Oleh : Mia Sari Novianti
Guru SMK IT Aljunaediyah Kabupaten Sukabumi
Setiap tanggal 23 Juli, bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap hak, perlindungan, dan masa depan anak-anak. Dalam perspektif Islam, perhatian terhadap anak bukan hanya bagian dari tanggung jawab sosial, tetapi merupakan perintah agama.
Anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah Swt. yang harus dijaga, dididik, serta dibimbing agar tumbuh menjadi generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Di tengah perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, dan berbagai tantangan moral, peran keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi semakin penting dalam membentuk karakter anak.
Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan teladan yang baik.
Anak adalah Amanah dari Allah Swt.
Allah Swt berfirman:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”
(QS. Al-Kahfi [18]: 46).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa anak merupakan perhiasan kehidupan yang menghadirkan kebahagiaan bagi keluarga. Namun, kebahagiaan itu tidak boleh membuat orang tua lalai dari tanggung jawab mendidik mereka.
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa anak merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri. Nilai seorang anak tidak hanya diukur dari keberhasilan duniawinya, tetapi dari ketakwaan dan amal salehnya.
Sementara itu, Prof. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menerangkan bahwa anak adalah karunia sekaligus amanah. Orang tua tidak cukup memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga wajib membentuk kepribadian anak agar menjadi manusia yang bertakwa dan bermanfaat bagi masyarakat.
Tanggung Jawab Mendidik Anak
Allah Swt. berfirman:
”Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim [66]: 6).
Dalam Tafsir Ath-Thabari, ayat ini mengandung perintah agar setiap kepala keluarga mendidik anggota keluarganya dengan ilmu, iman, ibadah, dan akhlak yang baik sehingga mereka selamat dari keburukan dunia dan akhirat.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa orang tua, guru, dan para pendidik memiliki tanggung jawab moral dan spiritual terhadap tumbuh kembang anak. Pendidikan bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi membentuk karakter, akhlak, dan keimanan.
Anak Menurut Pandangan Para Ahli
1. M. Quraish Shihab
Quraish Shihab menjelaskan bahwa pendidikan anak harus dimulai dari keteladanan. Anak lebih mudah meniru perilaku daripada sekadar mendengar nasihat. Oleh karena itu, keluarga menjadi sekolah pertama bagi pembentukan karakter.
2. Abdullah Nashih Ulwan
Dalam kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam, Abdullah Nashih Ulwan menjelaskan bahwa pendidikan anak harus meliputi pendidikan akidah, ibadah, akhlak, intelektual, sosial, dan mental. Pendidikan yang utuh akan melahirkan generasi yang kuat secara spiritual maupun intelektual.
3. Abdul Mustaqim
Menurut Abdul Mustaqim, Al-Qur’an menempatkan anak sebagai anugerah sekaligus amanah. Oleh sebab itu, hak-hak anak seperti hak memperoleh kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan pembinaan moral wajib dipenuhi oleh orang tua dan masyarakat.
Refleksi Hari Anak Nasional
Hari Anak Nasional bukan hanya milik anak-anak, tetapi juga momentum evaluasi bagi orang dewasa.
Sudahkah kita:
Menjadi teladan yang baik bagi anak?
Memberikan waktu untuk mendengarkan cerita mereka?Mengajarkan Al-Qur’an dan akhlak mulia?Melindungi mereka dari pengaruh negatif media digital?Mendoakan mereka setiap hari?
Anak-anak tumbuh bukan hanya karena makanan bergizi, tetapi juga karena kasih sayang, perhatian, pendidikan, dan doa orang tuanya.
Penutup
Hari Anak Nasional mengajarkan bahwa membangun bangsa harus dimulai dari membangun generasinya. Dalam Islam, keberhasilan orang tua bukan hanya ketika anak menjadi orang yang sukses secara duniawi, tetapi ketika mereka tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, mencintai ilmu, dan bermanfaat bagi sesama.
Semoga Allah Swt. menjadikan anak-anak Indonesia sebagai generasi yang saleh dan salehah, berbakti kepada orang tua, cinta Al-Qur’an, serta mampu menjadi pemimpin yang membawa keberkahan bagi agama, bangsa, dan negara.
Sebagaimana firman Allah Swt.:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan [25]: 74).
