KABARINDAH.COM, Sukabumi—Laju inflasi Kota Sukabumi pada periode April hingga Juni 2026 tercatat mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh meredanya harga sejumlah komoditas hortikultura yang sebelumnya sempat menjadi pendorong utama kenaikan harga di pasar.
Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Sukabumi, Danny Ramdhani, menilai kondisi tersebut lebih banyak disebabkan oleh faktor alamiah pasar, khususnya normalisasi harga pangan setelah periode tekanan sebelumnya. “Inflasi Kota Sukabumi pada April sampai Juni 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini terutama didorong oleh melandainya harga sejumlah komoditas hortikultura yang sebelumnya menjadi penyumbang utama inflasi,” ujarmya, Jumat (5/6/2026).
Berikut catatan dari Fraksi PKS DPRD Kota Sukabumi :
Harga hortikultura turun seiring panen daerah sentra
Danny menerangkan, sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, kangkung, sawi hijau, jeruk, pepaya, hingga buncis tercatat mengalami penurunan harga. Kondisi ini terjadi seiring masuknya masa panen di berbagai daerah sentra produksi yang menjadi pemasok utama kebutuhan Kota Sukabumi.
Sebagai daerah non-produksi untuk komoditas tersebut, Kota Sukabumi sangat bergantung pada distribusi dari luar wilayah. Ketika pasokan meningkat dan distribusi berjalan lancar, harga di tingkat pasar pun ikut terkoreksi dan kembali stabil.
Tekanan permintaan mereda pasca-HBKN
Selain faktor pasokan terang Danny, meredanya tekanan inflasi juga dipengaruhi pola konsumsi masyarakat yang kembali normal setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadan dan Idulfitri. Permintaan terhadap bahan pangan, makanan jadi, serta jasa transportasi tidak lagi setinggi bulan sebelumnya.
Kondisi ini membuat tekanan inflasi dari sisi permintaan turut melemah secara signifikan.
Harga energi stabil, distribusi relatif lancar
Stabilnya harga energi, termasuk tidak adanya penyesuaian harga BBM maupun tarif listrik, juga ikut menjaga biaya distribusi dan produksi tetap terkendali.
Di sisi lain, ketersediaan kebutuhan pokok di pasar relatif mencukupi sehingga tidak terjadi gangguan keseimbangan pasokan dan permintaan.
Didominasi faktor musiman, bukan intervensi kebijakan
Danny menilai, perlambatan inflasi pada periode tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor musiman dan dinamika pasar ketimbang intervensi kebijakan yang signifikan dari pemerintah daerah.
“Penurunan inflasi ini lebih banyak dipengaruhi oleh normalisasi harga komoditas pangan, meredanya konsumsi pasca-HBKN, serta stabilnya harga energi,” kata Danny. Ia menambahkan, belum terlihat adanya kebijakan besar yang secara langsung memberikan dampak signifikan terhadap penurunan harga, seperti operasi pasar berskala besar atau subsidi daerah yang dominan.
Perlu evaluasi efektivitas pengendalian inflasi
Kondisi ini, menurut Danny, perlu menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kota Sukabumi dalam mengukur efektivitas program pengendalian inflasi yang telah dijalankan. “Penting untuk melihat sejauh mana penurunan inflasi ini merupakan hasil intervensi kebijakan, dan sejauh mana merupakan dampak faktor eksternal,” ujarnya.
Secara umum, tekanan inflasi di Kota Sukabumi pada Juni 2026 tercatat lebih rendah dan relatif terkendali dibandingkan periode sebelumnya. Namun dengan catatan kuat bahwa faktor musiman dan normalisasi harga komoditas masih menjadi penentu utama.
