IGA 2026, Kota Sukabumi Kejar Inovasi Efisiensi hingga Tekan Stunting

KABARINDAH.COM, Sukabumi–Pemkot Sukabumi mempercepat penyiapan inovasi daerah untuk menghadapi penilaian Innovative Government Award (IGA) 2026. Seluruh perangkat daerah diminta memastikan inovasi yang dimiliki terdokumentasi dan dilaporkan sesuai ketentuan.

Upaya tersebut dilakukan melalui Bimbingan Teknis dan Evaluasi Progres Pelaporan Inovasi Daerah pada IGA 2026 yang digelar di Ruang Rapat Bappeda Kota Sukabumi, Kamis (13/8/2026). Kepala Bappeda Kota Sukabumi M Hasan Asari mengatakan, saat ini seluruh unit kerja tengah memasuki tahap penting dalam penyiapan dokumen dan penginputan data inovasi.

“Batas akhir penginputan data inovasi daerah ditetapkan pada 21 Agustus 2026. Tujuan kegiatan ini agar inovasi dari setiap perangkat daerah terdaftar secara resmi dan memenuhi seluruh syarat kelayakan,” ujar Hasan. Menurut dia, setelah seluruh data inovasi masuk ke dalam sistem nasional, tahapan berikutnya akan dilanjutkan dengan presentasi utama.

Pada tahap tersebut, kepala daerah dijadwalkan memaparkan substansi. Sekaligus dampak inovasi yang telah dikembangkan Pemerintah Kota Sukabumi di hadapan tim penilai pusat.

Dalam momen itu Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki meminta seluruh jajaran birokrasi mempercepat lahirnya inovasi yang memberikan dampak nyata terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
Fokus inovasi, kata dia, tidak semata-mata mengejar penghargaan, tetapi harus mampu menjawab persoalan daerah, terutama efisiensi anggaran, pengentasan kemiskinan, dan penurunan angka tengkes atau stunting.

“Tahun ini kita harus juara lagi. Bahkan untuk tahun 2027 sudah kita siapkan dari sekarang,” kata Ayep saat memberikan arahan di hadapan kepala perangkat daerah dan camat se-Kota Sukabumi. Ia mengibaratkan inovasi dalam pemerintahan seperti pembaruan sel dalam tubuh manusia yang berlangsung secara berkelanjutan.

Karena itu, inovasi menurut dia harus menjadi bagian dari kebiasaan kerja birokrasi. “Inovasi harus terus bertumbuh di setiap lini, setiap saat. Dalam tubuh kita sebetulnya ada proses inovasi yang terjadi secara alamiah, terutama di saat kita sedang tidur,” tuturnya.

Ia menilai kemampuan birokrasi beradaptasi menjadi semakin penting di tengah tuntutan efisiensi pemerintahan. Setiap perangkat daerah dituntut mampu merespons tantangan dengan memperbaiki proses kerja dan mengembangkan pendekatan baru.

“Manusia menjadi makhluk yang sangat cepat dalam beradaptasi. Dalam pemerintahan, adaptasi ini sangat relevan dengan masa efisiensi,” ujar Ayep. Salah satu perhatian Pemkot Sukabumi adalah menekan beban belanja pegawai sekaligus meningkatkan efektivitas pelayanan publik.

Ayep menyebut belanja pegawai yang saat ini berada di kisaran 41 persen perlu ditekan hingga 30 persen. Menurut dia, inovasi menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mencapai target tersebut.

“Bagaimana kita menekan angka stunting, kemiskinan, dan menekan biaya pegawai? Belanja pegawai yang saat ini berada pada angka 41 persen bagaimana dapat menjadi 30 persen, salah satunya kita adakan melalui inovasi Sukasai,” tegasnya. Dengan demikian, persiapan IGA 2026 diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan administrasi penilaian. Pemerintah Kota Sukabumi mendorong agar inovasi yang dilaporkan benar-benar menghasilkan perubahan dalam tata kelola pemerintahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Exit mobile version