Kabar  

Prodi PAI UM Bandung Soroti Masa Depan Pendidikan Islam Global

KABARINDAH.COM, Bandung – Eksistensi dan keberlanjutan pendidikan Islam di negara dengan populasi muslim minoritas kini menjadi isu global yang memicu perhatian para akademisi dunia.

Merespons dinamika tersebut, Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar seminar internasional tingkat tinggi bertajuk “Mapping the Future: Memetakan Masa Depan Pendidikan Islam dalam Kerangka Multikultural dan Sekuler di Negeri Minoritas Muslim (Thailand dan Tiongkok).”

Agenda akademik yang digelar secara hybrid di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, pada Selasa (07/07/2026), ini tidak hanya menjadi ruang diskusi teoretis. Namun, sebuah ikhtiar strategis untuk memetakan cetak biru pendidikan Islam adaptif di masa depan.

Acara dibuka dengan khidmat oleh rangkaian sambutan dari jajaran pimpinan universitas yang menegaskan posisi UM Bandung dalam mendukung internasionalisasi akademik.

Ketua Prodi PAI UM Bandung Iim Irohim dalam pidato pembukanya menyampaikan bahwa studi kasus di Thailand dan Tiongkok memberikan pelajaran berharga mengenai resiliensi pendidikan Islam.

Sejalan dengan hal tersebut, Dekan FAI UM Bandung Afif Muhammad menggarisbawahi bahwa kurikulum Islam harus mampu berbicara banyak di ruang publik yang heterogen.

Sementara itu, Wakil Rektor I UM Bandung Ayi Yunus Rusyana saat membuka acara secara resmi, menyatakan dukungan penuh universitas terhadap pengembangan kajian-kajian global yang relevan dengan kebutuhan umat di berbagai belahan dunia.

Ayi mendorong ke depannya bukan hanya mengadakan seminar internasional. Namun, PAI UM Bandung bisa mengadakan konferensi Internasional dengan menghadirkan narasumber terkemuka dari berbagai negara dunia.

Menembus Tembok Sekuler Tiongkok dan Merajut Multikulturalisme Thailand

Memasuki sesi inti, seminar ini menghadirkan tiga pakar lintas negara. Pembicara pertama, Muhammad Aziz, yang merupakan Penasihat sekaligus Ketua PCIM Tiongkok periode 2019-2022, mengupas tuntas tema “Pendidikan Islam dan Dinamika Kehidupan Muslim di Tiongkok: Tantangan, Peluang, dan Masa Depan”.

Aziz memotret bagaimana institusi pendidikan Islam di Tiongkok menavigasi regulasi ketat di bawah sistem negara sekuler.

Di balik tantangan tersebut, dia memaparkan adanya peluang besar pemanfaatan ekosistem digital Tiongkok yang maju pesat untuk memperluas dakwah dan literasi Islam secara kreatif.

Perspektif Asia Tenggara kemudian dihadirkan oleh Preecha Roengsamut, Vice Director Sangkhom Islam Wittaya School, Thailand. Membawakan tajuk “Transformasi Pendidikan Islam di Thailand dalam Masyarakat Multikultural”, Preecha menjelaskan evolusi sekolah Islam di Thailand Selatan.

Di tengah masyarakat mayoritas Buddha, institusi pendidikan Islam di sana berhasil melakukan transformasi struktural, mengintegrasikan nilai-nilai lokal, dan melebur dengan kurikulum nasional tanpa kehilangan substansi nilai syariat demi melahirkan generasi muda yang kompetitif dan inklusif.

Sebagai pamungkas, Supala, dosen PAI UM Bandung, menarik benang merah teoretis melalui materi “Perspektif Pendidikan Islam Berkemajuan dalam Konteks Global dan Minoritas Muslim”.

Supala menegaskan, gagasan Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah memiliki fleksibilitas tinggi untuk diterapkan di wilayah minoritas.

Pendidikan Islam, menurutnya, tidak boleh eksklusif, tetapi harus hadir sebagai jembatan dialogis, membawa misi kedamaian (rahmatan lil ‘alamin), dan menawarkan solusi nyata terhadap problem kemanusiaan universal.

Acara yang dihadiri peserta sebanyak 425 ini dari berbagai instansi, ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang dinamis.

Prodi PAI FAI UM Bandung berharap hasil pemikiran dari seminar ini dapat menjadi referensi penting bagi para pembuat kebijakan pendidikan Islam di Indonesia dalam menyusun kurikulum yang berwawasan global.

Peserta yang hadir sebanyak 425 orang. Seminar ini mendapatkan antusiasme yang luar biasa dari peserta yang terdiri atas dosen, peneliti, praktisi pendidikan, dan mahasiswa dari berbagai wilayah.

Sesi diskusi interaktif berlangsung dinamis dengan banyaknya pertanyaan kritis terkait strategi bertahan dan berkembangnya kurikulum Islam di luar negeri.

Melalui suksesnya seminar internasional ini, Prodi PAI FAI UM Bandung kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat jejaring internasional serta memosisikan diri sebagai pusat kajian pendidikan Islam yang adaptif terhadap dinamika global.***

Exit mobile version