Makna dan Arti Ikhlas dalam Hidup. Sudahkah Kita Ikhlas?

  • Bagikan
Foto: Getty Images/iStockphoto/mkitina4

KABARINDAH.COM – Ikhlas berarti murni, tidak tercampuri oleh sesuatu yang lain. Ikhlas karena Allah artinya yang dituju hanyalah Allah, yang dicari dan yang diharapkan hanyalah Dia semata, tidak yang lain.

Orang yang ikhlas ialah orang yang selalu memurnikan niatnya karena Allah, memfokuskan tujuannya hanya kepada-Nya, bersandar, bertumpu dan bergantung kepada-Nya, senantiasa ridha dengan segala ketentuan dan ketetapan-Nya, serta merasa puas dengan segala pemberian-Nya.

Ketika beramal, ia beramal dengan sebaik-baiknya dan mempersembahkannya kepada Allah. Hatinya jauh dari motivasi pamer (riya), apalagi membangga-banggakan diri dengan amalnya. Karena yang ia cari dan ia tuju hanyalah Allah, yang ia harapkan hanyalah ridha-Nya.

Orang yang ikhlas hidupnya akan merdeka; merdeka dari penjajahan nafsu dan perbudakan syahwat. Karena, hatinya penuh dengan keyakinan kepada-Nya, pikirannya selalu tertuju kepada-Nya, dan kesadarannya senantiasa tersambung dengan-Nya.

Orang yang ikhlas juga akan merasakan kebahagiaan sejati, kebahagiaan bersama Allah. karena baginya, Allah adalah sumber kebahagiaan yang sesungguhnya, dan segala-galanya.

Orang yang ikhlas adalah ahli syukur ketika berlimpah karunia. Kemelimpahan tak membuatnya lalai dari-Nya, gemerlapnya dunia yang menghampirinya tak membuatnya silau hingga melupakan-Nya.

Ia juga ahli sabar ketika derita menimpa. Kesulitan tak membuatnya terpuruk, kemiskinan tak membuatnya ambruk, bencana tak menjadikannya kecewa dan putus asa, apalagi sampai mengutuki takdir-Nya.

Justeru ia semakin teguh dan tangguh. Karena ia yakin seyakin-yakinnya, bahwa semuanya adalah ujian dari-Nya untuk meningkatkan kualitas kehambaannya dan untuk lebih mendekatkan dia dengan-Nya.

Siapa yang bertumpu pada makhluk, ia akan jatuh. Siapa yang betumpu pada Allah, ia akan tangguh. Orang yang menggantungkan seluruh harapannya dan bertumpu sepenuhnya kepada harta, ia akan jatuh dalam lembah keputus asaaan, ketika harta tersebut hilang dari genggamannya.

Demikian pula halnya ketika menjadikan kekuasaan, pupularitas dan segala hal yang nisbi lainnya sebagai sandaran utamanya dan puncak tujuannya (segala-galanya), ia akan jatuh dalam jurang kekecewaan ketika semua itu tidak berhasil didapatnya atau terlepas dari dirinya.

Sebaliknya, orang yang menjadikan Allah sebagai tumpuan dan sandarannya akan tetap tanggu wlau badai cobaan menerjangnya.

Orang yang bertumpu pada kekayaan, sesungguhnya kekayaa itu akan hancur. Orang yang bertumpu pada kekuasaan, sesungguhnya kekuasaan itu akan berakhir.

Orang yang bertumpu pada popularitas, sesungguhnya popularitas itu akan pudar. Kekuasaan (jabatan), popularitas, dan lain sebagainya akan mudah jatuh, karena semua itu.

Makhluk itu dicipta, sedangkan Allah Maha Pencipta; pantaskah kita menjadikan yang dicipta sebagai sandaran hidup kita!? Makhluk itu fana, sedangkan Allah itu baqa; pantashkah kita menjadikan yang fana’ sebagai tujuan segala-galanya!?

Makhluk itu selalu bergantung dan membutuhkan, sedangkan Allah tampat segalanya bergantung dan Mahakaya; layakkah kita menggantungkan hidup pada yang selalu bergantung dan membutuhkan!? Makhluk itu lemah, sedangkan Allah mahakuasa; patutkah bertumpu pada yang lemah!?

Sudahkah kita ikhlas dalam hidup ini?

  • Bagikan