atas krisis iklim dan krisis pangan, masyarakat adat telah lebih dahulu mempraktikkannya selama berabad-abad. Inilah kekayaan pengetahuan Indonesia yang harus diangkat menjadi arah kebijakan pembangunan nasional,” tegasnya,” tandasnya.

Melalui penelitian ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan komitmennya menghadirkan riset yang berdampak bagi masyarakat.

Tidak hanya memperkaya khazanah akademik. Namun, melahirkan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat ketahanan pangan, ketahanan ekologis, dan pembangunan berkelanjutan yang berakar pada kearifan lokal Nusantara.***

Exit mobile version