FGM Jawa Barat Buka Diklat Guru Sains Berbasis Metode QS2

  • Bagikan

KABARINDAH.COM – Bertempat di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor-Sumedang, Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Jawa Barat bekerja sama dengan P4TK IPA mengadakan Training of Trainer dan merumuskan konsep pembelajaran IPA dengan pendekatan Qur’anic Socio Science (QS2).

Ketua FGM Jawa Barat, Supala, mengatakan bahwa pendekatan QS2 adalah model baru, yakni bagaimana memberikan pemahaman dan pembelajaran IPA (sains) kepada siswa.

”Nilai nilai ilaahiyyah yang termaktub dalam Alquran (ayat-ayat qauliyyah) dan yang ada di alam semesta (ayat-ayat qauniyyah) haruslah menjadi satu keterpaduan sehingga menghasilkan implementasi Insaniyyah (nilai-nilai kesalehan sosial yang berwawasan semesta),” ungkap Supala, Jumat (22/10/2021).

Baca Juga:  Inilah Cara Makom Albab Bandung Raya dan Priangan, Mempererat Tali Silaturahmi

”Rusaknya alam semesta, baik di daratan maupun di lautan, karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Sudah saatnya kerusakan itu harus dihentikan. Muslim sejati harus mampu menjaga keseimbangan alam. Harus mampu menjaga ekosistem di bumi,” tutur Supala.

Selama dua pekan ini, FGM Jabar dengan 40 peserta yang terdiri atas guru IPA SD/MI SMP/MTs diklat yang berasal dari berbagai daerah akan merumuskan tiga modul dengan model pendekatan QS2.

Pertama, modul (panduan) ajar guru IPA SD/MI dengan pendekatan QS2. Kedua, modul (panduan) ajar guru IPA SMP/MTs dengan pendekatan QS2. Ketiga, panduan untuk melatih para guru IPA SD/MI dengan pendekatan QS2.

Baca Juga:  Dewan Penuntun Hizbul Wathan K.H. Dzamhari dan Dewi Sartika UM Bandung Resmi Dilantik

Diklat ini dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung dari 16 hingga 22 Oktober 2021, terdiri atas 40 guru IPA SD/MI, SMP/MTs (dibagi menjadi dua kelas, masing-masing 20 orang). Gelombang kedua, yakni 22 hingga 28 Oktober 2021 terdiri atas para pakar di bidang Alquran dan sains.

Kepala Pusat P4TK IPA, H. Enang Ahmadi, M.Pd., sangat mengapresiasi kegiatan ini. ”Harapan besarnya tentu selain melahirkan modul pembelajaran dengan paradigma baru, yakni Qur’anic Socio Science, juga lahir para pendidik yang berwawasan tajdid dengan tauhid yang kuat,” ungkapnya.***(S/FA/FK)

  • Bagikan